Tentang Kedewasaan

hukum

 

Menjadi mahasiswa hukum mengajarkan saya mendefinisikan kedewasaan bukanlah perkara mudah. Jika dikaji secara yuridis, tolak ukur menjadi dewasa tidaklah mudah. Perlu bermacam-macam peraturan perundang-undangan untuk sekadar mensistesiskan definisi dari kedewasaan.

Mengacu pada pasal 330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dewasa adalah mereka yang sudah berumur 21 tahun atau sudah menikah. Sedangkan jika dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan, usia dewasa untuk menikah adalah 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan. Lantas timbul pertanyaan, definisi mana yang digunakan? Iya, saya tahu ini membingungkan. Saya pun bingung ketika pertama kali mendapat penjelasan tentang usia dewasa ini di kelas Pengantar Hukum Indonesia tiga tahun lalu.

Kebingungan belum berhenti di situ. Karena menurut hukum adat usia dewasa adalah saat ketika seseorang sudah kuat gawe (bekerja). Berbeda dari dua definisi sebelumnya, hukum adat mendalilkan bahwa kedewasaan tidak ditentukan dari umur. Namun dari seberapa mampu seseorang untuk berkontribusi dan menghasilkan sesuatu. Bagi mereka yang sudah bisa menunjukkan nilai guna dirinya dengan cara bekerja, dapat diartikan orang itu sudah masuk kategori dewasa. Benar-benar konsep yang abstrak dan bertentangan dengan ilmu hukum yang konkret. Sulit dimengerti!

Saat ini kita baru membahas definisi kedewasaan dari tiga sudut pandang hukum yang berbeda. Saya belum membedah tentang bagaimana undang-undang lain melihat kedewasaan. Bagaimana cara Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan, Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, atau bahkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia jauh lebih kompleks dibanding tiga sudut pandang yang pertama saya paparkan.

Sungguhpun benar kedewasaan bukanlah perkara mudah.

Di tahun ketiga saya menjadi mahasiswa hukum, saya tidak lagi merasa bingung dengan pendefinisian dewasa ini. Pola berpikir yuridis saya sudah terbentuk oleh tugas kuliah, penjelasan dosen di kelas, dan diskusi kopi cantik di warung dekat kampus. Merasa di atas angin saya pikir saya adalah seorang ahli dalam menentukan aspek kedewasaan.

Namun saya lupa bahwa memiliki kemampuan berpikir yuridis saja tidak cukup. Saya juga harus dapat berpikir sebagai seorang manusia. Berpikir bebas dan tidak terkungkung oleh peraturan perundang-undangan semata. Menganalisis dari berbagai aspek dan bukan sekadar pasal-pasal saja. Menyimpulkan berdasarkan pengamatan dan bukan mengutip penjelasan di belakang undang-undang kita.

Jika berpikir seperti seorang manusia, pribadi kodrati, yang punya akal dan hati. Saya merasa menjadi dewasa adalah ketika saya bisa menerima apa yang dapat diterima. Kemudian bisa menjalani apa yang dapat dijalani. Bersyukur akan apa yang dipunya bukan malah menggerutu atas apa yang tidak. Mengkesampingkan egoisme diri untuk dapat mengerti orang lain. Terus-menerus belajar untuk menerima apa yang diluar kendali diri. Termasuk segala nilai-nilai luhur yang tidak ada satu pun dapat kita temukan dalam peraturan perundang-undangan.

Ah, sekarang saya mengerti dalil yang coba dijelaskan oleh hukum adat.

Advertisements

Jatuh Cinta Adalah Jatuh Yang Paling Tidak Enak

Snoopyimage

 

Jatuh dari kursi adalah hal yang biasa. Terpelanting akibat salah duduk atau akibat kaki-kaki kursi yang tidak kokoh sering kali terjadi. Namun bagaimana dengan jatuh cinta?

Tidak semua orang bisa merasakan jatuh cinta. Orang-orang beruntung ini tidak akan merasakan perut mulas saat bertemu orang yang disayang, mata berkunang-kunang ketika melihat dia dari keramaian, atau bibir kelu kaku saat berbicara tatap muka dengan orang spesial.

