Pusaran Moshing Malam Jumat

Processed with VSCO with b5 preset

 

“Menyatu dengan seorang/sekelompok musisi adalah ketika seseorang merasa bahwa ia/mereka menciptakan dan memainkan lagu untuk dan hanya untuk dirinya sendiri”,

Alexander Edward Ketaren

 

Waktu SMP, dengan kemeja putih berlengan pendek ditemani celena biru tua yang juga pendek, saya sering bermain musik. Bersama tiga teman satu sekolah, saya membuat band dengan nama Suicide by Shotgun. Band tersebut dipengaruhi dengan punk rock, punk melodic, dan sedikit pop punk. Kiblatnya adalah Greenday dan Superman Is Dead.

Ironisnya, walaupun tiga tahun menyembah dua band tersebut, kami berempat belum sama sekali pernah untuk datang dan menyaksikan baik Greenday maupun SID.

Nuansa nostalgia masa SMP muncul ketika Edo berkicau di Twitter. Ia mengutarakan rasa kangennya mendengarkan lagu SID setiap hari. Kemudian Aryo menyaut dengan memberikan ajakan untuk menonton konsernya. Melihat kesempatan untuk menonton band yang kebetulan jadi pengaruh besar di aliran band saya saat SMP, saya ikut menyaut dalam pembicaraan itu. Akhirnya dari saut-sautan kicauan di Twitter, kamis kemarin saya Aryo dan Edo berangkat nonton SID di Jiexpo Kemayoran.

Sebelum masuk ke dalam venue, kami bertiga mengobrol di parkiran sembari ditemani dengan sebotor anggur. Saat itu saya merasa benar-benar merasa seperti anak punk. Mengobrol ngalor-ngidul, merokok ngemper di pinggir jalan, dan tentu tidak lupa dengan kehadiran anggur merah bersedotan dua di dalam plastik kresek hitam.

Panggung di dalam tidak begitu kecil. Menurut saya cukup besar untuk tiket masuk yang hanya berharga tiga puluh ribu rupiah saja. Luasnya dapat membuat performer di atas melakukan aksi panggung jalan ke sana ke mari. Lengkap juga dengan lampu sorot warna-warni yang menambah kesan megah panggung tersebut.

Kami bertiga datang terlalu cepat. Masih lebih dari satu jam kemudian SID naik ke atas panggung. “Ah, nonton band sebelum SID dulu aja deh, daripada nanti susah maju ke depan”, begitu pikirku.

Kami bertiga menonton Endank Soekamti. Nama band ini familiar sekali di telinga saya. Namun jujur, saya belum pernah mendengar lagu-lagu mereka dengan seksama. Berkat nasehat teman saya yang sudah mendapat gelar Haji dalam urusan pentas musik, saya berdiri di tengah untuk mendengarkan band ini. Karena sesungguhnya, urusan belakangan tahu lagunya atau tidak. Dengar di konser dulu, baru tahu kemudian.

Processed with VSCO with  preset
Siraman air dari selang Damkar tidak mampu menjinakkan liarnya penonton

Rasa-rasanya budaya jogja amat kental saat vokalisnya naik ke atas panggung. Saling menyapa ke penonton, interaksi yang tidak terasa dibuat-buat. Persis seperti saat saya menonton Sheila on 7 waktu SMA dulu. Mungkin itu juga yang membuat penonton-penonton mereka yang jauh datang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan tentu Yogyakarta totalitas dalam menikmati lagu-lagu yang mereka bawakan.

 

Waktu berlalu tanpa pernah menunggu / Gunakan dia dengan bijaksana / Waktu yang hilang tak kan pernah terulang / Janganlah terbuang sia-sia //

Waktu – Endank Soekamti

Karena menonton dari barisan tengah, saya dapat melihat mosh pit saat lagu neraka dimainkan. Belasan orang saling berpegang tangan membentuk lingkkaran lalu berputar searah jarum jam. Di tengah pusaran itu belasan orang lainnya saling berdansa membenturkan badan masing-masing ke badan lainnya. Kontak fisik seolah memberikan mereka energi untuk tetap bergerak. Mungkin konsepnya sama dengan pergerakan partikel benda padat saat diberi energi panas.

