Kematian Tidak Pernah Sedingin Ini

cemetry

Sudah beberapa kali aku merasakan kematian.

Puno, anjing yang menjadi hadiah ulang tahunku yang ke-9 mati tiga hari setelah aku berumur sepuluh tahun. Kata bapak ia terkena penyakit paru-paru akut. Mayatnya dibakar, tidak dikubur. Dokter hewan yang menanganinya bilang lebih baik dibakar, agar penyakitnya tidak mewabah. Tidak sampai setahun sejak menjadi bagian dari keluarga kami, Puno berubah menjadi abu.

Aku menangis saat mereka memasukkan Puno ke tempat kremasi.

Kevin, teman sekelas yang menjadi sahabat pertamaku di SMP meninggal sesaat sebelum aku membuka pengumuman penerimaan SMA di kertas koran. Ibuku bilang ia tertabrak kereta ketika hendak menyebrangi rel dengan motor R-X King-nya. Padahal baru saja aku merasa senang akan menggunakan seragam putih abu-abu bersama Kevin. Janji pertemanan sehidup-semati terkubur bersama dengan tubuh Kevin yang tidak berbentuk lagi.

Aku menangis saat mereka menjahit sisa-sisa badan Kevin yang tercecer.

Steven, sahabat sebangku SMA selama tiga tahunku meninggal saat kami akan berangkat untuk mengikuti ujian penerimaan universitas negeri di Jakarta. Pagi itu aku bangun kesiangan. Pesawat yang seharusnya membawaku pergi itu tidak pernah sampai ke Jakarta. Steven dan dua ratus orang di pesawat tersebut tidak pernah sampai ke Jakarta. Yang sampai hanya puluhan berita dengan judul Duka di Jakarta.

Aku menangis saat menonton laporan investigasi penyebab jatuhnya pesawat itu.

Miranda, pacar sembilan tahunku sejak kuliah meninggal saat kami sedang membeli cincin pernikahan. Miranda ada di tempat yang benar di waktu yang salah. Kebetulan lima ekstrimis agama itu memutuskan untuk memporakporandakan sebuah pusat perbelanjaan di waktu yang sama dengan jadwal membeli cincin kami. Miranda meninggal terkena ledakan pelaku bom bunuh diri yang hanya berjarak tiga meter darinya. Beruntung aku sedang membeli hadiah kejutan untuk pernikahan kita nanti.

Aku menangis setiap menatap ukulele berwarna putih yang kubeli untuknya.

Hari ini aku bertemu dengan Puno, Kevin, Steven, dan Miranda. Hari yang kutunggu-tunggu selama tujuh puluh tahun akhirnya datang. Terasa tidak seperti yang orang-orang bicarakan. Rasanya tidak seperti pulang ke rumah atau terhempas angin. Aku tidak merasakan apa-apa selain rasa dingin yang menjalar ke seluruh badan.

Mereka menangis seraya mengantarku ke liang lahat.

Advertisements

Surat Cinta: Untuk Dia yang Tidak Pernah Sadar

surat

 

Halo, namaku Boy.

Kamu tahu Sheila on 7? Lagu pemuja rahasianya tepat sekali dalam mendeskripsikan keadaanku sekarang. Bedanya, aku bukan Adul. Aku juga tidak berteman dengan rapper. Tunggu-tunggu, aku juga tidak memakai topi bolong. Tunggu, intinya aku selalu mengawali hariku dengan mendoakanmu agar kau sehat dan bahagia di sana.

Pertama-tama, agar kamu tidak terkejut membaca surat ini, aku akan menjelaskan alasan kenapa aku jatuh cinta padamu. Namun sebelum itu, DOR!!!! Kaget ga? Hmmm, mungkin trik ini akan bekerja jika kita sedang berbicara secara langsung. Tunggu saja.

Aku jatuh cinta padamu karena jatuh cinta padamu begitu mudah. Semudah kamu menjawab pertanyaan dosen filsafat tentang bagaimana kepastian hukum itu bekerja. Sebaliknya, begitu sulit untuk jatuh cinta padaku. Sesulit membuat kalimat “Hukum saja ada kepastian, trus hubungan kita kapan?” tidak terdengar seperti gombalan abang-abang tukang ojek.

Aku jatuh cinta padamu karena jatuh cinta padamu tidak seperti kotak surat telepon genggam. Kamu hadir sejak nada panggil pertama. Tidak pernah dingin dalam menjawab. “Tunggu setelah nada berikut.”

