Bahasa Emosi

imageedit_4_2599264319

 

Bahasa yang biasa kita pahami adalah huruf  yang dirangkai menjadi suku kata. Kemudian kumpulan suku kata membentuk kata. Lalu terakhir, menjadi sebuah kalimat. Kalimat ini menjadi hal yang kita pelajari sebagai bahasa. Terdapat kalimat berita yang diakhiri dengan tanda titik. Ada juga kalimat tanya yang diakhiri dengan tanda tanya. Yang terakhir sedikit lucu, walaupun diakhiri dengan tanda seru, kalimat itu bukanlah kalimat yang seru. Kita menyebutnya sebagai kalimat perintah.

Namun saya beranggapan bahasa tidak hanya dapat diekspresikan melalui kalimat.

Baru-baru ini saya menemukan bentuk lain dari bahasa. Obrolan tiba-tiba saya dengan seorang perempuan di kantin fakultas saya menyadarkan saya dengan suatu bahasa baru, bahasa kasih. Tenang, saya tidak akan menulis jauh-jauh dari judul. Bahasa kasih akan saya bahas di tulisan saya selanjutnya. Mari untuk sekarang kita bahas bahasa yang sesuai judul, bahasa yang sejak SMA saya gunakan, bahasa emosi.

Membahas bahasa emosi tidak sesingkat dan sesederhana lagu bahas bahasa milik Barasuara. Namun saya akan coba membuat ini sesederhana mungkin, walau tidak menjadi lebih sederhana.

Bahasa emosi adalah bahasa yang dikeluarkan dari luapan emosi dalam diri. Menjadi paham akan maksud sesuatu adalah tujuan dari bahasa. Bahasa emosi dapat membuat orang paham akan maksud sesuatu. Ada pesan yang dirasa. Ada pesan yang disampaikan. Ada pesan yang diterima. Seperti halnya dengan bahasa dalam teori komunikasi pada umumnya. Berbicara tentang apa yang ingin disampaikan, bagaimana menyampaikannya, dan bagaimana orang menerimanya.

Saat angka satu masih mengawali angka pada umur saya, bahasa emosi yang paling saya suka adalah bahasa marah. Semua orang paham akan maksud marah. Semua sepakat marah identik dengan ketidaksepahaman, permusuhan, atau kebencian. Walaupun datang dengan kata yang berbeda-beda, semua mengerucut pada satu tujuan, yaitu penolakan. Saya suka bentuk bahasa emosi ini karena bentuk ini adalah bentuk paling efektif. Tidak perlu tebak-tebakan buah manggis, semua tersampaikan secara konkret. Hemat dan tepat makna.

Mari kita bandingkan dengan lawan kutub dari bahasa marah, bahasa ramah. Walaupun ejaannya memiliki kemiripan, terjemahan dari ramah berbeda sekali dengan terjemahan marah. Marah bersifat absolut sedangkan ramah bersifat relatif. Saat orang marah, baik dia maupun lawan bicaranya, sama-sama paham bahwa marahnya berarti penolakan. Namun belum tentu ketika orang ramah, baik dia maupun lawan bicaranya, sepakat bahwa ramahnya berarti penerimaan.

Memang benar kata Joko Pinurbo, kelewat paham bisa berakibat hampa.

Karena hampa yang saya rasa baru-baru ini, saya menemukan bahasa emosi baru, bahasa sedih. Bentuk ini adalah bentuk yang unik. Berbeda dengan bahasa pada umumnya, bahasa sedih tidak bertujuan untuk membuat orang lain paham. Satu-satunya orang yang harus paham apa yang disampaikan oleh bahasa ini adalah diri sendiri. Pesan yang dirasa diri sendiri disampaikan memalui kesedihan ke diri sendiri juga. Proses komunikasi ini melahirkan pemahaman atas diri sendiri.

Saya rasa bahasa emosi paling cocok untuk saya adalah bahasa sedih. Sebuah bahasa yang hanya saya yang mengerti. Jika memang tujuan bahasa adalah menyampaikan pesan, maka orang saya ingin ajak bicara adalah diri saya sendiri. Tidak perlu bahasa ini membuat orang lain paham. Toh, kelewat paham juga akan membuat hampa. Tidak ada yang jelek dari bahasa ramah dan marah. Hanya saja saya tidak ingin orang lain ikut berbahasa dalam bahasan yang ingin saya bahas sekarang ini.