Dan tak ada air mata yang tersisa semua sirna / Semoga kau di neraka bersamanya / Semua harus kurelakan untuk apa kusesalkan / Putus tiga cintaku tumbuh sejuta //

Semoga Kau Di Neraka – Endank Soekamti

Kami bertiga tetap menjaga jarak dengan pusaran itu. Selain ingin menyimpan tenaga untuk SID, saya pribadi takut dengan crowd seperti itu. Rawan sekali dengan tindak kejahatan. Terlebih sebelumnya saya menyaksikan pencopet yang tertangkap dilempar melewati barikade untuk kemudian diamankan.

Begitu Endank Soekamti selesai bermain dan kerumuman depan panggung sudah berkurang, kami bertiga langsung bergegas menyusup masuk ke depan. Saya dan Aryo kalah cepat dengan Edo. Ia dapat tempat bagus tepat di barikade depan. Sementara kami berada tepat di belakang dia.

IMG_20180107_144610
Bonus yang didapat Edo karena menonton di barisan paling depan

Saat yang ditunggu datang. Stage kosong dan lampu dibuat redup tanda SID akan naik ke atas panggung. Sayup-sayup terdengar suara piano awal lagu Ketika Senja. Penonton berteriak menyambut penampilan yang mereka nanti. Jerinx masuk ke panggung dengan sepeda. Sesaat setelah ia duduk di belakang drum, Eka Rock dan Bobby Kool ikut masuk ke panggung.

Bulan dan Ksatria dikumandangkan setelah lagu Ketika senja selesai. Penonton mulai menunjukkan aksi-aksi mereka. Berdansa, bernyanyi, bermandikan keringat mengikuti tempo cepat hentakan snare drum. Saya terdorong makin ke depan karena orang-orang di belakang merenggangkan barisan untuk membuat mosh pit. Saya memilih berteriak di depan sembari merangkul orang di kiri dan kanan saya. Masih terlalu dini untuk bergabung ke dalam pusaran itu.

 

Tinggi menjulang, menembus peradaban / Melewati waktu melawan pembenaran / Dan kini Bulan menantikan gemilang / Tangis, air matanya tlah hilang //

Bulan dan Ksatria – SID

Lagu demi lagu terus berkumandang. Penonton-penonton di belakang saya seakan tidak merasa lelah terus melakukan gerakan mengikuti irama tempo yang cepat. Malam itu kami dihajar habis-habisan dengan lagu-lagu yang bersemangat.

Petugas pemadam kebakaran terus menembakkan air ke langit, agar tidak ada orang yang pingsan karena kehabisan oksigen. Rambut, baju, celana, dan bahkan isi kantung yang basah sama sekali tidak menjadi alasan untuk memadamkan api semangat kami. Kami muda dan berbahaya!

Selain membawakan lagu-lagu tempo cepat, malam itu SID juga membawakan lagu dengan tempo lambat. Lagu Jadilah Legenda dibuka dengan teriakan barisan belakang penonton yang memerintahkan barisan depan untuk duduk. Memang lagu ini ini lebih khidmat dan khusyuk jika semua penonton duduk. Dilanjutkan dengan lagu Sunset di Tanah Anarki yang masih dengan posisi duduk yang sama. Suara perempuan di lagu itu diisi oleh Endah Widiastuti. Beberapa penonton yang jahil berteriak untuk menyanyikan lagu Liburan Indie. Tentu saja Endah tidak menggubris teriakan tersebut. Malam itu adalah malam milik SID.

Desing peluru tak bertuan / hari-hari yang tak benderang / Setiap detik nyawa ini kupertahankan untukmu / Alasanku ada di sini / dan parasmu yang kurindukan / Di neraka kan kumenangkan / hariku bersamamu //

Sunset di Tanah Anarki – SID

Pusaran moshing malam itu ditutup dengan lagu jika kami bersama. Saya sudah hilang kendali. Bertelanjang dada saya ikut moshing dengan orang-orang di barisan belakang. Seperti terhipnotis oleh musik yang kencang, badan saya bergerak dengan sendirinya. Saya perhatikan orang-orang melakukan body surf tanpa keraguan. Sempat saya terjekut melihat perempuan berhijab ikut melakukan body surf. Ternyata pembungkus di kepala bukan alasan untuk tidak menikmati musik punk.

