Bagimu kebebasanmu dan bagiku kebebasanku

chain-2027199_960_720

Kemarin siang linimasa Twitter saya dipenuhi oleh caci maki ke sebuah toko coklat daring bernama Chocolicious. Toko tersebut menolak untuk mengirimkan coklat dengan ucapan selamat hari natal di dalamnya. Padahal banyak calon pembeli yang ingin mengirimkan ucapan natal lewat coklat yang dijual di toko tersebut.

Sebuah gambar diunggah ke dalam akun Instagram Chocolicious untuk menjelaskan bahwa mengucapkan natal bertolak belakang dengan kepercayaan agama yang mereka anut. Dengan itikad baik, toko itu menawarkan alternatif berupa kartu ucapan yang akan terlampir di dalam paket. Sehingga konsumen dapat menuliskan sendiri ucapan natal yang ingin mereka kirim.

Pada saat itu, respon dari warganet begitu keras. Hinaan, kecaman, dan bahkan pemboikotan digadang-gadangkan guna memberi sanksi sosial pada Chocolicious. Semua satu suara bahwa tindakan toko tersebut adalah bentuk dari diskriminasi agama, dalam hal ini adalah umat kristiani yang sedang merayakan hari raya natal.

Beberapa orang yang saya ikuti di Twitter mempunyai pendapat lain.

Salah seorang senior saya di FH UI berpendapat bahwa boleh-boleh saja menolak melakukan sesuatu berdasarkan suatu kepercayaan yang dalam hal ini adalah agama. Kebebasan mengekspresikan agama juga menjadi kebebasan yang harus dilindungi dan tidak boleh dikecam jika dijalankan. Orang lain yang saya ikuti berpendapat senada dengan senior saya. Baginya toko tersebut bebas untuk menolak pesanan, sebagaimana konsumen bebas untuk tidak membeli coklat dari toko itu.

Sebagai pengamat, saya perpendapat titik masalah utama dari kejadian ini adalah  kurangnya pemahaman tentang sejauh mana kebebasan dapat bekerja.

Sampai mana orang atau institusi memiliki kebebasan untuk bertindak dan berekspresi? Apakah seseorang boleh bebas menolak untuk melakukan sesuatu jika bertentangan dengan kepercayaan yang ia anut? Apakah seseorang boleh bebas meminta perlakukan yang sama dengan apa yang diterima oleh orang lain? Jika kedua kebebasan itu saling bertemu, kebebasan mana yang terlebih dahulu harus dipenuhi?

Berbicara tentang kebebasan mari kita cari kasus-kasus sejenis yang juga menyinggung masalah kebebasan.

Dalam eksperimen Seattle, peneliti mencoba memetakan bagaimana pengemudi Uber di Seattle melakukan seleksi profil penumpang berdasarkan ras. Pengemudi melakukan pembatalan pesanan jika melihat calon penumpangnya orang kulit hitam. Seleksi ini dilakukan pengemudi berdasarkan nama atau foto calon penumpang. Ini berakibat pada waktu tunggu untuk mendapat pengemudi Uber yang lebih lama bagi orang kulit hitam ketimbang orang kulit putih.

Terdapat dua kebebasan bertabrakan. Kebebasan pengemudi untuk mendapat perasaan aman untuk melayani penumpang yang mereka anggap memberikan rasa aman bagi mereka dan kebebasan orang kulit hitam untuk mendapat perlakukan sama dengan orang kulit putih.

Craig dan Mullins adalah pasangan sejenis yang menikah di Colorado. Mereka memesan kue pernikahan di toko bernama Masterpiece Cakeshop. Namun ketika pemilik toko mengetahui bahwa pemesanan kue dilakukan untuk pernikahan sejenis, pesanan langsung ditolak. Masterpiece Cakeshop beralasan bahwa membuat kue pernikahan untuk pasangan sejenis berarti ikut merayakan pernikahan sesama jenis. Mereka menolak untuk ikut merayakan sesuatu yang bertentangan dengan nilai yang mereka percayai.

Lagi-lagi dua kebebasan bertabrakan. Kebebasan toko kue untuk memilih pelanggan berdasarkan prinip yang dianut dan kebebasan pasangan homoseksual untuk mendapat perlakuan sama dengan pasangan heteroseksual dalam hal pembuatan kue pernikahan.

Menurut saya kebebasan orang atau institusi dalam bertindak dan berekspresi berbatas pada pelanggaran kebebasan orang lain. Setiap orang bebas melakukan apa saja selama kebebasannya tidak mengganggu kebebasan orang lain.