Aku jatuh cinta padamu karena padamu cinta aku jatuh. Seperti paradoks kata yang saling membenarkan satu sama lain. Sederhananya, kamu adalah manifesto dari ia pintar karena selalu benar dan ia selalu benar karena ia pintar. Rasionalisasi sirkuler, terus berputar-putar. Berputar-putar terus, aku mau.

Aku jatuh cinta padamu karena jatuh cinta padamu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Aku laki-laki. Kamu perempuan. Aku kupu-kupu. Kamu bunga. Aku lebah. Kamu Madu. Aku mau. Kamu malu. Melihat kamu malu, aku jadi malu-maluin. Semoga setelah melihat aku mau, kamu jadi mau-mauin. Tunggu, sepertinya aku terlalu banyak bergaul dengan tukang ojek.

Aku jatuh cinta padamu karena bagiku kamu adalah primadona. Bukan bagi prima donatku. Kamu bukan donat untuk dibagi bersama Prima. Bukan juga donat milikku yang bernama Bagi Prima. Kamu primadonaku seperti kata ‘tunggu’ di setiap paragraf bilangan prima sebelum paragraf ini. Ada di awal kalimat terakhir. Mengawali setiap akhir diriku.

Aku jatuh cinta padamu karena aku kehabisan alasan untuk tidak mencintaimu. Seberapa aku berargumen untuk tidak lagi jatuh. Seberapa aku membidas pembenaran untuk jatuh. Seberapa pun lagu Seberapa Pantas aku putar. Seberapa itu pula aku gagal dan terus jatuh pada konklusi bahwa jatuh cinta padamu adalah jatuh yang pantas.

Aku jatuh cinta padamu karena aku sudah lelah jatuh cinta pada orang yang salah. Entah itu melepas kata sayang pertama pada perempuan yang tidak tahu di mana rimbanya. Atau melepas ciuman pertama pada perempuan yang tidak malu mencium di belakang. Kamu bukan mereka. Kamu orang yang benar.

Aku jatuh cinta padamu karena aku ingin menjadi lebih dari sekadar penikmat senyumanmu. Jujur, aku ingin menjadi pemilik senyum itu. Lebih jujur lagi, Aku ingin menjadi penyebab senyum itu.

Aku jatuh cinta padamu karena sebuah misteri, yang kata Gie, tidak satu setan pun tahu.

Aku jatuh cinta padamu karena asaku putus untuk berharap. Bahwa kelak di masa depan, pada waktu tertentu, kamu sadar akan hadirku.

Aku jatuh cinta padamu karena kamu satu-satunya orang yang sadar bahwa sama seperti surat ini, aku adalah orang yang humoris di awal jumpa tetapi perlahan melankolis di akhir pisah.

Aku harap semua karena yang aku berikan dalam surat ini dapat menjelaskan betapa cinta aku padamu. Karena jika sebelas kata karena tidak mampu menyadarkan jiwa yang keblinger, mau tidak mau, senjata harus berbicara satu bahasa yang lebih tinggi.

Aku mohon jika kamu sudah sadar, entah dari anggur merah, jamur ajaib, atau zat-zat nakal terlarang lainnya, balas surat ini, ya?

 

 

Salam hangat,

 

Boy.

 

 

Mencari Buku Baru

Processed with VSCO with b5 preset

Buku yang  biasa aku tulis sudah lama habis. Setiap minggu aku menulis tiga sampai empat halaman. Tidak aneh jika lembaran bukuku cepat habis. Aku mulai mencari buku baru agar bisa tetap menulis.

Mencari buku tidak semudah yang dibayangkan orang-orang lain. Bagiku mencari buku adalah sebuah  ritual yang sakral. Paduan pribadi yang perfeksionis dan keadaan traumatis masa lalu tentang pilihan buku yang salah membuatku sangat hati-hati dalam mencari buku.

Aku sangat teliti dalam memilih buku. Sampul depannya harus bagus. Tidak perlu indah, yang penting enak dipandang. Karena aku percaya bahwa walau orang pintar tidak menilai buku dari sampulnya, banyak sekali orang tidak pintar di sekitarku. Yah, jujur saja, kadang aku pun tidak selalu pintar.

Lembaran di dalamnya juga tidak kalah penting dibanding dengan sampul depan. Bicara buku yang baik adalah bicara isi yang baik pula. Percuma jika kemasaannya indah tetapi isinya amburadul. Setiap halaman harus bertekstur halus, walaupun akan banyak berintraksi dengan permukaan ujung pensil atau pena yang kasar, dia harus lembut agar karbon pensil atau tinta pena tidak tercecer kemudian mengotori halamannya saat ditulis.

