Reasons Why I Hate Nightclubs

maxresdefault

 

A friend of mine invited me to get wasted on a nightclub event. “Goodbye UN, Rob. Banyak cewe SMA.”, he said. I replied it with straight no. “Mager ah.”, I said. I took the invitation ticket for the sake of a good manner as a friend.

I’m not Nabi that opposes every practice which doesn’t in line with religious values. I drink alcohol. Do things that God forbids. I’m a sinner.

When it comes to alcohol, I prefer drinking it on a bar. All boys, getting wasted, full of laughter. Sometimes with good live music where all boys trying to follow the melody with their unsynchronized voice.

Alcohol and nightclub aren’t the perfect matches for me.

Spending the night wasting money just to hear noisy bass-drop music that even has no lyrics or if it has, the lyric just some people say same repetitive shits, is just not my kind of forte. Moreover, that kind of music usually comes with people who dance like they’re under influence of a substance or something. They don’t know what they’re doing.

Ok, enough of my ranting. Now let’s get into the real argument.

If some of you have the privilege of never been to a nightclub, I’ll give you some pictures of it. Nightclubs are often filled with two types of people. They who usually come to it and they who usually don’t. People who usually come to nightclubs are mostly horny men. On contrary, people who don’t are mostly innocent women who have no idea what men can do to her. Both will get drunk and do things. Things I hate. Things I despise. Kissing in public as if kissing just invented yesterday.

Now with those pictures, imagine few conditions below.

Take a closer look at the idea of nightclubs itself. They make policy that gives some advantages to women. If you’re a woman and you want to come early like two hours before midnight, you’ll get a free pass and often free drinks too. Amazing right? It’s a good place for women to hang out!

But here’s the tricky part.

Nightclubs offer them free drinks because they need some spenders. They need some horny men to waste their money on expensive alcohol that its price has been rigged. These horny men only want to spend if there are women around him. I don’t know if it has something to do with their broken masculinity or it’s just an act of ‘proving I can afford it and you can’t’ but that’s what they do.

I hate nightclubs because they use women as a tool to lure men to spend money on drinks. I don’t oppose physical interaction like kissing, making out, or grabbing each other genitals as long as it’s consensual, both parties enjoy and want it. But the thing is, alcohol prevents people from making rational decisions. In many cases, it even prevents people from doing rejections.

Imagining women get caught into a condition where they’re forced to do something against their will is the image I can’t bear. I’ve heard enough of stories where men put moves to make women passed out and do things to her. All of it involves alcohol. Some of it involves drugs. Those stories come from my friends, my colleagues, and my exes.

This fucked up massive scheme ends with guys telling their buddy what happened in a nightclub. To validate their stories, these little bastards often show some pictures when they’re doing it. I repeat. Pictures when they’re doing it. The more they have pictures, the more they will get famous and labeled as a womanizer among their friends.

I don’t want to participate nor contribute to that fucked up massive scheme. I decline to be in the same boat with those bastards. I don’t want to be associated with them.

For me, those type of bastards isn’t a womanizer. Womanizer has manners. They have balls to ask a girl politely and have the dignity to accept rejection. They don’t need mind-altering substance to make girls like them. Full guards on, state of rational thinking, and straight mind doesn’t prevent womanizer to approach girls.

But if being a womanizer means I should go to nightclubs and do all the drills above, I’d rather be an otaku who madly in love with anime character.

Advertisements

Mencintai Seharusnya Tidak Sesulit Itu

n1655901

 

“I told you. I told you that you don’t know this girl well enough. What if you show it to her and she doesn’t like it?”

“Dude, it’s just a movie.”

Marshall and Ted in How I Met Your Mother.

Saat itu Ted sedang berpacaran dengan Stella. Namun ketika mereka berdua sedang merencanakan pernikahan, Ted baru mengetahui bahwa Stella belum pernah menonton Star Wars, film yang mengubah hidup Ted, teman Ted saat titik terendah hidupnya. Percakapan di atas muncul saat Marshall, sahabat Ted, mencoba meyakinkan ted bahwa Stella bukan orang yang tepat.

