Panggung Sandiwara

Comedy_and_tragedy_masks_without_background.svg

 

Erving Goffman dalam teorinya yang bernama dramaturgi mengibaratkan kehidupan tidak lebih dari sebuah panggung sandiwara. Terdapat konsep-konsep pentas drama yang berkaitan erat dengan cara manusia bertingkah laku. Konsep paling relevan untuk dikaitkan dengan cara manusia berinteraksi dengan manusia lain adalah konsep pembagian daerah panggung.

Pemain sandiwara menampilkan apa yang ingin penonton lihat di depan panggung. Sama seperti manusia bertingkah seolah-olah ia adalah seorang pribadi yang ia ingin orang lain pikirkan tentangnya. Manusia akan memiliki tendensius untuk bermain peran yang berkepribadian ideal di depan orang lain. Sama seperti pemain sandiwara mendalami karakter yang bukan dirinya di hadapan penonton.

Namun pemain sandiwara tetap menunjukkan karakter aslinya di belakang panggung. Di mana orang-orang yang di sana bukanlah penonton. Orang tersebut adalah individu yang memang mengenal watak asli si pemain. Sama halnya dengan manusia yang berperilaku berbeda kepada orang yang tidak ingin mereka tanamkan pesan. Segelintir orang yang tidak perlu lagi dibuat kagum dengan kepribadian ideal. Dalam praktik dunia nyata, biasanya orang-orang ini adalah teman dekat atau keluarga. Tergantung dari proses sosialisasi yang lebih banyak.

Dewasa ini, dunia tempat kita tinggal perlahan menjelma menjadi sebuah panggung sandiwara. Di mana setiap orang adalah aktor dalam pentasnya masing-masing. Mereka bermain peran untuk membuat orang lain terkesima.

Mungkin itu cukup menjelaskan kenapa masing-masing dari kita hidup dalam kepalsuan perilaku yang dibuat.

Advertisements

Terlalu Banyak Berbicara

IconoColumna2

 

Kita memasuki masa di mana berbicara begitu mudah. Tidak perlu memiliki pokok pikiran yang ingin disampaikan. Sebuah kalimat tanya berisi tidak lebih dari 140 karakter pun bisa mendapat ribuan tanggapan. Bahkan jika pertanyaan tersebut disisipi oleh sebuah foto dengan bagian tubuh terbuka sedikit, tanggapan bisa menjadi puluhan ribu.

Jika berkaca 25 tahun ke belakang, untuk menyampaikan sebuah gagasan konkret sulit sekali. Kita harus mengumpulkan orang dari mulut ke mulut. Kemudian menyediakan tempat untuk melakukan orasi. Tidak lupa juga menyusun rangkaian acara hiburan agar orang yang sudah susah-susah dikumpulkan tidak mudah meninggalkan tempat.

Kemudahan proses ini membuat manusia menganggap remeh seni menyampaikan pendapat. Mereka pikir pendapat adalah pendapat selama itu keluar dari mulut atau mucul dari ketikan ibu jari tangan. Suara pendapat yang dulu memiliki nilai prestise sekarang hanya menjadi bunyi risih dari pengeluh.

Dasar Presiden bodoh antek komunis! Masa calon presiden kita buah zakarnya hanya satu? Bunuh si penista agama! Ujaran kebencian macam itu kerap kita temui di banyak tempat berpendapat mainstream di dunia maya. Ucapan tersebut bukan suara. Itu hanya bunyi tanpa bobot analisis, bukti data, dan rujukan kesimpulan yang jelas.

Voltaire yang rela mati demi mempertahankan hak berbicara orang pun mungkin akan bangkit dari kubur dan mencincang orang-orang persusak seni berpendapat itu.

Saya berusaha tidak menyamaratakan semua orang yang berpendapat. Ada juga orang yang mau berusaha dalam membuat pendapatnya memiliki nilai lebih dari sekadar bunyi. Namun eksistensi orang ini sedikit sekali jumlahnya. Kita butuh lebih banyak orang seperti ini.

Kemudahan berbicara mengalahkan kemudahan dalam membaca. Lebih cepat bagi seseorang untuk melempar komentar dibanding mencaritahu kebenaran suatu topik. Manusia memang hanya mencari mana yang paling mudah saja. Semoga tujuh paragraf yang saya tulis ini tidak membuat saya terlalu banyak biacara.

Cerita Dari Negeri Dongeng

Di negeri dongeng nun jauh di sana terdapat kisah tentang orang yang dibungkam bukan karena berbicara dusta, tetapi kebenaran. Mulutnya bukan hanya sekadar ditutup dengan selotip hitam, tetapi wajahnya juga dimandikan dengan air keras. Ada yang bernasib cukup baik dengan hanya masuk penjara. Setidaknya di dalam sana senjata digunakan untuk melindungi, bukan menyakiti.

Namun bukankah kebenaran hanya sebuah kesepakatan mayoritas?

