Suara dari pojok kamar

pojok kamar

 

Ibuku resah saat selesai sholat shubuh

Katanya ada suara berbisik di siku kamar

Ditengoknya sudut tersebut sambil gelisah

Tergeletak di sana setangkai melati mekar

.

Ayahku kerap meludahi pojok kamar itu

Setelah pulang bekerja setiap malam

Sampai akhirnya ia tidak begitu

Akibat kualat dikutuk masuk makam

.

Adikku sering bermain di pojok kamarku

Tertawa riang seraya menepuk tangan

Bermain papan congklak yang diisi batu

Walaupun sudah ibu katakan jangan

.

Malam ini aku tidur di kasur warna putih

Ada langit kamar dengan bercak coklat

Terpaku di pojok anganku berpikir lirih

Itu tempatku digantung menjadi mayat

Advertisements

Mencari Buku Baru

Processed with VSCO with b5 preset

Buku yang  biasa aku tulis sudah lama habis. Setiap minggu aku menulis tiga sampai empat halaman. Tidak aneh jika lembaran bukuku cepat habis. Aku mulai mencari buku baru agar bisa tetap menulis.

Mencari buku tidak semudah yang dibayangkan orang-orang lain. Bagiku mencari buku adalah sebuah  ritual yang sakral. Paduan pribadi yang perfeksionis dan keadaan traumatis masa lalu tentang pilihan buku yang salah membuatku sangat hati-hati dalam mencari buku.

Aku sangat teliti dalam memilih buku. Sampul depannya harus bagus. Tidak perlu indah, yang penting enak dipandang. Karena aku percaya bahwa walau orang pintar tidak menilai buku dari sampulnya, banyak sekali orang tidak pintar di sekitarku. Yah, jujur saja, kadang aku pun tidak selalu pintar.

Lembaran di dalamnya juga tidak kalah penting dibanding dengan sampul depan. Bicara buku yang baik adalah bicara isi yang baik pula. Percuma jika kemasaannya indah tetapi isinya amburadul. Setiap halaman harus bertekstur halus, walaupun akan banyak berintraksi dengan permukaan ujung pensil atau pena yang kasar, dia harus lembut agar karbon pensil atau tinta pena tidak tercecer kemudian mengotori halamannya saat ditulis.

Terlepas dari dua kategori tersebut, bagiku hal paling penting yang harus diperhatikan dalam memilih buku adalah harganya. Jika harus memilih aku bukan pecinta buku murah, tetapi keadaan memaksaku untuk membeli buku dengan harga terjangkau. Jangan  salah, aku adalah laki-laki dengan kemauan yang  tinggi! Aku akan menabung mati-matian untuk mendapat buku yang aku sukai, walau harganya mahal sekalipun. Namun sekarang aku lebih berhati-hati, karena buku dengan harga mahal yang terakhir kukejar tidak bagus-bagus amat. Hanya bagus di awal saja. Setiap lembar yang kutulis seolah terus mengingatkanku bahwa buku ini penuh kebohongan.

Januari lalu aku menemukan buku yang sekiranya cocok untukku ketika berbelanja di salah satu mall di Jakarta. Mayoritas kriteria terpenuhi, beberapa yang lain setidaknya masih bisa dikompromikan. Namun sayang sekali kisah pencarian buku  yang sempurna memang tidak sesederhana itu. Kedua orangtuaku tidak setuju pilihan bukuku.

Ibu dan Ayahku adalah orang yang konservatif dan fanatik terhadap salah satu merk buku. Mereka percaya bahwa buku yang  bagus hanya buku merk Islebec saja. Sejak lahir mereka sudah menggunakan buku ini. Ayah, kakek, kakeknya kakek, sampai ujung pohon keluarga mereka menggunakan buku merk Iselebec. Konon katanya merk Islebec asal Arab ini memproduksi buku sempurna dalam segala aspek, setidaknya itu yang diceritakan turun-temurun di keluarga mereka.

Aku pribadi tidak percaya akan narasi tersebut. Keterbukaan akses informasi dan luasnya pergaulan membuatku banyak mendapat banyak refrensi merk-merk buku yang baik. Aku pun sudah banyak menemukan buku dengan merk selain Islebec yang tidak kalah baik kualitasnya. Aku berkesimpulan bahwa tidak peduli apapun merknya, sebuah buku harus dinilai dengan objektif. Karena kualitas dan merk sering kali tidak representatif.

Namun apa daya aku hidup di keluarga konservatif. Di mana doktrin orangtua adalah yang paling benar, terlebih lagi dalam hal sakral pemilihan buku.

Aku harus mencari buku baru agar kedua orangtuaku setuju. Aku ingin mereka terharu dengan pilihan bukuku. Mereka senang adalah kesenangan juga bagiku. Aku bukan Malin Kundang yang dikutuk jadi batu.

Paradoks

paradoksJalan menuju rumahku melewati sebuah terowongan panjang
Dindingnya terdapat racauan orang pinggir yang tidak tersuarakan
Setiap pulang aku mendengar teriakan itu menusuk telingaku
Ibu bilang aku harus belajar dari orang seperti itu
Agar ketika dewasa nanti perutku tidak penuh dengan hak orang lain
.
Jalan menuju kantorku melewati sebuah terowongan panjang
Setiap marka jalan tersebar koin yang kupungut dengan pasti
Saat berangkat kerja kuperhatikan agar tidak ada koin yang tertinggal
Atasanku bilang aku harus menjadi orang yang efisien
Agar di hari tuaku kelak aku tidak hidup dalam belenggu kesengkarutan
..
Jalan menuju kuburku melewati sebuah terowongan panjang
Melati yang tertanam mengikuti tiap jengkal langkah kerandaku
Derap langkah keluarga bersaing dengan teriakan penyesalanku
Tuhan bilang bahwa aku adalah apa yang aku lakukan
Sehingga aku bisa terlahir menjadi manusia yang lebih baik

Jalan menuju kelahiranku melewati sebuah terowongan panjang
Tidak berujung
Tanpa batas
Hingga
Saat
Itu