Processed with VSCO with  preset
Penonton menjelma tanaman yang disiram-siram

Setelah menonton pentas musik saya mampir ke Lucy in The Sky untuk hadir di acara Bayu. Kontras sekali musik di sana, telinga saya sakit dibuatnya. Gerah dengan electronic dance music, saya turun ke bawah. Seraya menunggu Bayu selesai dengan acaranya, saya membunuh waktu dengan merencanakan gigs-gigs musik selanjutnya.

Advertisements

Bagimu kebebasanmu dan bagiku kebebasanku

chain-2027199_960_720

Kemarin siang linimasa Twitter saya dipenuhi oleh caci maki ke sebuah toko coklat daring bernama Chocolicious. Toko tersebut menolak untuk mengirimkan coklat dengan ucapan selamat hari natal di dalamnya. Padahal banyak calon pembeli yang ingin mengirimkan ucapan natal lewat coklat yang dijual di toko tersebut.

Sebuah gambar diunggah ke dalam akun Instagram Chocolicious untuk menjelaskan bahwa mengucapkan natal bertolak belakang dengan kepercayaan agama yang mereka anut. Dengan itikad baik, toko itu menawarkan alternatif berupa kartu ucapan yang akan terlampir di dalam paket. Sehingga konsumen dapat menuliskan sendiri ucapan natal yang ingin mereka kirim.

Pada saat itu, respon dari warganet begitu keras. Hinaan, kecaman, dan bahkan pemboikotan digadang-gadangkan guna memberi sanksi sosial pada Chocolicious. Semua satu suara bahwa tindakan toko tersebut adalah bentuk dari diskriminasi agama, dalam hal ini adalah umat kristiani yang sedang merayakan hari raya natal.

Beberapa orang yang saya ikuti di Twitter mempunyai pendapat lain.

Salah seorang senior saya di FH UI berpendapat bahwa boleh-boleh saja menolak melakukan sesuatu berdasarkan suatu kepercayaan yang dalam hal ini adalah agama. Kebebasan mengekspresikan agama juga menjadi kebebasan yang harus dilindungi dan tidak boleh dikecam jika dijalankan. Orang lain yang saya ikuti berpendapat senada dengan senior saya. Baginya toko tersebut bebas untuk menolak pesanan, sebagaimana konsumen bebas untuk tidak membeli coklat dari toko itu.

Sebagai pengamat, saya perpendapat titik masalah utama dari kejadian ini adalah  kurangnya pemahaman tentang sejauh mana kebebasan dapat bekerja.

Sampai mana orang atau institusi memiliki kebebasan untuk bertindak dan berekspresi? Apakah seseorang boleh bebas menolak untuk melakukan sesuatu jika bertentangan dengan kepercayaan yang ia anut? Apakah seseorang boleh bebas meminta perlakukan yang sama dengan apa yang diterima oleh orang lain? Jika kedua kebebasan itu saling bertemu, kebebasan mana yang terlebih dahulu harus dipenuhi?

Berbicara tentang kebebasan mari kita cari kasus-kasus sejenis yang juga menyinggung masalah kebebasan.

Dalam eksperimen Seattle, peneliti mencoba memetakan bagaimana pengemudi Uber di Seattle melakukan seleksi profil penumpang berdasarkan ras. Pengemudi melakukan pembatalan pesanan jika melihat calon penumpangnya orang kulit hitam. Seleksi ini dilakukan pengemudi berdasarkan nama atau foto calon penumpang. Ini berakibat pada waktu tunggu untuk mendapat pengemudi Uber yang lebih lama bagi orang kulit hitam ketimbang orang kulit putih.

Terdapat dua kebebasan bertabrakan. Kebebasan pengemudi untuk mendapat perasaan aman untuk melayani penumpang yang mereka anggap memberikan rasa aman bagi mereka dan kebebasan orang kulit hitam untuk mendapat perlakukan sama dengan orang kulit putih.

