Mencoba Mengamati Yang Dekat

Kemarin malam saya pergi ke Depok menggunakan angkot. Di dalam sana tidak terlalu penuh. Kursi belakang terisi tujuh orang. Saya dan teman saya, Acus, duduk berhadapan. Di samping kanan saya ada tiga orang bapak-bapak paruh baya. Sedangkan di samping Acus ada ibu dan anaknya.

Saya sedang tidak memegang handphone karena kebetulan teman saya menggunakan handphone saya untuk keperluan memindahkan data. Tidak ada yang saya dapat lakukan untuk membunuh sepi selama perjalanan selain mengamati sekitar.

Saya memang sering mengamati apa yang sedang terjadi di sekitar saya. Intensitas itu menurut ketika saya memegang handphone. Saya secara tidak sadar mengabaikan apa yang terjadi di dekat saya untuk mengetahui apa yang terjadi di tempat lain. Padahal, belum tentu yang terjadi di tempat lain itu lebih menarik dari apa yang terjadi di dekat saya.

Seperti apa yang terjadi sekarang.

Saya melihat seorang ibu yang sangat perhatian dalam mengurus anaknya. Rasa lelah tidak terlihat mengurangi rasa sayangnya pada anak. Walaupun butir-butir keringatnya menetes dari dahi, ibu itu tetap dengan senyum menjawab setiap pertanyaan anaknya.

Saya langsung teringat bahwa dulu sering sekali dibawa berpergian oleh ibu saya dengan angkot. Ibu saya menggandeng tangan saya agar saya terhindar dari bahaya orang berkendara. Menggendong saya ketika lelah berjalan. Tidak lupa juga menjawab pertanyaan rewel saya tentang orang-orang di angkot.

Saya lupa bahwa selama saya berkuliah saya merasa menjadi orang yang hebat. Saya tidak ingat bahwa apa saya sekarang tidak terlepas dari perhatian yang telah diberikan oleh ibu saya sedari saya kecil. Sesaat setelah mengamati apa yang dilakukan itu dalam angkot itu ke anaknya saya jadi merasa malu pada diri saya sendiri.

Malam itu, setelah sampai Depok dan turun dari angkot, saya langsung menelpon ibu saya.

Advertisements

Apa Yang Mereka Tidak Bicarakan Ketika Mereka Membicarakan Macet

macet.jpg

 

Semua orang di Jakarta pernah mengalami macet. Siswa saat berangkat ke sekolah, pekerja ketika menuju kantor, atau pedagang bakpao yang entah kenapa selalu ada ketika jalan macet, semua pernah merasakan kemacetan Jakarta. Sebuah konsekuensi hidup di kota metropolitan untuk menghabiskan banyak waktu di jalan saat berpergian dengan jarak tempuh yang pendek.

Dalam kemacetan saya pernah memikirkan satu pertanyaan sederhana. Kenapa jalanan bisa macet? Sayangnya pertanyaan sederhana tersebut tidak datang dengan jawaban yang sederhana juga. Jawaban pertama, berkaitan dengan sebuah teori bernama prisoner’s dillema. Secara garis besar, teori ini menjelaskan tentang kemungkinan seseorang untuk mendapat keuntungan dengan melakukan hal yang merugikan orang lain. Karena dampak dari keputusan yang diambil dari masing-masing individu yang melakukan suatu tergantung dari keputusan yang diambil individu lain.

Sederhananya, orang akan memiliki tendensius untuk menyerobot jalur yang dirasa lancar agar bisa sampai ke tempat tujuan lebih cepat. Idealnya cara tersebut akan memberikan waktu lebih cepat untuk si penyerobot jalur. Namun ini akan berdampak pada penambahan waktu bagi yang diserobot. Sekarang bayangkan jika semua orang ingin sesegera mungkin sampai tujuan. Waktu semua orang akan bertambah karena saling serobot. Jika diam saja maka akan terserobot dan menambah durasi waktu perjalanan. Namun jika ikut menyerobot akan menambah jalan semakin sengkarut. Sebuah kondisi yang dilematis.

Jawaban kedua berkaitan dengan sifat individualistis orang kota yang sudah membudaya. Berbeda dengan masyarakat desa yang hubungannya bersifat mekanik, masyarakat kota memiliki hubungan sosial yang organik. Di mana hubungan antar individu terjadi karena adanya keuntungan timbal balik. Memberikan jalan ke orang lain adalah suatu tindakan yang tidak menguntungkan diri sendiri. Walaupun itu adalah tindakan baik untuk hal yang bersifat komunal, itu bukanlah hal yang populis untuk dilakukan di masyarakat kota. Alih-alih memberikan jalan ke orang lain, lebih baik saling desak-desakan demi kemungkinan untuk sampai di tempat lebih cepat dengan mengorbankan waktu orang lain.

Terlepas dari bagaimana tidak nyamannya kemacetan, beberapa orang menemukan ketenangan saat macet. Macet memberikan waktu lebih yang jarang orang dapat di sela-sela kesibukannya — seperti pengendara motor yang biasanya sibuk mencari celah untuk jalan, dapat kemudian lebih memperhatikan sekitar yang sebelumnya tidak ia amati, Pengendara mobil yang biasanya sibuk untuk melihat jalan, dapat kemudian lebih peka terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Ketenangan ini bahkan bisa didapatkan di bus yang penuh, dimana sebenarnya masing-masing penumpangnya sibuk dengan kesendirianya, namun ketika macet, mereka akan lebih melihat sekeliling.

Macet dapat juga menjadi sarana kita bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang sudah dilakukan selama ini. Apakah sudah menjadi individu yang baik? Apakah sudah menjadi pribadi yang tidak egois. Apakah sudah ikhlas untuk mengkesampingkan kepentingan diri sendiri demi kepentingan komunal. Mungkin kemacetan adalah sebuah teguran kepada manusia yang selalu mencari wajahnya sendiri ketika berfoto ramai-ramai. Teguran bahwa tidak selamanya diri sendiri adalah orang paling penting yang harus didahulukan. Tidak selalu ingin lebih dulu berdampak baik melulu.

Pada akhirnya, kemacetan juga membawa dampak positif. Entah untuk memaksa orang agar bercermin pada tingkah lakunya, atau untuk pedagang bakpao yang ingin mencari rezeki buat keluarganya.

 

 

*) Tulisan ini dimuat di Perfilma Magazine edisi Desember 2016

Paradoks

paradoksJalan menuju rumahku melewati sebuah terowongan panjang
Dindingnya terdapat racauan orang pinggir yang tidak tersuarakan
Setiap pulang aku mendengar teriakan itu menusuk telingaku
Ibu bilang aku harus belajar dari orang seperti itu
Agar ketika dewasa nanti perutku tidak penuh dengan hak orang lain
.
Jalan menuju kantorku melewati sebuah terowongan panjang
Setiap marka jalan tersebar koin yang kupungut dengan pasti
Saat berangkat kerja kuperhatikan agar tidak ada koin yang tertinggal
Atasanku bilang aku harus menjadi orang yang efisien
Agar di hari tuaku kelak aku tidak hidup dalam belenggu kesengkarutan
..
Jalan menuju kuburku melewati sebuah terowongan panjang
Melati yang tertanam mengikuti tiap jengkal langkah kerandaku
Derap langkah keluarga bersaing dengan teriakan penyesalanku
Tuhan bilang bahwa aku adalah apa yang aku lakukan
Sehingga aku bisa terlahir menjadi manusia yang lebih baik

Jalan menuju kelahiranku melewati sebuah terowongan panjang
Tidak berujung
Tanpa batas
Hingga
Saat
Itu