Beberapa kali, dalam berbagai kesempatan, saya juga pernah hadir dalam pembicaraan yang membahas bahasan seperti yang Marshall dan Ted bahas. Entah dalam posisi Ted, Marshall, atau bahkan Stella.

Perkara hal trivial yang kemudian menjadi besar dengan mengatasnamakan kecocokan menjadi pasangan ini menjadi makin sering saya temui di sekitar saya.

“Dia gasuka baca buku, trus nanti gua mau ngomong apa sama dia?”

“Aduh, selera musik dia basic banget. Cuma ikut-ikutan temennya pula”

“Wah, mahal banget doi gayanya. Kayak trying too hard aja gitu”

Kemudian pertanyaan berselimut pernyataan dengan konotasi merendahkan lainnya.

Jika mengingat kembali cerita masa lalu, baik milik sendiri maupun orang lain. Saya melihat bahwa perkara film, buku, dan musik seharusnya bukan menjadi perkara serius. Terlepas dari seberapa menariknya berdiskusi dan saling berbagi refrensi terkait hal yang disuka, dalam menjalin hubungan emosional tidak melulu harus berbicara sebagai kaum intelektual. Meskipun memang begitu adanya.

Memang indah membuka obrolan dengan hujan pertanyaan tentang buku apa saja yang telah dilahap. Apalagi jika terdapat irisan buku-buku yang disuka. Saling bertukar pendapat tentang paragraf mana yang paling berkesan. Atau bagaimana interpretasi masing-masing terkait semiotika penulisan cerita. Namun apakah setiap hari seorang dengan hubungan kasih sayang akan berbicara tentang itu?

Kita akan berbicara tentang hari masing-masing. Bukan paragraf, tetapi kejadian apa yang paling berkesan. Bukan analisis semiotika penulisan, tetapi interpretasi tentang orang sekitar. Kita akan berinteraksi selayaknya manusia dengan hati.

Memang indah menukarkan refrensi musik-musik dengan genre sejenis. Saling sahut-menyahut bernyanyi saat lagu diputar. Pergi ke konser dengan jajaran pemusik yang sama-sama disuka. Ditutup dengan obrolan perkembangan skena musik band indie Indonesia.

Namun bukankah lebih indah jika kita dapat saling sahut-menyahut tentang kegelisahan masing-masing? Datang ke konser dengan nama musisi yang bahkan sama sekali belum pernah didengar. Mencoba paham musik dengan spektrum yang berbeda. Sebagaimana kita mencoba memahami pribadi selain diri sendiri.

Manusia dibagi dan terdefinisi oleh pikiran dan hati. Pikiran tercermin dari bagaimana seorang manusia terpapar ideologi, informasi, dan karya seni. Sedangkan pribadi tercermin dari bagaimana seorang dapat merasakan simpati, empati, dan belas kasih.

Obrolan penuh nuansa intelek didominasi oleh pikiran seorang manusia. Literatur yang dibaca mempengaruhi bagaimana seseorang merespon topik yang disajikan padanya. Komunikasi terjalin dengan saling melempar pendapat.

Afeksi dan ketulusan didominasi oleh pribadi manusia. Ini karunia pencipta yang ada pada setiap hati manusia. Mereka yang terus menjaga hatinya dapat merasakan apa yang orang lain rasakan. Dapat tulus mendengarkan apa yang disampaikan.

Dalam hubungan, apa yang terjadi tidak terlepas dari pikiran dan hati. Mereka yang beruntung, dapat mendapat pasangan yang memiliki keduanya sama besar.

Jika tidak dapat keduanya sama besar, saya pikir, lebih baik obrolan saya tidak berpikiran dibanding tidak berhati. Saya ingin berbagi kasih dan sayang dengan manusia, bukan dengan mesin logika. Seperti Billy Joel, saya tidak butuh pembicaraan penuh pengetahuan, saya tidak mau kita berusaha sekeras itu.