Craig dan Mullins adalah pasangan sejenis yang menikah di Colorado. Mereka memesan kue pernikahan di toko bernama Masterpiece Cakeshop. Namun ketika pemilik toko mengetahui bahwa pemesanan kue dilakukan untuk pernikahan sejenis, pesanan langsung ditolak. Masterpiece Cakeshop beralasan bahwa membuat kue pernikahan untuk pasangan sejenis berarti ikut merayakan pernikahan sesama jenis. Mereka menolak untuk ikut merayakan sesuatu yang bertentangan dengan nilai yang mereka percayai.

Lagi-lagi dua kebebasan bertabrakan. Kebebasan toko kue untuk memilih pelanggan berdasarkan prinip yang dianut dan kebebasan pasangan homoseksual untuk mendapat perlakuan sama dengan pasangan heteroseksual dalam hal pembuatan kue pernikahan.

Menurut saya kebebasan orang atau institusi dalam bertindak dan berekspresi berbatas pada pelanggaran kebebasan orang lain. Setiap orang bebas melakukan apa saja selama kebebasannya tidak mengganggu kebebasan orang lain.

Kebebasan pengemudi Uber dalam memilih calon penumpang berbatas pada kebebasan orang kulit hitam dalam mendapat perlakuan sama dengan orang kulit putih. Pengkategorian orang pemberi rasa aman tidak seharusnya didasari oleh warna kulit. Karena terlepas dari warna kulitnya, semua orang bisa menjadi orang jahat dan memerikan perasaan tidak aman.

Kebebasan Masterpiece Cakeshop dalam memilih pelanggan berbatas pada kebebasan pasangan homoseksual untuk mendapat perlakuan yang sama dengan pasangan heteroseksual. Membuat kue untuk pernikahan sejenis tidak serta merta berarti ikut merayakan pernikahan tersebut. Yang ikut merayakan adalah orang-orang yang ada di pernikahan itu.

Kebebasan Chocolicious dalam mengekspresikan kepercayaan agamanya berbatas pada kebebasan umat kristiani untuk mendapat perlakuan yang sama dengan umat agama lain. Chocolicious tidak memberikan ucapan natal apa-apa. Karena sesungguhnya yang memesan coklat lah yang mengucapkan natal. Sama seperti kue permintaan maaf yang diberikan pria pada wanita. Bukan berarti si penjual kue yang meminta maaf.

Berhenti membeli coklat di Chocolicious bukanlah solusi. Karena berhenti membeli berarti membiarkan. Pembiaran atas ketidaksetaraan adalah sebuah dosa. Pembiaran secara terus-menerus adalah pembiasaan. Perilaku diskriminatif tidak boleh dibiasakan. Karena ketika itu menjadi kebiasaan, kita semua akan sampai pada kebinasaan.

Ada Apa Dengan Semester Tujuh?

fhui

 

Terdapat tujuh hari dalam satu minggu. Dalam geografi, terdapat tujuh benua di bumi ini. Ada tujuh dosa mematikan di penjelasan Alkitab. Dalam Islam ada tingkatan neraka, surga, dan langit juga ada tujuh. Lalu ada tujuh nada berbeda dalam satu oktaf nada. Dalam pengetahuan alam, terdapat tujuh benda langit yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Menimbang banyak sekali hal-hal tentang angka tujuh yang belum saya tahu, timbul sebuah pertanyaan di benak saya. Ada apa dengan semester tujuh?

Siang tadi FH UI 2014 melakukan foto angkatan. Mengingat banyak mahasiswa yang akan lulus di akhir semester ini, harus ada sebuah momen yang mengabadikan kebersamaan angkatan secara utuh. Setidaknya ada percobaan untuk mengulang kejadian seluruh angkatan berkumpul seperti saat menjadi mahasiswa baru dulu. Walaupun baik saat menjadi mahasiswa tingkat tahun pertama, maupun terakhir, berkumpul lengkap satu angkatan hanyalah isapan jempol belaka.

Saya tidak ikut berfoto bersama angkatan saya. Ketika foto diambil saya sedang berada di kamar mandi untuk berganti kemeja putih. Pada awalnya saya kesal, tetapi ketika sadar bahwa tidak ada orang yang akan sebegitu memperhatikan foto di atas untuk mencari wajah saya, rasa kesal itu tiba-tiba saja hilang. Lagi pula siapa yang akan mencari wajah orang yang bukan wajahnya sendiri? Satu-satunya wajah yang dicari saat melihat foto ramai-ramai adalah wajah sendiri bukan? Manusia memang makhluk yang egois.