Doktrin yang banyak adalah yang benar bukan sebuah isapan jempol. Ini terbukti dari konsep demokrasi yang menunjukkan bahwa pemimpin yang dipilih dengan suara terbanyak adalah yang pantas menjabat. Tidak peduli kapasitas si calon, selama berhasil merebut hati pemilih, dia lah yang akan menjabat. Debat tiga putaran yang ditujukan untuk mencari pemimpin kompeten juga hanya berakhir dengan masing-masing calon menjual rayuan yang nyatanya sulit untuk dipertanggungjawabkan. Selama mayoritas sepakat dia memimpin, maka jadilah ia pemimpin.

Apa Yang Mereka Tidak Bicarakan Ketika Mereka Membicarakan Macet

macet.jpg

 

Semua orang di Jakarta pernah mengalami macet. Siswa saat berangkat ke sekolah, pekerja ketika menuju kantor, atau pedagang bakpao yang entah kenapa selalu ada ketika jalan macet, semua pernah merasakan kemacetan Jakarta. Sebuah konsekuensi hidup di kota metropolitan untuk menghabiskan banyak waktu di jalan saat berpergian dengan jarak tempuh yang pendek.

Dalam kemacetan saya pernah memikirkan satu pertanyaan sederhana. Kenapa jalanan bisa macet? Sayangnya pertanyaan sederhana tersebut tidak datang dengan jawaban yang sederhana juga. Jawaban pertama, berkaitan dengan sebuah teori bernama prisoner’s dillema. Secara garis besar, teori ini menjelaskan tentang kemungkinan seseorang untuk mendapat keuntungan dengan melakukan hal yang merugikan orang lain. Karena dampak dari keputusan yang diambil dari masing-masing individu yang melakukan suatu tergantung dari keputusan yang diambil individu lain.

Sederhananya, orang akan memiliki tendensius untuk menyerobot jalur yang dirasa lancar agar bisa sampai ke tempat tujuan lebih cepat. Idealnya cara tersebut akan memberikan waktu lebih cepat untuk si penyerobot jalur. Namun ini akan berdampak pada penambahan waktu bagi yang diserobot. Sekarang bayangkan jika semua orang ingin sesegera mungkin sampai tujuan. Waktu semua orang akan bertambah karena saling serobot. Jika diam saja maka akan terserobot dan menambah durasi waktu perjalanan. Namun jika ikut menyerobot akan menambah jalan semakin sengkarut. Sebuah kondisi yang dilematis.

Jawaban kedua berkaitan dengan sifat individualistis orang kota yang sudah membudaya. Berbeda dengan masyarakat desa yang hubungannya bersifat mekanik, masyarakat kota memiliki hubungan sosial yang organik. Di mana hubungan antar individu terjadi karena adanya keuntungan timbal balik. Memberikan jalan ke orang lain adalah suatu tindakan yang tidak menguntungkan diri sendiri. Walaupun itu adalah tindakan baik untuk hal yang bersifat komunal, itu bukanlah hal yang populis untuk dilakukan di masyarakat kota. Alih-alih memberikan jalan ke orang lain, lebih baik saling desak-desakan demi kemungkinan untuk sampai di tempat lebih cepat dengan mengorbankan waktu orang lain.

Terlepas dari bagaimana tidak nyamannya kemacetan, beberapa orang menemukan ketenangan saat macet. Macet memberikan waktu lebih yang jarang orang dapat di sela-sela kesibukannya — seperti pengendara motor yang biasanya sibuk mencari celah untuk jalan, dapat kemudian lebih memperhatikan sekitar yang sebelumnya tidak ia amati, Pengendara mobil yang biasanya sibuk untuk melihat jalan, dapat kemudian lebih peka terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Ketenangan ini bahkan bisa didapatkan di bus yang penuh, dimana sebenarnya masing-masing penumpangnya sibuk dengan kesendirianya, namun ketika macet, mereka akan lebih melihat sekeliling.

Macet dapat juga menjadi sarana kita bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang sudah dilakukan selama ini. Apakah sudah menjadi individu yang baik? Apakah sudah menjadi pribadi yang tidak egois. Apakah sudah ikhlas untuk mengkesampingkan kepentingan diri sendiri demi kepentingan komunal. Mungkin kemacetan adalah sebuah teguran kepada manusia yang selalu mencari wajahnya sendiri ketika berfoto ramai-ramai. Teguran bahwa tidak selamanya diri sendiri adalah orang paling penting yang harus didahulukan. Tidak selalu ingin lebih dulu berdampak baik melulu.

Pada akhirnya, kemacetan juga membawa dampak positif. Entah untuk memaksa orang agar bercermin pada tingkah lakunya, atau untuk pedagang bakpao yang ingin mencari rezeki buat keluarganya.

 

 

*) Tulisan ini dimuat di Perfilma Magazine edisi Desember 2016

Melihat Yang Tidak Terlihat

maxresdefault

 

Kita semua pernah tidak bisa melihat, atau setidaknya, tak mampu melihat dengan jelas. Bayi usia beberapa hari belum memiliki kemampuan mata yang mampu mendeteksi cahaya masuk. Ini berakibat pada kemampuan melihat yang minim. Kemampuan melihat ini berkembang seiring berjalannya waktu. Organ yang perlahan menjadi sempurna membuat mata bayi dapat mendeteksi cahaya secara sempurna sehingga dapat melihat dengan baik.