Sebagian orang yang cukup sial untuk merasakan jatuh cinta bernasib lain. Mereka akan dirundung kecemasan setiap harinya. Mencoba menyelesaikan tebak-tebakan buah manggis tentang perasaan satu sama lain. Berusaha menerjemahkan sandi-sandi rahasia dari ucapan masing-masing pasangan. Serta yang paling sulit, secara konsisten mengerti dan menempatkan diri di posisi lawan argumen.

Waktu kecil aku merasa jatuh dari sepeda cukup membuatku menderita. Luka lecet di lutut menuntutku untuk berjalan dengan pelan agar tidak menimbulkan rasa sakit. Satu minggu terasa seperti satu bulan lamanya. Setelah sembuh, aku berjanji pada diriku sendiri agar tidak lagi kurang berhati-hati dalam bersepeda.

Setelah bertambah umur aku belajar bahwa jatuh cinta jauh lebih perih dibanding jatuh dari sepeda. Jangankan berjalan pelan, untuk bangun dari kasur pun enggan jika suasana hati tidak nyaman. Terlebih lagi, satu hari terasa seperti satu minggu jika menunggu waktu bertemu. Tidak pula hati menjadi lebih berhati-hati.

Terlepas dari semua perih yang aku dapat, entah mengapa, jika disuruh memilih jatuh mana yang paling aku mau.

Aku memilih jatuh cinta denganmu di setiap saat.

Panggung Sandiwara

Comedy_and_tragedy_masks_without_background.svg

 

Erving Goffman dalam teorinya yang bernama dramaturgi mengibaratkan kehidupan tidak lebih dari sebuah panggung sandiwara. Terdapat konsep-konsep pentas drama yang berkaitan erat dengan cara manusia bertingkah laku. Konsep paling relevan untuk dikaitkan dengan cara manusia berinteraksi dengan manusia lain adalah konsep pembagian daerah panggung.

Pemain sandiwara menampilkan apa yang ingin penonton lihat di depan panggung. Sama seperti manusia bertingkah seolah-olah ia adalah seorang pribadi yang ia ingin orang lain pikirkan tentangnya. Manusia akan memiliki tendensius untuk bermain peran yang berkepribadian ideal di depan orang lain. Sama seperti pemain sandiwara mendalami karakter yang bukan dirinya di hadapan penonton.

Namun pemain sandiwara tetap menunjukkan karakter aslinya di belakang panggung. Di mana orang-orang yang di sana bukanlah penonton. Orang tersebut adalah individu yang memang mengenal watak asli si pemain. Sama halnya dengan manusia yang berperilaku berbeda kepada orang yang tidak ingin mereka tanamkan pesan. Segelintir orang yang tidak perlu lagi dibuat kagum dengan kepribadian ideal. Dalam praktik dunia nyata, biasanya orang-orang ini adalah teman dekat atau keluarga. Tergantung dari proses sosialisasi yang lebih banyak.

Dewasa ini, dunia tempat kita tinggal perlahan menjelma menjadi sebuah panggung sandiwara. Di mana setiap orang adalah aktor dalam pentasnya masing-masing. Mereka bermain peran untuk membuat orang lain terkesima.

Mungkin itu cukup menjelaskan kenapa masing-masing dari kita hidup dalam kepalsuan perilaku yang dibuat.

Persepsi Personal

trains

 

Hampir segala perkara di dunia relatif. Semuanya tergantung dengan titik acu.

Sebuah yang kereta berjalan dengan kecepatan 100KM/Jam belum tentu kecepatannya diamini oleh semua pengamat. Pengamat yang melihat dari mobil yang bergerak 50KM/Jam tentu akan berpendapat lain dari pengamat yang melihat dari stasiun yang diam.

Ini dijelaskan oleh teori fisika klasik. Kecepatan adalah relatif terhadap titik acu sedangkan waktu adalah absolut terhadap apapun. Ini menjelaskan fenomena perbedaan kecepatan yang terlihat oleh dua pengamat yang melihat kereta yang sama. Bagi ia yang mengamati dari stasiun, kereta terlihat melaju dengan kecepatan 100KM/Jam. Namun bagi pengamat yang melihat dari mobil, kereta terlihat melaju dengan kecepatan 50KM/Jam.

Tidak ada yang salah, baik pengamat di mobil maupun di stasiun. Mereka sama-sama benar.