Tanpa mengurangi semagat rasa perpisahan di semester tujuh ini, saya ingin merangkum apa saja yang terjadi di semester yang katanya menjadi semester penuh buku, pesta dan cinta.

Ada Praktek Pengadilan Tata Usaha Negara (Praptun) di semester tujuh. Ini mata kuliah praktek terakhir dari serangkaian mata kuliah praktek hukum di fakultas hukum UI tercinta ini. Mata kuliah di mana setiap orang direpotkan dengan latihan setiap hari yang memakan waktu berjam-jam. Pun waktu terasa lebih habis untuk melakukan perdebatan perkara siapa yang benar dan siapa yang salah, bukan apa yang benar dan apa yang salah. Terlepas dari problematika dan segala racun di dalamnya, saya amat bersyukur atas pengalaman untuk menjalankan simulasi sidang TUN bersama kelompok Praptun saya.

20171126_171213_0259
Kelompok yang lebih banyak dinamika ketimbang subtansi hukum

Ada rutinitas baru di semester tujuh. Selama semester tujuh, setiap hari, sore atau malam, saya berolahraga. Kebiasan ini saya mulai saat liburan semester genap ke ganjil. Saat itu saya hanya mengambil tiga mata kuliah di semester pendek. Merasa bosan dengan keseharian yang monoton karena hanya kelas dua hari dalam seminggu, saya mencari kegiatan yang menyibukkan saya. Awalnya hanya lari pagi setiap hari. Kemudian berkembang menjadi olahraga berat badan tubuh di taman kota dekat rumah saya. Lalu di semester tujuh ini, menjadi olahraga beban di pusat kebugaran dekat indekos saya.

6913494621070
Dibutuhkan percobaan berkali-kali untuk menciptakan foto dengan wajah tidak lelah seperti ini

Ada cinta di semester tujuh. Selama ini cinta menghiasi semester-semester saya sebelumnya. Namun cinta itu hanya sebatas cinta terhadap ibu-bapak, teman, dan orangtua. Semester tujuh ini memiliki kisah cinta yang berbeda. Sebuah pertemuan yang bahkan tidak satu setan pun tahu akan terjadi. Semesta seperti punya rencana tersendiri untuk menggerakkan keajaiban kosmos sehingga mempertemukan dua orang yang seharusnya tidak bertemu. Kedua orang itu bernama Kristin dan Dewa. Berawal dari saling tatap semester lalu di kantin indekos saya dan Ilman. Kemudian bertemu kembali saat konser musik. Lalu mengobrol secara rutin. Akhirnya selama hampir dua tahun saling tahu keberadaan masing-masing, Kristin memberikan warna baru dalam hidup Dewa.

2017-11-05 11.43.47 1
Si baju merah dan belang-belang saat menghadiri 14th Justice Art Music on Stage November lalu

Ada musik di semester tujuh. Sejak semester satu saya ingin sekali punya grup musik. Terakhir saya memiliki grup musik saat masih duduk di kelas dua SMP. Grup musik saya menganut aliran yang memang menjadi aliran populis di kalangan siswa SMP seumuran saya pada tahun 2008, punk. Saat itu saya menjadi pemain gitar. Terlepas dari cara bermain gitar dan suara yang minim, masih teringat jelas perasaan bahagia saya ketika berteriak di atas panggung diiringi ritme punk yang keras. Kebahagiaan ini terulang kembali. Mahasiswa tahun terakhir FH membentuk grup musik untuk tampil saat inaugurasi mahasiswa baru. Masiu dengan cara bermain gitar yang minim, saya merasakan kebahagiaan naik panggung yang sudah sembilan tahun tidak saya rasakan.