Mencintai seharusnya sesederhana puisi-puisi Pak Sapardi. Tidak butuh bahasa tinggi untuk membuat pembacanya melayang. Mencintai seharusnya semudah berbuka puasa setelah adzan maghrib. Tidak butuh macam-macam untuk melepas dahaga.

Mencintai seharusnya tidak sesulit itu.

Bagimu kebebasanmu dan bagiku kebebasanku

chain-2027199_960_720

Kemarin siang linimasa Twitter saya dipenuhi oleh caci maki ke sebuah toko coklat daring bernama Chocolicious. Toko tersebut menolak untuk mengirimkan coklat dengan ucapan selamat hari natal di dalamnya. Padahal banyak calon pembeli yang ingin mengirimkan ucapan natal lewat coklat yang dijual di toko tersebut.

Sebuah gambar diunggah ke dalam akun Instagram Chocolicious untuk menjelaskan bahwa mengucapkan natal bertolak belakang dengan kepercayaan agama yang mereka anut. Dengan itikad baik, toko itu menawarkan alternatif berupa kartu ucapan yang akan terlampir di dalam paket. Sehingga konsumen dapat menuliskan sendiri ucapan natal yang ingin mereka kirim.

Pada saat itu, respon dari warganet begitu keras. Hinaan, kecaman, dan bahkan pemboikotan digadang-gadangkan guna memberi sanksi sosial pada Chocolicious. Semua satu suara bahwa tindakan toko tersebut adalah bentuk dari diskriminasi agama, dalam hal ini adalah umat kristiani yang sedang merayakan hari raya natal.

Beberapa orang yang saya ikuti di Twitter mempunyai pendapat lain.

Salah seorang senior saya di FH UI berpendapat bahwa boleh-boleh saja menolak melakukan sesuatu berdasarkan suatu kepercayaan yang dalam hal ini adalah agama. Kebebasan mengekspresikan agama juga menjadi kebebasan yang harus dilindungi dan tidak boleh dikecam jika dijalankan. Orang lain yang saya ikuti berpendapat senada dengan senior saya. Baginya toko tersebut bebas untuk menolak pesanan, sebagaimana konsumen bebas untuk tidak membeli coklat dari toko itu.

Sebagai pengamat, saya perpendapat titik masalah utama dari kejadian ini adalah  kurangnya pemahaman tentang sejauh mana kebebasan dapat bekerja.

Sampai mana orang atau institusi memiliki kebebasan untuk bertindak dan berekspresi? Apakah seseorang boleh bebas menolak untuk melakukan sesuatu jika bertentangan dengan kepercayaan yang ia anut? Apakah seseorang boleh bebas meminta perlakukan yang sama dengan apa yang diterima oleh orang lain? Jika kedua kebebasan itu saling bertemu, kebebasan mana yang terlebih dahulu harus dipenuhi?

Berbicara tentang kebebasan mari kita cari kasus-kasus sejenis yang juga menyinggung masalah kebebasan.

Dalam eksperimen Seattle, peneliti mencoba memetakan bagaimana pengemudi Uber di Seattle melakukan seleksi profil penumpang berdasarkan ras. Pengemudi melakukan pembatalan pesanan jika melihat calon penumpangnya orang kulit hitam. Seleksi ini dilakukan pengemudi berdasarkan nama atau foto calon penumpang. Ini berakibat pada waktu tunggu untuk mendapat pengemudi Uber yang lebih lama bagi orang kulit hitam ketimbang orang kulit putih.

Terdapat dua kebebasan bertabrakan. Kebebasan pengemudi untuk mendapat perasaan aman untuk melayani penumpang yang mereka anggap memberikan rasa aman bagi mereka dan kebebasan orang kulit hitam untuk mendapat perlakukan sama dengan orang kulit putih.