Kesalahan muncul ketika mereka saling bertengkar perkara siapa yang paling benar. Bersekukuh bahwa titik acunya yang paling akurat tanpa mau bertukar tempat dan saling mengerti satu sama lain. Mereka lupa bahwa kebenaran tidak akan terungkap jika masing-masing terus teguh dengan pendapat awalnya. Tidak mengerti satu sama lain akan membuat kabut penutup kebenaran makin pekat.

Terlebih lagi mereka lupa bahwa teori relativitas modern Einstein telah menyelesaikan masalah ketidakpahaman mereka akan titik acu.

Terlalu Banyak Berbicara

IconoColumna2

 

Kita memasuki masa di mana berbicara begitu mudah. Tidak perlu memiliki pokok pikiran yang ingin disampaikan. Sebuah kalimat tanya berisi tidak lebih dari 140 karakter pun bisa mendapat ribuan tanggapan. Bahkan jika pertanyaan tersebut disisipi oleh sebuah foto dengan bagian tubuh terbuka sedikit, tanggapan bisa menjadi puluhan ribu.

Jika berkaca 25 tahun ke belakang, untuk menyampaikan sebuah gagasan konkret sulit sekali. Kita harus mengumpulkan orang dari mulut ke mulut. Kemudian menyediakan tempat untuk melakukan orasi. Tidak lupa juga menyusun rangkaian acara hiburan agar orang yang sudah susah-susah dikumpulkan tidak mudah meninggalkan tempat.

Kemudahan proses ini membuat manusia menganggap remeh seni menyampaikan pendapat. Mereka pikir pendapat adalah pendapat selama itu keluar dari mulut atau mucul dari ketikan ibu jari tangan. Suara pendapat yang dulu memiliki nilai prestise sekarang hanya menjadi bunyi risih dari pengeluh.

Dasar Presiden bodoh antek komunis! Masa calon presiden kita buah zakarnya hanya satu? Bunuh si penista agama! Ujaran kebencian macam itu kerap kita temui di banyak tempat berpendapat mainstream di dunia maya. Ucapan tersebut bukan suara. Itu hanya bunyi tanpa bobot analisis, bukti data, dan rujukan kesimpulan yang jelas.

Voltaire yang rela mati demi mempertahankan hak berbicara orang pun mungkin akan bangkit dari kubur dan mencincang orang-orang persusak seni berpendapat itu.

Saya berusaha tidak menyamaratakan semua orang yang berpendapat. Ada juga orang yang mau berusaha dalam membuat pendapatnya memiliki nilai lebih dari sekadar bunyi. Namun eksistensi orang ini sedikit sekali jumlahnya. Kita butuh lebih banyak orang seperti ini.

Kemudahan berbicara mengalahkan kemudahan dalam membaca. Lebih cepat bagi seseorang untuk melempar komentar dibanding mencaritahu kebenaran suatu topik. Manusia memang hanya mencari mana yang paling mudah saja. Semoga tujuh paragraf yang saya tulis ini tidak membuat saya terlalu banyak biacara.

Cerita Dari Negeri Dongeng

Di negeri dongeng nun jauh di sana terdapat kisah tentang orang yang dibungkam bukan karena berbicara dusta, tetapi kebenaran. Mulutnya bukan hanya sekadar ditutup dengan selotip hitam, tetapi wajahnya juga dimandikan dengan air keras. Ada yang bernasib cukup baik dengan hanya masuk penjara. Setidaknya di dalam sana senjata digunakan untuk melindungi, bukan menyakiti.

Namun bukankah kebenaran hanya sebuah kesepakatan mayoritas?

Doktrin yang banyak adalah yang benar bukan sebuah isapan jempol. Ini terbukti dari konsep demokrasi yang menunjukkan bahwa pemimpin yang dipilih dengan suara terbanyak adalah yang pantas menjabat. Tidak peduli kapasitas si calon, selama berhasil merebut hati pemilih, dia lah yang akan menjabat. Debat tiga putaran yang ditujukan untuk mencari pemimpin kompeten juga hanya berakhir dengan masing-masing calon menjual rayuan yang nyatanya sulit untuk dipertanggungjawabkan. Selama mayoritas sepakat dia memimpin, maka jadilah ia pemimpin.