DSC00130
Penonton paling partisipatif seantero FH UI yang dipimpin oleh Boeng Edward Ketaren

Ada teman baru di semester tujuh. Berawal dari makan di Sasari karena rasa lapar malam hari setelah olahraga. Saya mengobrol dengan orang-orang yang sebelumnya tidak saya pikir dapat terkoneksi secara intelektual pada saya. Akhirnya mengobrol di Sasari menjadi rutinitas saya bersama mereka. Sebelumnya ini hanya rutinitas saya, Ilman, dan Dewa saja. Perlahan tapi pasti, jumlah anggota obrolan malam di Sasari makin banyak. Sebuah diskusi lintas angkatan yang dilaksanakan lewat jam tengah malam. Semester dua dulu, karena didominasi obrolan kelam kehidupan malam, Ilman mengistilahkan obrolan Sasari sebagai ngedeps (nge-depresi). Sekarang karena obrolan telah menyerempet topik kebahagiaan, Ilman mengganti istilah ngedeps menjadi diskotik (diskusi kopi cantik). Memang dalam hidup harus ada perkembangan.

1507091933668
Foto ini bagus karena diambil oleh Ilman dengan kamera analognya

Menutup buku semester tujuh ini harus disertai dengan doa agar buku semester delapan menghadirkan cerita yang tidak kalah menarik dari buku semester tujuh. Setiap pesta yang ada dapat dijadikan memori baik atau nasehat saat nanti kita sepuh. Lalu setiap cinta yang tercipta bisa menjadi kisah indah pengingat bahwa kita pernah muda.

20171213_171214_0006
Doakan agar abang-abang kantin atas ini jarang terlihat di kampus lagi ya #AKAR

Kehilangan Benda Berharga

kemeja pink

Berbicara benda berharga tidak melulu harus berkaitan pada benda bernilai materiil tinggi. Seperti pendefinisian harga pada umumnya, selain nilai materiil terdapat pula nilai immateriil. Berbeda dengan nilai materiil yang harus selalu diukur dengan nilai konkret mata uang, nilai immateriil dapat ditaksir dengan hal-hal yang tidak berhubungan dengan uang.

Bagi saya, nilai immateriil suatu benda berhubungan dengan sejarah dan kenangan.

Minggu lalu saya kehilangan kemeja lengan panjang berwarna merah muda saya. Kemeja tersebut rusak karena dicuci di penatu. Terdapat noda biru tua di sekitar kerah, lengan, dan sekitar kancing. Melihat pola noda yang terbentuk, saya berasumsi bahwa petugas penatu mencampur kemeja saya dengan jeans berwarna biru sehingga lunturan jeans tertinggal di kemeja saya.

Kemeja saya bukanlah kemeja dengan merk mewah, apalagi memiliki harga yang tinggi. Tidak memiliki nilai materiil yang pantas untuk digelisahkan jika kehilangan. Namun bagi saya kemeja itu memiliki nilai immateriil yang tinggi. Saya mendapat itu sebagai hadiah dari teman-teman saya pada ulang tahun saya yang ke-22. Saking berharganya kemeja itu, selama hampir dua tahun, saya baru empat kali mengenakan kemeja tersebut.

Pertama kali saat wisuda SMA seorang perempuan yang pada bulan April 2016 masih menjadi pacar saya. Kedua saat lebaran di Juni 2017. Ketiga saat menghadiri pernikahan anak dari sahabat Ibu di September 2017. Terakhir, saat sidang Praktik Hukum Tata Usaha Negara di November 2017. Selebihnya kemeja itu hanya terlipat rapih di lemari pakaian.

Momen-momen saya mengenakan kemeja itu menjadi momen yang terpatri dalam ingatan saya. Setiap melihat kemeja itu saya melihat wajah bahagia teman-teman saya saat pertama kali saya ajak makan bersama di rumah saya semester empat lalu. Wajah itu mungkin akan jarang terlihat setelah semester tujuh ini selesai. Kemudian terbayang juga wajah gembira perempuan yang tidak sabar ingin masuk kuliah. Atau susana pernikahan adat yang begitu kekeluargaan. Lalu yang paling saya suka, momen terakhir saya dan teman-teman mengambil mata kuliah praktek hukum bersama.

Kehilangan membuat saya sadar bahwa tidak ada yang abadi. Kemeja yang dijaga dengan hati-hati bisa saja rusak. Teman yang dulu ada tiap hari pada nantinya akan sulit dicari. Pacar yang dicintai setengah mati mungkin saja akan pergi. Momen keluarga saat lebaran dapat lekang oleh kematian. Kebahagiaan pernikahan dapat hilang oleh perceraian. Kemudian yang pasti, birunya seragam hakim sidang TUN akan pudar oleh harunya suasana setelah sidang skripsi.

