Paradoks

paradoksJalan menuju rumahku melewati sebuah terowongan panjang
Dindingnya terdapat racauan orang pinggir yang tidak tersuarakan
Setiap pulang aku mendengar teriakan itu menusuk telingaku
Ibu bilang aku harus belajar dari orang seperti itu
Agar ketika dewasa nanti perutku tidak penuh dengan hak orang lain
.
Jalan menuju kantorku melewati sebuah terowongan panjang
Setiap marka jalan tersebar koin yang kupungut dengan pasti
Saat berangkat kerja kuperhatikan agar tidak ada koin yang tertinggal
Atasanku bilang aku harus menjadi orang yang efisien
Agar di hari tuaku kelak aku tidak hidup dalam belenggu kesengkarutan
..
Jalan menuju kuburku melewati sebuah terowongan panjang
Melati yang tertanam mengikuti tiap jengkal langkah kerandaku
Derap langkah keluarga bersaing dengan teriakan penyesalanku
Tuhan bilang bahwa aku adalah apa yang aku lakukan
Sehingga aku bisa terlahir menjadi manusia yang lebih baik

Jalan menuju kelahiranku melewati sebuah terowongan panjang
Tidak berujung
Tanpa batas
Hingga
Saat
Itu

Melihat Yang Tidak Terlihat

maxresdefault

 

Kita semua pernah tidak bisa melihat, atau setidaknya, tak mampu melihat dengan jelas. Bayi usia beberapa hari belum memiliki kemampuan mata yang mampu mendeteksi cahaya masuk. Ini berakibat pada kemampuan melihat yang minim. Kemampuan melihat ini berkembang seiring berjalannya waktu. Organ yang perlahan menjadi sempurna membuat mata bayi dapat mendeteksi cahaya secara sempurna sehingga dapat melihat dengan baik.

Fase tidak bisa melihat dengan jelas bukan hanya dialami oleh bayi usia dini. Namun juga dialami oleh manusia dewasa. Kebanyakan mereka yang mengalami penurunan kemampuan melihat diakibatkan oleh otot mata yang tidak lagi fleksibel dalam menjatuhkan cahaya pada titik fokus mata. Bantuan yang bisa diberikan kepada penderita kesulitan melihat ini adalah dengan memakai kacamata. Dengan kacamata manusia yang tadinya kesulitan melihat dapat kembali melihat dengan jelas. Sesuatu yang tadinya tidak ada dapat menjadi ada. Ia dapat melihat yang tadinya ia tidak lihat.

Saya adalah seorang pria yang mengalami dua fase di atas. Waktu bayi dulu, saya yakin saya kesulitan untuk melihat karena perkembangan biologis memang tidak memungkinkan untuk melihat. Saya juga memakai kacamata sejak duduk di bangku sekolah dasar. Semakin lama saya hidup saya menyadari bahwa melihat bukan hanya tentang cahaya yang jatuh di titik fokus atau kemampuan organ untuk mendeteksi cahaya masuk. Melihat adalah sebuah tindak  yang melibatkan logika dan perasaan.

Enam bulan belakangan saya pikir saya sudah melihat dengan baik. Namun beberapa teman saya berpendapat sebaliknya. Mereka bilang ini  bukan karena mata ataupun minus kacamata yang bertambah. Tapi karena saya memilih untuk tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Mereka bilang saya delusional dan radikal. Saya pikir, persetan dengan mereka, saya melihat bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan hati. Buat apa merusak penglihatan dengan hati yang kotor bukan?

Kemudian saya belajar untuk melihat dengan logika. Ketika semua titik-titik itu jelas terhubung dan tidak ada lagi tebak-tebakan buah manggis, saya tau apa yang harus saya lihat. Ternyata melihat yang baik bukan hanya dari hati, tetapi juga dari logika. Karena kadang hati yang jujur akan berbohong untuk keselamatannya. Karena kadang logika yang sempurna akan terlalu jahat untuk diterima. Saya mencoba melihat dengan kedua instrumen dasar itu.

Definisi melihat jadi begitu luas bagi saya. Setiap kebohongan, cerita karangan, atau tingkah tidak biasa juga termasuk objek yang dapat dilihat. Bukan sekadar cahaya yang dipantulkan oleh benda yang tidak menyerap cahaya, atau ilusi optik hasil penggabungan bidang yang kompleks. Dengan logika dan hati akhirnya saya dapat melihat yang tidak terlihat.