Kebebasan pengemudi Uber dalam memilih calon penumpang berbatas pada kebebasan orang kulit hitam dalam mendapat perlakuan sama dengan orang kulit putih. Pengkategorian orang pemberi rasa aman tidak seharusnya didasari oleh warna kulit. Karena terlepas dari warna kulitnya, semua orang bisa menjadi orang jahat dan memerikan perasaan tidak aman.

Kebebasan Masterpiece Cakeshop dalam memilih pelanggan berbatas pada kebebasan pasangan homoseksual untuk mendapat perlakuan yang sama dengan pasangan heteroseksual. Membuat kue untuk pernikahan sejenis tidak serta merta berarti ikut merayakan pernikahan tersebut. Yang ikut merayakan adalah orang-orang yang ada di pernikahan itu.

Kebebasan Chocolicious dalam mengekspresikan kepercayaan agamanya berbatas pada kebebasan umat kristiani untuk mendapat perlakuan yang sama dengan umat agama lain. Chocolicious tidak memberikan ucapan natal apa-apa. Karena sesungguhnya yang memesan coklat lah yang mengucapkan natal. Sama seperti kue permintaan maaf yang diberikan pria pada wanita. Bukan berarti si penjual kue yang meminta maaf.

Berhenti membeli coklat di Chocolicious bukanlah solusi. Karena berhenti membeli berarti membiarkan. Pembiaran atas ketidaksetaraan adalah sebuah dosa. Pembiaran secara terus-menerus adalah pembiasaan. Perilaku diskriminatif tidak boleh dibiasakan. Karena ketika itu menjadi kebiasaan, kita semua akan sampai pada kebinasaan.

Advertisements

Tentang Kedewasaan

hukum

 

Menjadi mahasiswa hukum mengajarkan saya mendefinisikan kedewasaan bukanlah perkara mudah. Jika dikaji secara yuridis, tolak ukur menjadi dewasa tidaklah mudah. Perlu bermacam-macam peraturan perundang-undangan untuk sekadar mensistesiskan definisi dari kedewasaan.

Mengacu pada pasal 330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dewasa adalah mereka yang sudah berumur 21 tahun atau sudah menikah. Sedangkan jika dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan, usia dewasa untuk menikah adalah 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan. Lantas timbul pertanyaan, definisi mana yang digunakan? Iya, saya tahu ini membingungkan. Saya pun bingung ketika pertama kali mendapat penjelasan tentang usia dewasa ini di kelas Pengantar Hukum Indonesia tiga tahun lalu.

Kebingungan belum berhenti di situ. Karena menurut hukum adat usia dewasa adalah saat ketika seseorang sudah kuat gawe (bekerja). Berbeda dari dua definisi sebelumnya, hukum adat mendalilkan bahwa kedewasaan tidak ditentukan dari umur. Namun dari seberapa mampu seseorang untuk berkontribusi dan menghasilkan sesuatu. Bagi mereka yang sudah bisa menunjukkan nilai guna dirinya dengan cara bekerja, dapat diartikan orang itu sudah masuk kategori dewasa. Benar-benar konsep yang abstrak dan bertentangan dengan ilmu hukum yang konkret. Sulit dimengerti!

Saat ini kita baru membahas definisi kedewasaan dari tiga sudut pandang hukum yang berbeda. Saya belum membedah tentang bagaimana undang-undang lain melihat kedewasaan. Bagaimana cara Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan, Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, atau bahkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia jauh lebih kompleks dibanding tiga sudut pandang yang pertama saya paparkan.

Sungguhpun benar kedewasaan bukanlah perkara mudah.

Di tahun ketiga saya menjadi mahasiswa hukum, saya tidak lagi merasa bingung dengan pendefinisian dewasa ini. Pola berpikir yuridis saya sudah terbentuk oleh tugas kuliah, penjelasan dosen di kelas, dan diskusi kopi cantik di warung dekat kampus. Merasa di atas angin saya pikir saya adalah seorang ahli dalam menentukan aspek kedewasaan.

Namun saya lupa bahwa memiliki kemampuan berpikir yuridis saja tidak cukup. Saya juga harus dapat berpikir sebagai seorang manusia. Berpikir bebas dan tidak terkungkung oleh peraturan perundang-undangan semata. Menganalisis dari berbagai aspek dan bukan sekadar pasal-pasal saja. Menyimpulkan berdasarkan pengamatan dan bukan mengutip penjelasan di belakang undang-undang kita.

Jika berpikir seperti seorang manusia, pribadi kodrati, yang punya akal dan hati. Saya merasa menjadi dewasa adalah ketika saya bisa menerima apa yang dapat diterima. Kemudian bisa menjalani apa yang dapat dijalani. Bersyukur akan apa yang dipunya bukan malah menggerutu atas apa yang tidak. Mengkesampingkan egoisme diri untuk dapat mengerti orang lain. Terus-menerus belajar untuk menerima apa yang diluar kendali diri. Termasuk segala nilai-nilai luhur yang tidak ada satu pun dapat kita temukan dalam peraturan perundang-undangan.