Fase tidak bisa melihat dengan jelas bukan hanya dialami oleh bayi usia dini. Namun juga dialami oleh manusia dewasa. Kebanyakan mereka yang mengalami penurunan kemampuan melihat diakibatkan oleh otot mata yang tidak lagi fleksibel dalam menjatuhkan cahaya pada titik fokus mata. Bantuan yang bisa diberikan kepada penderita kesulitan melihat ini adalah dengan memakai kacamata. Dengan kacamata manusia yang tadinya kesulitan melihat dapat kembali melihat dengan jelas. Sesuatu yang tadinya tidak ada dapat menjadi ada. Ia dapat melihat yang tadinya ia tidak lihat.

Saya adalah seorang pria yang mengalami dua fase di atas. Waktu bayi dulu, saya yakin saya kesulitan untuk melihat karena perkembangan biologis memang tidak memungkinkan untuk melihat. Saya juga memakai kacamata sejak duduk di bangku sekolah dasar. Semakin lama saya hidup saya menyadari bahwa melihat bukan hanya tentang cahaya yang jatuh di titik fokus atau kemampuan organ untuk mendeteksi cahaya masuk. Melihat adalah sebuah tindak  yang melibatkan logika dan perasaan.

Enam bulan belakangan saya pikir saya sudah melihat dengan baik. Namun beberapa teman saya berpendapat sebaliknya. Mereka bilang ini  bukan karena mata ataupun minus kacamata yang bertambah. Tapi karena saya memilih untuk tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Mereka bilang saya delusional dan radikal. Saya pikir, persetan dengan mereka, saya melihat bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan hati. Buat apa merusak penglihatan dengan hati yang kotor bukan?

Kemudian saya belajar untuk melihat dengan logika. Ketika semua titik-titik itu jelas terhubung dan tidak ada lagi tebak-tebakan buah manggis, saya tau apa yang harus saya lihat. Ternyata melihat yang baik bukan hanya dari hati, tetapi juga dari logika. Karena kadang hati yang jujur akan berbohong untuk keselamatannya. Karena kadang logika yang sempurna akan terlalu jahat untuk diterima. Saya mencoba melihat dengan kedua instrumen dasar itu.

Definisi melihat jadi begitu luas bagi saya. Setiap kebohongan, cerita karangan, atau tingkah tidak biasa juga termasuk objek yang dapat dilihat. Bukan sekadar cahaya yang dipantulkan oleh benda yang tidak menyerap cahaya, atau ilusi optik hasil penggabungan bidang yang kompleks. Dengan logika dan hati akhirnya saya dapat melihat yang tidak terlihat.

 

Implicit

book-letters-flying-dark-backround

im·plic·it
/imˈplisit/
adjective
.
Implied though not plainly expressed.
.

I adore something that has subliminal message. It’s beyond magnificent. Professional social engineers use this method to solve specific social problems. Advertising agencies use this principle to hypnotize people to buy certain product. Musicians use this approach to express themselves. Here’s one example of my favorite song that contains strong subliminal message.

If

“If a picture paints a thousand words,
Then why can’t I paint you?
The words will never show the you I’ve come to know.

If a face could launch a thousand ships,
Then where am I to go?
There’s no one home but you,
You’re all that’s left me too.

And when my love for life is running dry,
You come and pour yourself on me.

If a man could be two places at one time,
I’d be with you.
Tomorrow and today, beside you all the way.

If the world should stop revolving spinning slowly down to die,
I’d spend the end with you.
And when the world was through,
Then one by one the stars would all go out,

Then you and I would simply fly away”

Bread (1968–73)

Sentimental Reason

o-SMOKING-facebook

 

People smoke for a reason. Some think that smoking makes them look cool. This type of people usually do things based on people’s judgment. Society opinion really matter to them. At some point, their ability to make a choice depends on society perception. Their action is not rooted into expression but acceptance. In contrary to previous example, some people think that smoking is not activity that involve people judgment. They see it as a private activity that should be exercised privately in order to maximize its utility. This people believe that conformity is born with in ourselves, and it’s not created by someone else.

Of course their reason is not universally accepted. It’s only justifiable in their own head. Not only their reason but also their activity, smoking, that is not universally accepted. This concept is similar with concept of a nation. Country’s ideology only valid in their own territory. They can’t force other country to exercise same ideology. Last time it happened, it was World War II. When Germans shoved their ideology to everyone throat.

Although forcing is illegal, they still can seek for alliance. An individual who believe the same idea is needed in order to survive this wild world. Wouldn’t it be nice to appreciate something and do it in the same method with one peculiar person? There is something magical with enjoying something with alliance. It’s beyond imagination. If you ask Hitler how was his feeling when he discussed the plot of WWII with Mussolini, I know he’ll answer the same. Beyond imagination.

It’s beautiful to enjoy something with alliance. If you want to invade the world and make chaos, do it with your partner. If you want to get killed by inject smokes into your lung, do it with your partner. Die with dignity like Hitler and smoker. It’s your choice.

Smoking kills.