Kenangan adalah kenangan ketika itu hanya ada di angan. Sejarah adalah sejarah ketika itu sudah menjadi setelah. Mungkin setelah rusak dan hanya ada di angan, nilai kemeja itu semakin saya rasa tinggi.

Mungkin.

Bahasa Emosi

imageedit_4_2599264319

 

Bahasa yang biasa kita pahami adalah huruf  yang dirangkai menjadi suku kata. Kemudian kumpulan suku kata membentuk kata. Lalu terakhir, menjadi sebuah kalimat. Kalimat ini menjadi hal yang kita pelajari sebagai bahasa. Terdapat kalimat berita yang diakhiri dengan tanda titik. Ada juga kalimat tanya yang diakhiri dengan tanda tanya. Yang terakhir sedikit lucu, walaupun diakhiri dengan tanda seru, kalimat itu bukanlah kalimat yang seru. Kita menyebutnya sebagai kalimat perintah.

Namun saya beranggapan bahasa tidak hanya dapat diekspresikan melalui kalimat.

Baru-baru ini saya menemukan bentuk lain dari bahasa. Obrolan tiba-tiba saya dengan seorang perempuan di kantin fakultas saya menyadarkan saya dengan suatu bahasa baru, bahasa kasih. Tenang, saya tidak akan menulis jauh-jauh dari judul. Bahasa kasih akan saya bahas di tulisan saya selanjutnya. Mari untuk sekarang kita bahas bahasa yang sesuai judul, bahasa yang sejak SMA saya gunakan, bahasa emosi.

Membahas bahasa emosi tidak sesingkat dan sesederhana lagu bahas bahasa milik Barasuara. Namun saya akan coba membuat ini sesederhana mungkin, walau tidak menjadi lebih sederhana.

Bahasa emosi adalah bahasa yang dikeluarkan dari luapan emosi dalam diri. Menjadi paham akan maksud sesuatu adalah tujuan dari bahasa. Bahasa emosi dapat membuat orang paham akan maksud sesuatu. Ada pesan yang dirasa. Ada pesan yang disampaikan. Ada pesan yang diterima. Seperti halnya dengan bahasa dalam teori komunikasi pada umumnya. Berbicara tentang apa yang ingin disampaikan, bagaimana menyampaikannya, dan bagaimana orang menerimanya.

Saat angka satu masih mengawali angka pada umur saya, bahasa emosi yang paling saya suka adalah bahasa marah. Semua orang paham akan maksud marah. Semua sepakat marah identik dengan ketidaksepahaman, permusuhan, atau kebencian. Walaupun datang dengan kata yang berbeda-beda, semua mengerucut pada satu tujuan, yaitu penolakan. Saya suka bentuk bahasa emosi ini karena bentuk ini adalah bentuk paling efektif. Tidak perlu tebak-tebakan buah manggis, semua tersampaikan secara konkret. Hemat dan tepat makna.

Mari kita bandingkan dengan lawan kutub dari bahasa marah, bahasa ramah. Walaupun ejaannya memiliki kemiripan, terjemahan dari ramah berbeda sekali dengan terjemahan marah. Marah bersifat absolut sedangkan ramah bersifat relatif. Saat orang marah, baik dia maupun lawan bicaranya, sama-sama paham bahwa marahnya berarti penolakan. Namun belum tentu ketika orang ramah, baik dia maupun lawan bicaranya, sepakat bahwa ramahnya berarti penerimaan.

Memang benar kata Joko Pinurbo, kelewat paham bisa berakibat hampa.

Karena hampa yang saya rasa baru-baru ini, saya menemukan bahasa emosi baru, bahasa sedih. Bentuk ini adalah bentuk yang unik. Berbeda dengan bahasa pada umumnya, bahasa sedih tidak bertujuan untuk membuat orang lain paham. Satu-satunya orang yang harus paham apa yang disampaikan oleh bahasa ini adalah diri sendiri. Pesan yang dirasa diri sendiri disampaikan memalui kesedihan ke diri sendiri juga. Proses komunikasi ini melahirkan pemahaman atas diri sendiri.