Ah, sekarang saya mengerti dalil yang coba dijelaskan oleh hukum adat.

Jatuh Cinta Adalah Jatuh Yang Paling Tidak Enak

Snoopyimage

 

Jatuh dari kursi adalah hal yang biasa. Terpelanting akibat salah duduk atau akibat kaki-kaki kursi yang tidak kokoh sering kali terjadi. Namun bagaimana dengan jatuh cinta?

Tidak semua orang bisa merasakan jatuh cinta. Orang-orang beruntung ini tidak akan merasakan perut mulas saat bertemu orang yang disayang, mata berkunang-kunang ketika melihat dia dari keramaian, atau bibir kelu kaku saat berbicara tatap muka dengan orang spesial.

Sebagian orang yang cukup sial untuk merasakan jatuh cinta bernasib lain. Mereka akan dirundung kecemasan setiap harinya. Mencoba menyelesaikan tebak-tebakan buah manggis tentang perasaan satu sama lain. Berusaha menerjemahkan sandi-sandi rahasia dari ucapan masing-masing pasangan. Serta yang paling sulit, secara konsisten mengerti dan menempatkan diri di posisi lawan argumen.

Waktu kecil aku merasa jatuh dari sepeda cukup membuatku menderita. Luka lecet di lutut menuntutku untuk berjalan dengan pelan agar tidak menimbulkan rasa sakit. Satu minggu terasa seperti satu bulan lamanya. Setelah sembuh, aku berjanji pada diriku sendiri agar tidak lagi kurang berhati-hati dalam bersepeda.

Setelah bertambah umur aku belajar bahwa jatuh cinta jauh lebih perih dibanding jatuh dari sepeda. Jangankan berjalan pelan, untuk bangun dari kasur pun enggan jika suasana hati tidak nyaman. Terlebih lagi, satu hari terasa seperti satu minggu jika menunggu waktu bertemu. Tidak pula hati menjadi lebih berhati-hati.

Terlepas dari semua perih yang aku dapat, entah mengapa, jika disuruh memilih jatuh mana yang paling aku mau.

Aku memilih jatuh cinta denganmu di setiap saat.

Panggung Sandiwara

Comedy_and_tragedy_masks_without_background.svg

 

Erving Goffman dalam teorinya yang bernama dramaturgi mengibaratkan kehidupan tidak lebih dari sebuah panggung sandiwara. Terdapat konsep-konsep pentas drama yang berkaitan erat dengan cara manusia bertingkah laku. Konsep paling relevan untuk dikaitkan dengan cara manusia berinteraksi dengan manusia lain adalah konsep pembagian daerah panggung.

Pemain sandiwara menampilkan apa yang ingin penonton lihat di depan panggung. Sama seperti manusia bertingkah seolah-olah ia adalah seorang pribadi yang ia ingin orang lain pikirkan tentangnya. Manusia akan memiliki tendensius untuk bermain peran yang berkepribadian ideal di depan orang lain. Sama seperti pemain sandiwara mendalami karakter yang bukan dirinya di hadapan penonton.

Namun pemain sandiwara tetap menunjukkan karakter aslinya di belakang panggung. Di mana orang-orang yang di sana bukanlah penonton. Orang tersebut adalah individu yang memang mengenal watak asli si pemain. Sama halnya dengan manusia yang berperilaku berbeda kepada orang yang tidak ingin mereka tanamkan pesan. Segelintir orang yang tidak perlu lagi dibuat kagum dengan kepribadian ideal. Dalam praktik dunia nyata, biasanya orang-orang ini adalah teman dekat atau keluarga. Tergantung dari proses sosialisasi yang lebih banyak.

Dewasa ini, dunia tempat kita tinggal perlahan menjelma menjadi sebuah panggung sandiwara. Di mana setiap orang adalah aktor dalam pentasnya masing-masing. Mereka bermain peran untuk membuat orang lain terkesima.

Mungkin itu cukup menjelaskan kenapa masing-masing dari kita hidup dalam kepalsuan perilaku yang dibuat.

Persepsi Personal

trains

 

Hampir segala perkara di dunia relatif. Semuanya tergantung dengan titik acu.

Sebuah yang kereta berjalan dengan kecepatan 100KM/Jam belum tentu kecepatannya diamini oleh semua pengamat. Pengamat yang melihat dari mobil yang bergerak 50KM/Jam tentu akan berpendapat lain dari pengamat yang melihat dari stasiun yang diam.