Craig dan Mullins adalah pasangan sejenis yang menikah di Colorado. Mereka memesan kue pernikahan di toko bernama Masterpiece Cakeshop. Namun ketika pemilik toko mengetahui bahwa pemesanan kue dilakukan untuk pernikahan sejenis, pesanan langsung ditolak. Masterpiece Cakeshop beralasan bahwa membuat kue pernikahan untuk pasangan sejenis berarti ikut merayakan pernikahan sesama jenis. Mereka menolak untuk ikut merayakan sesuatu yang bertentangan dengan nilai yang mereka percayai.

Lagi-lagi dua kebebasan bertabrakan. Kebebasan toko kue untuk memilih pelanggan berdasarkan prinip yang dianut dan kebebasan pasangan homoseksual untuk mendapat perlakuan sama dengan pasangan heteroseksual dalam hal pembuatan kue pernikahan.

Menurut saya kebebasan orang atau institusi dalam bertindak dan berekspresi berbatas pada pelanggaran kebebasan orang lain. Setiap orang bebas melakukan apa saja selama kebebasannya tidak mengganggu kebebasan orang lain.

Kebebasan pengemudi Uber dalam memilih calon penumpang berbatas pada kebebasan orang kulit hitam dalam mendapat perlakuan sama dengan orang kulit putih. Pengkategorian orang pemberi rasa aman tidak seharusnya didasari oleh warna kulit. Karena terlepas dari warna kulitnya, semua orang bisa menjadi orang jahat dan memerikan perasaan tidak aman.

Kebebasan Masterpiece Cakeshop dalam memilih pelanggan berbatas pada kebebasan pasangan homoseksual untuk mendapat perlakuan yang sama dengan pasangan heteroseksual. Membuat kue untuk pernikahan sejenis tidak serta merta berarti ikut merayakan pernikahan tersebut. Yang ikut merayakan adalah orang-orang yang ada di pernikahan itu.

Kebebasan Chocolicious dalam mengekspresikan kepercayaan agamanya berbatas pada kebebasan umat kristiani untuk mendapat perlakuan yang sama dengan umat agama lain. Chocolicious tidak memberikan ucapan natal apa-apa. Karena sesungguhnya yang memesan coklat lah yang mengucapkan natal. Sama seperti kue permintaan maaf yang diberikan pria pada wanita. Bukan berarti si penjual kue yang meminta maaf.

Berhenti membeli coklat di Chocolicious bukanlah solusi. Karena berhenti membeli berarti membiarkan. Pembiaran atas ketidaksetaraan adalah sebuah dosa. Pembiaran secara terus-menerus adalah pembiasaan. Perilaku diskriminatif tidak boleh dibiasakan. Karena ketika itu menjadi kebiasaan, kita semua akan sampai pada kebinasaan.

Tentang Kedewasaan

hukum

 

Menjadi mahasiswa hukum mengajarkan saya mendefinisikan kedewasaan bukanlah perkara mudah. Jika dikaji secara yuridis, tolak ukur menjadi dewasa tidaklah mudah. Perlu bermacam-macam peraturan perundang-undangan untuk sekadar mensistesiskan definisi dari kedewasaan.

Mengacu pada pasal 330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dewasa adalah mereka yang sudah berumur 21 tahun atau sudah menikah. Sedangkan jika dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan, usia dewasa untuk menikah adalah 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan. Lantas timbul pertanyaan, definisi mana yang digunakan? Iya, saya tahu ini membingungkan. Saya pun bingung ketika pertama kali mendapat penjelasan tentang usia dewasa ini di kelas Pengantar Hukum Indonesia tiga tahun lalu.

Kebingungan belum berhenti di situ. Karena menurut hukum adat usia dewasa adalah saat ketika seseorang sudah kuat gawe (bekerja). Berbeda dari dua definisi sebelumnya, hukum adat mendalilkan bahwa kedewasaan tidak ditentukan dari umur. Namun dari seberapa mampu seseorang untuk berkontribusi dan menghasilkan sesuatu. Bagi mereka yang sudah bisa menunjukkan nilai guna dirinya dengan cara bekerja, dapat diartikan orang itu sudah masuk kategori dewasa. Benar-benar konsep yang abstrak dan bertentangan dengan ilmu hukum yang konkret. Sulit dimengerti!