Karena buat apa mengerti orang lain, jika mengerti diri sendiri aja belum mampu?

Advertisements

Remember Remember The Fifth of November

 

“Voilà! In view, a humble vaudevillian veteran, cast vicariously as both victim and villain by the vicissitudes of Fate. This visage, no mere veneer of vanity, is a vestige of the vox populi, now vacant, vanished. However, this valorous visitation of a by-gone vexation, stands vivified and has vowed to vanquish these venal and virulent vermin vanguarding vice and vouchsafing the violently vicious and voracious violation of volition. The only verdict is vengeance; a vendetta, held as a votive, not in vain, for the value and veracity of such shall one day vindicate the vigilant and the virtuous. Verily, this vichyssoise of verbiage veers most verbose, so let me simply add that it’s my very good honor to meet you and you may call me V.”

Menulis Catatan

boy

 

Paling enggak, sekali dalam hidup, kita harus pernah memulai sesuatu dari nol. Jujur cing, gua bukan manusia super dan juga bukan yang terbaik. Mungkin karena itu, cuma ini suatu pertama dari nol yang bisa gua buat. Bikin coretan di halaman putih, dalam bentuk catatan tentang kepingan hidup.

Nama gua Boy dan ini catatan gua.

 

 

ps: diambil dari narasi film “Catatan Harian Si Boy”

Mencoba Mengamati Yang Dekat

Kemarin malam saya pergi ke Depok menggunakan angkot. Di dalam sana tidak terlalu penuh. Kursi belakang terisi tujuh orang. Saya dan teman saya, Acus, duduk berhadapan. Di samping kanan saya ada tiga orang bapak-bapak paruh baya. Sedangkan di samping Acus ada ibu dan anaknya.

Saya sedang tidak memegang handphone karena kebetulan teman saya menggunakan handphone saya untuk keperluan memindahkan data. Tidak ada yang saya dapat lakukan untuk membunuh sepi selama perjalanan selain mengamati sekitar.

Saya memang sering mengamati apa yang sedang terjadi di sekitar saya. Intensitas itu menurut ketika saya memegang handphone. Saya secara tidak sadar mengabaikan apa yang terjadi di dekat saya untuk mengetahui apa yang terjadi di tempat lain. Padahal, belum tentu yang terjadi di tempat lain itu lebih menarik dari apa yang terjadi di dekat saya.

Seperti apa yang terjadi sekarang.

Saya melihat seorang ibu yang sangat perhatian dalam mengurus anaknya. Rasa lelah tidak terlihat mengurangi rasa sayangnya pada anak. Walaupun butir-butir keringatnya menetes dari dahi, ibu itu tetap dengan senyum menjawab setiap pertanyaan anaknya.

Saya langsung teringat bahwa dulu sering sekali dibawa berpergian oleh ibu saya dengan angkot. Ibu saya menggandeng tangan saya agar saya terhindar dari bahaya orang berkendara. Menggendong saya ketika lelah berjalan. Tidak lupa juga menjawab pertanyaan rewel saya tentang orang-orang di angkot.

Saya lupa bahwa selama saya berkuliah saya merasa menjadi orang yang hebat. Saya tidak ingat bahwa apa saya sekarang tidak terlepas dari perhatian yang telah diberikan oleh ibu saya sedari saya kecil. Sesaat setelah mengamati apa yang dilakukan itu dalam angkot itu ke anaknya saya jadi merasa malu pada diri saya sendiri.

Malam itu, setelah sampai Depok dan turun dari angkot, saya langsung menelpon ibu saya.

Alpha Female

10317901-game-of-thrones-saison-6-episode-4-notre-resume-en-images-spoilers

 

Daenerys Targaryen, the First of Her Name, Queen of Meereen, Queen of the Andals and the Rhoynar and the First Men, Lord of the Seven Kingdoms, Protector of the Realm, Khaleesi of the Great Grass Sea, called Daenerys Stormborn, The Unburnt, Breaker of chains, Mother of Dragons.