Terlepas dari dua kategori tersebut, bagiku hal paling penting yang harus diperhatikan dalam memilih buku adalah harganya. Jika harus memilih aku bukan pecinta buku murah, tetapi keadaan memaksaku untuk membeli buku dengan harga terjangkau. Jangan  salah, aku adalah laki-laki dengan kemauan yang  tinggi! Aku akan menabung mati-matian untuk mendapat buku yang aku sukai, walau harganya mahal sekalipun. Namun sekarang aku lebih berhati-hati, karena buku dengan harga mahal yang terakhir kukejar tidak bagus-bagus amat. Hanya bagus di awal saja. Setiap lembar yang kutulis seolah terus mengingatkanku bahwa buku ini penuh kebohongan.

Januari lalu aku menemukan buku yang sekiranya cocok untukku ketika berbelanja di salah satu mall di Jakarta. Mayoritas kriteria terpenuhi, beberapa yang lain setidaknya masih bisa dikompromikan. Namun sayang sekali kisah pencarian buku  yang sempurna memang tidak sesederhana itu. Kedua orangtuaku tidak setuju pilihan bukuku.

Ibu dan Ayahku adalah orang yang konservatif dan fanatik terhadap salah satu merk buku. Mereka percaya bahwa buku yang  bagus hanya buku merk Islebec saja. Sejak lahir mereka sudah menggunakan buku ini. Ayah, kakek, kakeknya kakek, sampai ujung pohon keluarga mereka menggunakan buku merk Iselebec. Konon katanya merk Islebec asal Arab ini memproduksi buku sempurna dalam segala aspek, setidaknya itu yang diceritakan turun-temurun di keluarga mereka.

Aku pribadi tidak percaya akan narasi tersebut. Keterbukaan akses informasi dan luasnya pergaulan membuatku banyak mendapat banyak refrensi merk-merk buku yang baik. Aku pun sudah banyak menemukan buku dengan merk selain Islebec yang tidak kalah baik kualitasnya. Aku berkesimpulan bahwa tidak peduli apapun merknya, sebuah buku harus dinilai dengan objektif. Karena kualitas dan merk sering kali tidak representatif.

Namun apa daya aku hidup di keluarga konservatif. Di mana doktrin orangtua adalah yang paling benar, terlebih lagi dalam hal sakral pemilihan buku.

Aku harus mencari buku baru agar kedua orangtuaku setuju. Aku ingin mereka terharu dengan pilihan bukuku. Mereka senang adalah kesenangan juga bagiku. Aku bukan Malin Kundang yang dikutuk jadi batu.

Dua Perspektif

9096c780e63f12745d531f336c7de109.jpg

Seorang pria ingin berlari tetapi ia takut terjatuh

Sudah bosan ia jatuh, terjerembab, hingga terjungkal

Tidak lagi menyesal jika tidak mengambil langkah

Penyesalan hanya ada pada langkah yang diambil

—-

Begitu pikirnya

—-

Seorang wanita ingin terjatuh tetapi takut berlari

Sudah lama ia berlari, meradang, hingga menerjang

Tidak lagi menyesal jika tertinggal langkah

Akan ada yang terjatuh bersamaku lagi nanti

Begitu rasanya

Kamu Milikku Pada Akhirnya

Aku adalah pelabuhan terakhir saat semua orang lupa akan namamu. Pelukanku setia hangatkan malam dinginmu. Kurangkul pelan setiap lekuk tubuh lemahmu. Mari sini sayangku, rebahkan kepalamu pada dada kokohku. Kamu pasti lelah akan pekerjaan, bukan? Denganku tak perlu kau risau akan kesibukan, sudah, kita beristirahat saja.

Rumah kita dihiasi bunga melati dan pohon kamboja. Sungguh harum aromanya. Tidak perlu alagi kamu mencari perfume jutaan rupiah itu. Alam menyediakan yang terbaik untuk kita. Akan aku perkenalkan wangi rumput sore hari padamu, tetapi, hati-hati pada gagak tua berparuh bengkok. Tempo hari ia berteriak menggangguku semedi. Mungkin sore nanti ia datang lagi.

Orang bilang bias cahaya matahari yang mengintip dari daun adalah lukisan milik Tuhan. Perlahan kamu akan percaya itu. Walaupun aku tahu, kepemilikan pribadi tentu bertentangan dengan paham sosialismu. Lagipula aku juga menolak untuk percaya pada sosok khayalan yang maha kuasa di atas sana. Ah, mungkin perlahan kita akan paham dan percaya.