Saat ini kita baru membahas definisi kedewasaan dari tiga sudut pandang hukum yang berbeda. Saya belum membedah tentang bagaimana undang-undang lain melihat kedewasaan. Bagaimana cara Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan, Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, atau bahkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia jauh lebih kompleks dibanding tiga sudut pandang yang pertama saya paparkan.

Sungguhpun benar kedewasaan bukanlah perkara mudah.

Di tahun ketiga saya menjadi mahasiswa hukum, saya tidak lagi merasa bingung dengan pendefinisian dewasa ini. Pola berpikir yuridis saya sudah terbentuk oleh tugas kuliah, penjelasan dosen di kelas, dan diskusi kopi cantik di warung dekat kampus. Merasa di atas angin saya pikir saya adalah seorang ahli dalam menentukan aspek kedewasaan.

Namun saya lupa bahwa memiliki kemampuan berpikir yuridis saja tidak cukup. Saya juga harus dapat berpikir sebagai seorang manusia. Berpikir bebas dan tidak terkungkung oleh peraturan perundang-undangan semata. Menganalisis dari berbagai aspek dan bukan sekadar pasal-pasal saja. Menyimpulkan berdasarkan pengamatan dan bukan mengutip penjelasan di belakang undang-undang kita.

Jika berpikir seperti seorang manusia, pribadi kodrati, yang punya akal dan hati. Saya merasa menjadi dewasa adalah ketika saya bisa menerima apa yang dapat diterima. Kemudian bisa menjalani apa yang dapat dijalani. Bersyukur akan apa yang dipunya bukan malah menggerutu atas apa yang tidak. Mengkesampingkan egoisme diri untuk dapat mengerti orang lain. Terus-menerus belajar untuk menerima apa yang diluar kendali diri. Termasuk segala nilai-nilai luhur yang tidak ada satu pun dapat kita temukan dalam peraturan perundang-undangan.

Ah, sekarang saya mengerti dalil yang coba dijelaskan oleh hukum adat.

Jatuh Cinta Adalah Jatuh Yang Paling Tidak Enak

Snoopyimage

 

Jatuh dari kursi adalah hal yang biasa. Terpelanting akibat salah duduk atau akibat kaki-kaki kursi yang tidak kokoh sering kali terjadi. Namun bagaimana dengan jatuh cinta?

Tidak semua orang bisa merasakan jatuh cinta. Orang-orang beruntung ini tidak akan merasakan perut mulas saat bertemu orang yang disayang, mata berkunang-kunang ketika melihat dia dari keramaian, atau bibir kelu kaku saat berbicara tatap muka dengan orang spesial.

Sebagian orang yang cukup sial untuk merasakan jatuh cinta bernasib lain. Mereka akan dirundung kecemasan setiap harinya. Mencoba menyelesaikan tebak-tebakan buah manggis tentang perasaan satu sama lain. Berusaha menerjemahkan sandi-sandi rahasia dari ucapan masing-masing pasangan. Serta yang paling sulit, secara konsisten mengerti dan menempatkan diri di posisi lawan argumen.

Waktu kecil aku merasa jatuh dari sepeda cukup membuatku menderita. Luka lecet di lutut menuntutku untuk berjalan dengan pelan agar tidak menimbulkan rasa sakit. Satu minggu terasa seperti satu bulan lamanya. Setelah sembuh, aku berjanji pada diriku sendiri agar tidak lagi kurang berhati-hati dalam bersepeda.