Ini dijelaskan oleh teori fisika klasik. Kecepatan adalah relatif terhadap titik acu sedangkan waktu adalah absolut terhadap apapun. Ini menjelaskan fenomena perbedaan kecepatan yang terlihat oleh dua pengamat yang melihat kereta yang sama. Bagi ia yang mengamati dari stasiun, kereta terlihat melaju dengan kecepatan 100KM/Jam. Namun bagi pengamat yang melihat dari mobil, kereta terlihat melaju dengan kecepatan 50KM/Jam.

Tidak ada yang salah, baik pengamat di mobil maupun di stasiun. Mereka sama-sama benar.

Kesalahan muncul ketika mereka saling bertengkar perkara siapa yang paling benar. Bersekukuh bahwa titik acunya yang paling akurat tanpa mau bertukar tempat dan saling mengerti satu sama lain. Mereka lupa bahwa kebenaran tidak akan terungkap jika masing-masing terus teguh dengan pendapat awalnya. Tidak mengerti satu sama lain akan membuat kabut penutup kebenaran makin pekat.

Terlebih lagi mereka lupa bahwa teori relativitas modern Einstein telah menyelesaikan masalah ketidakpahaman mereka akan titik acu.

Terlalu Banyak Berbicara

IconoColumna2

 

Kita memasuki masa di mana berbicara begitu mudah. Tidak perlu memiliki pokok pikiran yang ingin disampaikan. Sebuah kalimat tanya berisi tidak lebih dari 140 karakter pun bisa mendapat ribuan tanggapan. Bahkan jika pertanyaan tersebut disisipi oleh sebuah foto dengan bagian tubuh terbuka sedikit, tanggapan bisa menjadi puluhan ribu.

Jika berkaca 25 tahun ke belakang, untuk menyampaikan sebuah gagasan konkret sulit sekali. Kita harus mengumpulkan orang dari mulut ke mulut. Kemudian menyediakan tempat untuk melakukan orasi. Tidak lupa juga menyusun rangkaian acara hiburan agar orang yang sudah susah-susah dikumpulkan tidak mudah meninggalkan tempat.

Kemudahan proses ini membuat manusia menganggap remeh seni menyampaikan pendapat. Mereka pikir pendapat adalah pendapat selama itu keluar dari mulut atau mucul dari ketikan ibu jari tangan. Suara pendapat yang dulu memiliki nilai prestise sekarang hanya menjadi bunyi risih dari pengeluh.

Dasar Presiden bodoh antek komunis! Masa calon presiden kita buah zakarnya hanya satu? Bunuh si penista agama! Ujaran kebencian macam itu kerap kita temui di banyak tempat berpendapat mainstream di dunia maya. Ucapan tersebut bukan suara. Itu hanya bunyi tanpa bobot analisis, bukti data, dan rujukan kesimpulan yang jelas.

Voltaire yang rela mati demi mempertahankan hak berbicara orang pun mungkin akan bangkit dari kubur dan mencincang orang-orang persusak seni berpendapat itu.

Saya berusaha tidak menyamaratakan semua orang yang berpendapat. Ada juga orang yang mau berusaha dalam membuat pendapatnya memiliki nilai lebih dari sekadar bunyi. Namun eksistensi orang ini sedikit sekali jumlahnya. Kita butuh lebih banyak orang seperti ini.

Kemudahan berbicara mengalahkan kemudahan dalam membaca. Lebih cepat bagi seseorang untuk melempar komentar dibanding mencaritahu kebenaran suatu topik. Manusia memang hanya mencari mana yang paling mudah saja. Semoga tujuh paragraf yang saya tulis ini tidak membuat saya terlalu banyak biacara.

Cerita Dari Negeri Dongeng

Di negeri dongeng nun jauh di sana terdapat kisah tentang orang yang dibungkam bukan karena berbicara dusta, tetapi kebenaran. Mulutnya bukan hanya sekadar ditutup dengan selotip hitam, tetapi wajahnya juga dimandikan dengan air keras. Ada yang bernasib cukup baik dengan hanya masuk penjara. Setidaknya di dalam sana senjata digunakan untuk melindungi, bukan menyakiti.

Namun bukankah kebenaran hanya sebuah kesepakatan mayoritas?

Doktrin yang banyak adalah yang benar bukan sebuah isapan jempol. Ini terbukti dari konsep demokrasi yang menunjukkan bahwa pemimpin yang dipilih dengan suara terbanyak adalah yang pantas menjabat. Tidak peduli kapasitas si calon, selama berhasil merebut hati pemilih, dia lah yang akan menjabat. Debat tiga putaran yang ditujukan untuk mencari pemimpin kompeten juga hanya berakhir dengan masing-masing calon menjual rayuan yang nyatanya sulit untuk dipertanggungjawabkan. Selama mayoritas sepakat dia memimpin, maka jadilah ia pemimpin.