Aku ingat hari saat kamu menjadi milikku. Kamu datang dengan pakaian serba putih. Wajahmu polos tanpa hiasan yang sering kamu pakai sebelum bekerja. Jujur, aku masih tidak mengerti alasan mengapa keluarga yang mengantarmu padaku memakai baju serba hitam. Diriku berteori bahwa mereka ingin kamu berbeda dengan mereka. Padahal, pada akhirnya kita akan sama juga kan?

Ayah dan ibumu meneteskan banyak air mata. Jujur, saat itu aku sungguh hilang arah. Tidak habis pikirku untuk mencari jawaban. Aku tidak pernah melihat senyum setulusmu saat itu. Orang tua macam apa yang menangis melihat anaknya tersenyum bahagia? Senyuman manis tanpa tekanan, cacian, dan beban. Kamu cantik sayangku. Ah, akhirnya, kamu milikku seutuhnya.

Gelisahku

Bukan sebuah masalah jika kamu sulit untuk mengingat namaku. Walaupun setiap kamu meminjam ballpoint saat kelas di hari jumat selalu kuingatkan namaku. Aku tahu kamu membawa ballpoint, tetapi kamu terlalu malas untuk mencarinya. Mungkin tertumpuk di antara kumpulan proposal dan tugas dari organisasimu. Aku rasa semester ini organisasi sudah banyak menyita waktumu, begitu pikirku. Setidaknya itu yang bisa aku ketahui dari proses meminjam ballpoint yang singkat setiap hari jumat.

Sungguh tidak menjadi perhatianku jika senyuman yang kulempar saat makan siang di kantin tidak kamu indahkan. Tentu sulit untuk mengenali wajahku di tengah wajah anak populer lainnya. Aku tidak memakai celana dengan karet di ujungnya. Bukankah itu yang sering mereka gunakan? Lagipula aku juga tidak mempunyai sepatu dengan logo checklist di pinggirnya. Akan lucu sekali jika celana itu dipadukan dengan sepatu kanvas berwarna coklat milikku.

Tidak memberatkan pikiranku jika perfume yang kamu gunakan samar-samar tercium karena pipi kita berdekatan saat sama-sama melihat foto yang baru saja diambil kawan kita. Walaupun hati ini, jika harus jujur, memang tidak kuat akan sesuatu yang mengingatkanku padamu. Sulit tidur karena diganggu bayangmu itu tidak enak tau!

Yang menjadi masalah, perhatian, dan pemberat bagiku adalah aku. Iya, aku yang terlahir seperti ini. Akan jauh lebih mudah mencintaimu jika aku bukan aku. Ayah mengingatkan bahwa hukuman bagiku adalah rajam sampai mati. Bahwa kaumku yang ada di sodom dan gomorrah diazab dengan penyakit selama puluhan tahun sampai peradaban mereka musnah. Ayah, salahkan saat seorang lelaki mencintai lelaki lainnya?

Berlari

images (2)

Berlari dapat membakar kalori, katanya. Alih-alih kalori yang terbakar yang kudapat hanya tubuh hangus ini. Tubuh hangus ini adalah sisa dari diriku yang terbakar, terlebih melihatmu berlari bersamanya. Hangus sampai di tetes darah terakhir, semakin haus aku dibuatnya. Haus aku karena ingin perhatianmu. Haus sehingga ingin kuambil dengan serakah perhatianmu. Namun siapalah diriku ini? Dia yang kau pilih untuk berlari bersama. Disini aku berlari, akibatnya dehidrasiku ingin air perhatianmu. Seperti kata penyair kegemaranmu, aku berlari hingga hilang pedih perih.

Aku terus hangus terbakar. Kobaran api menari-nari di atas tubuhku yang menderita. Bahkan angin yang sejak tadi diam ikut menghujat. Dengan tiupan sepoy-sepoy ia memprovokasi api agar terus menari. Perlahan ia menyentuh tarian api yang menjilat setiap jengkal tubuhku. Hitam legam aku dibuatnya. Perlahan, setiap sentuhan api semakin besar karena sepoy angina, mengubah tubuh hangus ini menjadi abu. Wajahku tersenyum kecut melihat keadaanku, keadaanmu, dan keberadaan dia. Penderitaan ini aku bawa terus berlari hingga angin meniupkan abu terakhirku.

Kamu masih berlari bersamanya, kulihat dari kejauhan. Siluetmu dan dia berlari hilang dari pandanganku. Bayang-bayang kalian kontras dengan sinar yang datang dari arah berlawanan, ditelan garis horison senja di kejauhan. Haruskan aku teruskan lari ini? Apa memang harus kuhadapi kenyataaan ini? Pertanyaan itu lalu perlahan hilang, bersama tiupan angin yang menyapu abu terakhir tubuhku.

Aku benci berlari