Setelah bertambah umur aku belajar bahwa jatuh cinta jauh lebih perih dibanding jatuh dari sepeda. Jangankan berjalan pelan, untuk bangun dari kasur pun enggan jika suasana hati tidak nyaman. Terlebih lagi, satu hari terasa seperti satu minggu jika menunggu waktu bertemu. Tidak pula hati menjadi lebih berhati-hati.

Terlepas dari semua perih yang aku dapat, entah mengapa, jika disuruh memilih jatuh mana yang paling aku mau.

Aku memilih jatuh cinta denganmu di setiap saat.

Panggung Sandiwara

Comedy_and_tragedy_masks_without_background.svg

 

Erving Goffman dalam teorinya yang bernama dramaturgi mengibaratkan kehidupan tidak lebih dari sebuah panggung sandiwara. Terdapat konsep-konsep pentas drama yang berkaitan erat dengan cara manusia bertingkah laku. Konsep paling relevan untuk dikaitkan dengan cara manusia berinteraksi dengan manusia lain adalah konsep pembagian daerah panggung.

Pemain sandiwara menampilkan apa yang ingin penonton lihat di depan panggung. Sama seperti manusia bertingkah seolah-olah ia adalah seorang pribadi yang ia ingin orang lain pikirkan tentangnya. Manusia akan memiliki tendensius untuk bermain peran yang berkepribadian ideal di depan orang lain. Sama seperti pemain sandiwara mendalami karakter yang bukan dirinya di hadapan penonton.

Namun pemain sandiwara tetap menunjukkan karakter aslinya di belakang panggung. Di mana orang-orang yang di sana bukanlah penonton. Orang tersebut adalah individu yang memang mengenal watak asli si pemain. Sama halnya dengan manusia yang berperilaku berbeda kepada orang yang tidak ingin mereka tanamkan pesan. Segelintir orang yang tidak perlu lagi dibuat kagum dengan kepribadian ideal. Dalam praktik dunia nyata, biasanya orang-orang ini adalah teman dekat atau keluarga. Tergantung dari proses sosialisasi yang lebih banyak.

Dewasa ini, dunia tempat kita tinggal perlahan menjelma menjadi sebuah panggung sandiwara. Di mana setiap orang adalah aktor dalam pentasnya masing-masing. Mereka bermain peran untuk membuat orang lain terkesima.

Mungkin itu cukup menjelaskan kenapa masing-masing dari kita hidup dalam kepalsuan perilaku yang dibuat.

Persepsi Personal

trains

 

Hampir segala perkara di dunia relatif. Semuanya tergantung dengan titik acu.

Sebuah yang kereta berjalan dengan kecepatan 100KM/Jam belum tentu kecepatannya diamini oleh semua pengamat. Pengamat yang melihat dari mobil yang bergerak 50KM/Jam tentu akan berpendapat lain dari pengamat yang melihat dari stasiun yang diam.

Ini dijelaskan oleh teori fisika klasik. Kecepatan adalah relatif terhadap titik acu sedangkan waktu adalah absolut terhadap apapun. Ini menjelaskan fenomena perbedaan kecepatan yang terlihat oleh dua pengamat yang melihat kereta yang sama. Bagi ia yang mengamati dari stasiun, kereta terlihat melaju dengan kecepatan 100KM/Jam. Namun bagi pengamat yang melihat dari mobil, kereta terlihat melaju dengan kecepatan 50KM/Jam.

Tidak ada yang salah, baik pengamat di mobil maupun di stasiun. Mereka sama-sama benar.

Kesalahan muncul ketika mereka saling bertengkar perkara siapa yang paling benar. Bersekukuh bahwa titik acunya yang paling akurat tanpa mau bertukar tempat dan saling mengerti satu sama lain. Mereka lupa bahwa kebenaran tidak akan terungkap jika masing-masing terus teguh dengan pendapat awalnya. Tidak mengerti satu sama lain akan membuat kabut penutup kebenaran makin pekat.

Terlebih lagi mereka lupa bahwa teori relativitas modern Einstein telah menyelesaikan masalah ketidakpahaman mereka akan titik acu.