 

Senja: Sebuah Pembuktian Bahwa Mahasiswa Hukum Tidak Sekaku Itu

1465111479690.jpg

 

Bermula dari janji yang pernah saya ucapkan kepada salah seorang sahabat saya, Acus, tahun lalu. Saat itu saya tidak bisa menonton ketika ia menjadi salah satu aktor dalam pementasan teater. Sebagai gantinya, saya berjanji saat ia menjabat nanti, saya akan menonton pementasan teater selanjutnya. Saya pikir tidak ada ruginya untuk menonton ini, saya juga bisa memberikan dukungan moral padanya dan dua staff saya, Andreas dan Kimmy, yang juga menjadi bermain dalam teater ini.

Saya masuk ruangan dengan ekspetasi yang sangat kecil. Pementasan teater yang dilakukan mahasiswa Fakultas Hukum tidak mungkin sebegitu hebohnya, bukan? Begitu pikirku.

20160604_211107.jpg
Salah satu adegan yang penuh dengan emosi

Pikiran itu tidak singgah lama di kepalaku. Selama satu jam lebih saya terus-menerus tercenggang dengan penampilan luar biasa oleh masing-masing performer. Mulai dari tarian dengan kreografi yang unik, sampai lagu-lagu orisinil yang sengaja dibuat untuk memainkan emosi dari penonton. Tentu melihat dari gerak tarian kontemporer yang dibawakan, pasti Dirayati Turner berada di belakang semua ini. Selain itu juga saya bisa merasakan sebagian jiwa dari Marlin Agustina dalam musik yang mengiringi pelayaran emosi selama pementasan ini berlangsung.

20160604_212718.jpg
Tim yang bertanggungjawab atas banyaknya tetesan air mata penonton

Bagian favorit saya secara personal adalah komedi dengan budaya. Sebagai pemerhati komedi saya paham betul betapa sulitnya membuat pembicaraan sehari-hari menjadi bahan komedi untuk ditertawakan. Namun tidak untuk tim penyusun cerita Senja, Teater Merah, ia dengan lihai membuat pembicaraan orang jawa, tiongkok, dan batak yang biasanya kaku menjadi menarik dan jenaka sehingga para penonton bisa tertawa bersama mereka.

2016-06-05 02.19.17 1.jpg
Suasana akan berubah khidmat ketika ia datang

Terlepas dari komedi, tarian, dan musik, Senja juga menawarkan cerita yang kaya akan makna dan pesan moral. Senja bercerita bahwa kebahagiaan itu datangnya dari dalam diri sendiri. Bukan dari berapa banyak uang yang dapat bisa dihasilkan seorang suami tetapi dari kebesaran hati seorang istri untuk merasa puas dengan apa yang dimiliki. Selain itu Senja juga mengajarkan bahwa cinta adalah pedang bermata dua bagi manusia. Cinta bisa membuat seorang pria tetap semangat walaupun harinya dipenuhi dengan pekerjaan yang melelahkan. Cinta juga bisa membuat perempuan khilaf dan menyebar fitnah pada pria yang menyelamatkan hidupnya.

20160604_205714.jpg
Bahagia itu bisa berbagi nasi uduk berdua bersama orang yang disayang

Buku, film, dan pementasan teater yang  bagus dapat merubah sekaligus memberikan pandangan baru bagi mereka yang menyaksikannya. Saya merasa menjadi individu yang baru setelah menonton Senja. Saya berusaha untuk tetap menjadi orang baik. Walaupun orang baik tidak selalu menerima perlakuan baik dari sekitarnya, tetapi setidaknya mereka dapat menjadi tauladan bagi yang dekat dengannya.

20160604_212801.jpg
Penonton-penonton yang puas

Mahasiswa hukum dekat sekali dengan stereotype yang kaku, selalu serius, dan bukan tipikal mahasiswa yang bisa menikmati seni. Stereotype yang didapat dari tebalnya kitab perundang-undangan, hafalan mati setiap teori, dan prospek kerja yang kaku. Senja membuktikan bahwa mahasiswa hukum tidak hanya dapat menikmati seni, mereka juga bisa membuat seni. Selain bermain dengan argumentasi mereka juga dapat bermain dengan emosi yang dituangkan dengan perubahan mimik wajah, petikan gitar, suara piano, dan gerakan tubuh. Seni ada di jiwa mereka hingga senja memanggil pulang.

20160604_213301.jpg
Manusia yang ada di depan dan di belakang panggung

 

Alpha Female

10317901-game-of-thrones-saison-6-episode-4-notre-resume-en-images-spoilers

 

Daenerys Targaryen, the First of Her Name, Queen of Meereen, Queen of the Andals and the Rhoynar and the First Men, Lord of the Seven Kingdoms, Protector of the Realm, Khaleesi of the Great Grass Sea, called Daenerys Stormborn, The Unburnt, Breaker of chains, Mother of Dragons.