Apa Yang Mereka Tidak Bicarakan Ketika Mereka Membicarakan Macet

macet.jpg

 

Semua orang di Jakarta pernah mengalami macet. Siswa saat berangkat ke sekolah, pekerja ketika menuju kantor, atau pedagang bakpao yang entah kenapa selalu ada ketika jalan macet, semua pernah merasakan kemacetan Jakarta. Sebuah konsekuensi hidup di kota metropolitan untuk menghabiskan banyak waktu di jalan saat berpergian dengan jarak tempuh yang pendek.

Dalam kemacetan saya pernah memikirkan satu pertanyaan sederhana. Kenapa jalanan bisa macet? Sayangnya pertanyaan sederhana tersebut tidak datang dengan jawaban yang sederhana juga. Jawaban pertama, berkaitan dengan sebuah teori bernama prisoner’s dillema. Secara garis besar, teori ini menjelaskan tentang kemungkinan seseorang untuk mendapat keuntungan dengan melakukan hal yang merugikan orang lain. Karena dampak dari keputusan yang diambil dari masing-masing individu yang melakukan suatu tergantung dari keputusan yang diambil individu lain.

Sederhananya, orang akan memiliki tendensius untuk menyerobot jalur yang dirasa lancar agar bisa sampai ke tempat tujuan lebih cepat. Idealnya cara tersebut akan memberikan waktu lebih cepat untuk si penyerobot jalur. Namun ini akan berdampak pada penambahan waktu bagi yang diserobot. Sekarang bayangkan jika semua orang ingin sesegera mungkin sampai tujuan. Waktu semua orang akan bertambah karena saling serobot. Jika diam saja maka akan terserobot dan menambah durasi waktu perjalanan. Namun jika ikut menyerobot akan menambah jalan semakin sengkarut. Sebuah kondisi yang dilematis.

Jawaban kedua berkaitan dengan sifat individualistis orang kota yang sudah membudaya. Berbeda dengan masyarakat desa yang hubungannya bersifat mekanik, masyarakat kota memiliki hubungan sosial yang organik. Di mana hubungan antar individu terjadi karena adanya keuntungan timbal balik. Memberikan jalan ke orang lain adalah suatu tindakan yang tidak menguntungkan diri sendiri. Walaupun itu adalah tindakan baik untuk hal yang bersifat komunal, itu bukanlah hal yang populis untuk dilakukan di masyarakat kota. Alih-alih memberikan jalan ke orang lain, lebih baik saling desak-desakan demi kemungkinan untuk sampai di tempat lebih cepat dengan mengorbankan waktu orang lain.

Terlepas dari bagaimana tidak nyamannya kemacetan, beberapa orang menemukan ketenangan saat macet. Macet memberikan waktu lebih yang jarang orang dapat di sela-sela kesibukannya — seperti pengendara motor yang biasanya sibuk mencari celah untuk jalan, dapat kemudian lebih memperhatikan sekitar yang sebelumnya tidak ia amati, Pengendara mobil yang biasanya sibuk untuk melihat jalan, dapat kemudian lebih peka terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Ketenangan ini bahkan bisa didapatkan di bus yang penuh, dimana sebenarnya masing-masing penumpangnya sibuk dengan kesendirianya, namun ketika macet, mereka akan lebih melihat sekeliling.

Macet dapat juga menjadi sarana kita bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang sudah dilakukan selama ini. Apakah sudah menjadi individu yang baik? Apakah sudah menjadi pribadi yang tidak egois. Apakah sudah ikhlas untuk mengkesampingkan kepentingan diri sendiri demi kepentingan komunal. Mungkin kemacetan adalah sebuah teguran kepada manusia yang selalu mencari wajahnya sendiri ketika berfoto ramai-ramai. Teguran bahwa tidak selamanya diri sendiri adalah orang paling penting yang harus didahulukan. Tidak selalu ingin lebih dulu berdampak baik melulu.

Pada akhirnya, kemacetan juga membawa dampak positif. Entah untuk memaksa orang agar bercermin pada tingkah lakunya, atau untuk pedagang bakpao yang ingin mencari rezeki buat keluarganya.

 

 

*) Tulisan ini dimuat di Perfilma Magazine edisi Desember 2016