Mencoba Mengamati Yang Dekat

Kemarin malam saya pergi ke Depok menggunakan angkot. Di dalam sana tidak terlalu penuh. Kursi belakang terisi tujuh orang. Saya dan teman saya, Acus, duduk berhadapan. Di samping kanan saya ada tiga orang bapak-bapak paruh baya. Sedangkan di samping Acus ada ibu dan anaknya.

Saya sedang tidak memegang handphone karena kebetulan teman saya menggunakan handphone saya untuk keperluan memindahkan data. Tidak ada yang saya dapat lakukan untuk membunuh sepi selama perjalanan selain mengamati sekitar.

Saya memang sering mengamati apa yang sedang terjadi di sekitar saya. Intensitas itu menurut ketika saya memegang handphone. Saya secara tidak sadar mengabaikan apa yang terjadi di dekat saya untuk mengetahui apa yang terjadi di tempat lain. Padahal, belum tentu yang terjadi di tempat lain itu lebih menarik dari apa yang terjadi di dekat saya.

Seperti apa yang terjadi sekarang.

Saya melihat seorang ibu yang sangat perhatian dalam mengurus anaknya. Rasa lelah tidak terlihat mengurangi rasa sayangnya pada anak. Walaupun butir-butir keringatnya menetes dari dahi, ibu itu tetap dengan senyum menjawab setiap pertanyaan anaknya.

Saya langsung teringat bahwa dulu sering sekali dibawa berpergian oleh ibu saya dengan angkot. Ibu saya menggandeng tangan saya agar saya terhindar dari bahaya orang berkendara. Menggendong saya ketika lelah berjalan. Tidak lupa juga menjawab pertanyaan rewel saya tentang orang-orang di angkot.

Saya lupa bahwa selama saya berkuliah saya merasa menjadi orang yang hebat. Saya tidak ingat bahwa apa saya sekarang tidak terlepas dari perhatian yang telah diberikan oleh ibu saya sedari saya kecil. Sesaat setelah mengamati apa yang dilakukan itu dalam angkot itu ke anaknya saya jadi merasa malu pada diri saya sendiri.

Malam itu, setelah sampai Depok dan turun dari angkot, saya langsung menelpon ibu saya.

Alpha Female

10317901-game-of-thrones-saison-6-episode-4-notre-resume-en-images-spoilers

 

Daenerys Targaryen, the First of Her Name, Queen of Meereen, Queen of the Andals and the Rhoynar and the First Men, Lord of the Seven Kingdoms, Protector of the Realm, Khaleesi of the Great Grass Sea, called Daenerys Stormborn, The Unburnt, Breaker of chains, Mother of Dragons.

Postingan Setelah Lama Tidak Membuka WordPress

Tidak terasa sudah lebih dari beberapa bulan saya tidak membuka wordpress. Membaca postingan saya yang lama sungguh membuat saya merasa malu. Penulisan yang tidak mengindahkan EYD serta tata bahasa saya yang acak-acakan adalah salah satu faktornya. Mungkin saya pikir ini hanya sebuah tulisan iseng, namun ini justru merefleksikan tingkah laku saya yang sembrono dan tidak peduli dengan hal-hal kecil. Sifat ini harus dibenahi agar kedepannya mata pembaca bisa lebih tenang membaca tulisan saya, dan tentu, saya juga bisa memperbaiki sifat dasar saya yang kurang perduli dengan hal yang terkesan remeh temeh.

Saya juga menangkap kesan ingkar janji dalam diri saya. Terlebih ketika ada salah satu postingan saya yang menyebutkan bahwa saya akan rutin menulis agar dapat meningkatkan kemampuan mengutarakan gagasan saya. Nyatanya sejak postingan itu keluar, saya hanya menulis beberapa tulisan lalu menghilang dan baru sekarang muncul.

Mulai hari ini saya tidak ingin membuat janji yang (mungkin) saya tidak bisa tepati, lebih dari itu saya akan berusaha untuk konsisten dengan apa yang telah saya katakan.

konspirasi kemakmuran

seminggu belakangan ini media begitu ramai dengan aksi vicky prasetyo. mulai dari twitter, infotainment, sampai berita di televisi terus menerus memberitakan kasus vicky ini. seperti yang kita sama-sama tahu, vicky prasetyo adalah tersangka kasus penipuan dan pemalsuan surat berharga. yang menjadi titik perhatian adalah catchphrase yang dia gunakan ketika berbicara di depan kamera.

vicky menggunakan pemilihan kata yang berat tetapi tidak masuk kepada konteks yang dibicarakan. tujuannya adalah agar terlihat intelek. namun ini menjadi kontra produktif karena memakai kata yang berlebihan justru akan membuat yang bersangkutan terlihat bodoh. seperti yang dikutip dari wawancara setelah pertunangannya dengan penyanyi dangdut di sebuah hotel mewah

“di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi, karena basically aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya.”

“Kita belajar, apa ya, harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita enggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan.”

“Dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi, kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga…”

awalnya ini menjadi hiburan yang sangat fresh bagi saya. menertawakan kebodohan orang yang sok pintar, norak, dan tidak memiliki rasa malu karena kebodohannya. tapi kemudian saya berpikir. saya bertanya kepada diri saya sendiri. “emang lu lebih pintar dari dia?”. iya, sulit dipungkiri bahwa kadang saya bertingkah sok tau terhadap sesuatu, kadang juga saya menggunakan bahasa yang kurang pas dengan konteks kalimat. bedanya, porsi kebodohan yang saya keluarkan tidak sebanyak viky. namun bagaimana orang yang kepintarannya jauh di atas saya ketika melihat saya berbicara? pasti saya hanya akan menjadi bahan oloknya.

kejadian ini memaksa saya untuk bercermin. kemudian saya sadar akan sebuah fakta yang menggelitik. saya belum cukur kumis.