Saya rasa bahasa emosi paling cocok untuk saya adalah bahasa sedih. Sebuah bahasa yang hanya saya yang mengerti. Jika memang tujuan bahasa adalah menyampaikan pesan, maka orang saya ingin ajak bicara adalah diri saya sendiri. Tidak perlu bahasa ini membuat orang lain paham. Toh, kelewat paham juga akan membuat hampa. Tidak ada yang jelek dari bahasa ramah dan marah. Hanya saja saya tidak ingin orang lain ikut berbahasa dalam bahasan yang ingin saya bahas sekarang ini.

Karena buat apa mengerti orang lain, jika mengerti diri sendiri aja belum mampu?

Tentang Kedewasaan

hukum

 

Menjadi mahasiswa hukum mengajarkan saya mendefinisikan kedewasaan bukanlah perkara mudah. Jika dikaji secara yuridis, tolak ukur menjadi dewasa tidaklah mudah. Perlu bermacam-macam peraturan perundang-undangan untuk sekadar mensistesiskan definisi dari kedewasaan.

Mengacu pada pasal 330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dewasa adalah mereka yang sudah berumur 21 tahun atau sudah menikah. Sedangkan jika dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan, usia dewasa untuk menikah adalah 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan. Lantas timbul pertanyaan, definisi mana yang digunakan? Iya, saya tahu ini membingungkan. Saya pun bingung ketika pertama kali mendapat penjelasan tentang usia dewasa ini di kelas Pengantar Hukum Indonesia tiga tahun lalu.

Kebingungan belum berhenti di situ. Karena menurut hukum adat usia dewasa adalah saat ketika seseorang sudah kuat gawe (bekerja). Berbeda dari dua definisi sebelumnya, hukum adat mendalilkan bahwa kedewasaan tidak ditentukan dari umur. Namun dari seberapa mampu seseorang untuk berkontribusi dan menghasilkan sesuatu. Bagi mereka yang sudah bisa menunjukkan nilai guna dirinya dengan cara bekerja, dapat diartikan orang itu sudah masuk kategori dewasa. Benar-benar konsep yang abstrak dan bertentangan dengan ilmu hukum yang konkret. Sulit dimengerti!

Saat ini kita baru membahas definisi kedewasaan dari tiga sudut pandang hukum yang berbeda. Saya belum membedah tentang bagaimana undang-undang lain melihat kedewasaan. Bagaimana cara Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan, Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, atau bahkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia jauh lebih kompleks dibanding tiga sudut pandang yang pertama saya paparkan.

Sungguhpun benar kedewasaan bukanlah perkara mudah.

Di tahun ketiga saya menjadi mahasiswa hukum, saya tidak lagi merasa bingung dengan pendefinisian dewasa ini. Pola berpikir yuridis saya sudah terbentuk oleh tugas kuliah, penjelasan dosen di kelas, dan diskusi kopi cantik di warung dekat kampus. Merasa di atas angin saya pikir saya adalah seorang ahli dalam menentukan aspek kedewasaan.

Namun saya lupa bahwa memiliki kemampuan berpikir yuridis saja tidak cukup. Saya juga harus dapat berpikir sebagai seorang manusia. Berpikir bebas dan tidak terkungkung oleh peraturan perundang-undangan semata. Menganalisis dari berbagai aspek dan bukan sekadar pasal-pasal saja. Menyimpulkan berdasarkan pengamatan dan bukan mengutip penjelasan di belakang undang-undang kita.

Jika berpikir seperti seorang manusia, pribadi kodrati, yang punya akal dan hati. Saya merasa menjadi dewasa adalah ketika saya bisa menerima apa yang dapat diterima. Kemudian bisa menjalani apa yang dapat dijalani. Bersyukur akan apa yang dipunya bukan malah menggerutu atas apa yang tidak. Mengkesampingkan egoisme diri untuk dapat mengerti orang lain. Terus-menerus belajar untuk menerima apa yang diluar kendali diri. Termasuk segala nilai-nilai luhur yang tidak ada satu pun dapat kita temukan dalam peraturan perundang-undangan.

Ah, sekarang saya mengerti dalil yang coba dijelaskan oleh hukum adat.