Panggung Sandiwara

Comedy_and_tragedy_masks_without_background.svg

 

Erving Goffman dalam teorinya yang bernama dramaturgi mengibaratkan kehidupan tidak lebih dari sebuah panggung sandiwara. Terdapat konsep-konsep pentas drama yang berkaitan erat dengan cara manusia bertingkah laku. Konsep paling relevan untuk dikaitkan dengan cara manusia berinteraksi dengan manusia lain adalah konsep pembagian daerah panggung.

Pemain sandiwara menampilkan apa yang ingin penonton lihat di depan panggung. Sama seperti manusia bertingkah seolah-olah ia adalah seorang pribadi yang ia ingin orang lain pikirkan tentangnya. Manusia akan memiliki tendensius untuk bermain peran yang berkepribadian ideal di depan orang lain. Sama seperti pemain sandiwara mendalami karakter yang bukan dirinya di hadapan penonton.

Namun pemain sandiwara tetap menunjukkan karakter aslinya di belakang panggung. Di mana orang-orang yang di sana bukanlah penonton. Orang tersebut adalah individu yang memang mengenal watak asli si pemain. Sama halnya dengan manusia yang berperilaku berbeda kepada orang yang tidak ingin mereka tanamkan pesan. Segelintir orang yang tidak perlu lagi dibuat kagum dengan kepribadian ideal. Dalam praktik dunia nyata, biasanya orang-orang ini adalah teman dekat atau keluarga. Tergantung dari proses sosialisasi yang lebih banyak.

Dewasa ini, dunia tempat kita tinggal perlahan menjelma menjadi sebuah panggung sandiwara. Di mana setiap orang adalah aktor dalam pentasnya masing-masing. Mereka bermain peran untuk membuat orang lain terkesima.

Mungkin itu cukup menjelaskan kenapa masing-masing dari kita hidup dalam kepalsuan perilaku yang dibuat.

Advertisements

Suara dari pojok kamar

pojok kamar

 

Ibuku resah saat selesai sholat shubuh

Katanya ada suara berbisik di siku kamar

Ditengoknya sudut tersebut sambil gelisah

Tergeletak di sana setangkai melati mekar

.

Ayahku kerap meludahi pojok kamar itu

Setelah pulang bekerja setiap malam

Sampai akhirnya ia tidak begitu

Akibat kualat dikutuk masuk makam

.

Adikku sering bermain di pojok kamarku

Tertawa riang seraya menepuk tangan

Bermain papan congklak yang diisi batu

Walaupun sudah ibu katakan jangan

.

Malam ini aku tidur di kasur warna putih

Ada langit kamar dengan bercak coklat

Terpaku di pojok anganku berpikir lirih

Itu tempatku digantung menjadi mayat

Persepsi Personal

Hampir segala perkara di dunia relatif. Semuanya tergantung dengan titik acu.

Sebuah yang kereta berjalan dengan kecepatan 100KM/Jam belum tentu kecepatannya diamini oleh semua pengamat. Pengamat yang melihat dari mobil yang bergerak 50KM/Jam tentu akan berpendapat lain dari pengamat yang melihat dari stasiun yang diam.

Ini dijelaskan oleh teori fisika klasik. Kecepatan adalah relatif terhadap titik acu sedangkan waktu adalah absolut terhadap apapun. Ini menjelaskan fenomena perbedaan kecepatan yang terlihat oleh dua pengamat yang melihat kereta yang sama. Bagi ia yang mengamati dari stasiun, kereta terlihat melaju dengan kecepatan 100KM/Jam. Namun bagi pengamat yang melihat dari mobil, kereta terlihat melaju dengan kecepatan 50KM/Jam.

Tidak ada yang salah, baik pengamat di mobil maupun di stasiun. Mereka sama-sama benar.

Kesalahan muncul ketika mereka saling bertengkar perkara siapa yang paling benar. Bersekukuh bahwa titik acunya yang paling akurat tanpa mau bertukar tempat dan saling mengerti satu sama lain. Mereka lupa bahwa kebenaran tidak akan terungkap jika masing-masing terus teguh dengan pendapat awalnya. Tidak mengerti satu sama lain akan membuat kabut penutup kebenaran makin pekat.

Terlebih lagi mereka lupa bahwa teori relativitas modern Einstein telah menyelesaikan masalah ketidakpahaman mereka akan titik acu.

Menulis Catatan

boy

 

Paling enggak, sekali dalam hidup, kita harus pernah memulai sesuatu dari nol. Jujur cing, gua bukan manusia super dan juga bukan yang terbaik. Mungkin karena itu, cuma ini suatu pertama dari nol yang bisa gua buat. Bikin coretan di halaman putih, dalam bentuk catatan tentang kepingan hidup.

Nama gua Boy dan ini catatan gua.

 

 

ps: diambil dari narasi film “Catatan Harian Si Boy”

Terlalu Banyak Berbicara

IconoColumna2

 

Kita memasuki masa di mana berbicara begitu mudah. Tidak perlu memiliki pokok pikiran yang ingin disampaikan. Sebuah kalimat tanya berisi tidak lebih dari 140 karakter pun bisa mendapat ribuan tanggapan. Bahkan jika pertanyaan tersebut disisipi oleh sebuah foto dengan bagian tubuh terbuka sedikit, tanggapan bisa menjadi puluhan ribu.

Jika berkaca 25 tahun ke belakang, untuk menyampaikan sebuah gagasan konkret sulit sekali. Kita harus mengumpulkan orang dari mulut ke mulut. Kemudian menyediakan tempat untuk melakukan orasi. Tidak lupa juga menyusun rangkaian acara hiburan agar orang yang sudah susah-susah dikumpulkan tidak mudah meninggalkan tempat.

Kemudahan proses ini membuat manusia menganggap remeh seni menyampaikan pendapat. Mereka pikir pendapat adalah pendapat selama itu keluar dari mulut atau mucul dari ketikan ibu jari tangan. Suara pendapat yang dulu memiliki nilai prestise sekarang hanya menjadi bunyi risih dari pengeluh.

Dasar Presiden bodoh antek komunis! Masa calon presiden kita buah zakarnya hanya satu? Bunuh si penista agama! Ujaran kebencian macam itu kerap kita temui di banyak tempat berpendapat mainstream di dunia maya. Ucapan tersebut bukan suara. Itu hanya bunyi tanpa bobot analisis, bukti data, dan rujukan kesimpulan yang jelas.

Voltaire yang rela mati demi mempertahankan hak berbicara orang pun mungkin akan bangkit dari kubur dan mencincang orang-orang persusak seni berpendapat itu.

Saya berusaha tidak menyamaratakan semua orang yang berpendapat. Ada juga orang yang mau berusaha dalam membuat pendapatnya memiliki nilai lebih dari sekadar bunyi. Namun eksistensi orang ini sedikit sekali jumlahnya. Kita butuh lebih banyak orang seperti ini.

Kemudahan berbicara mengalahkan kemudahan dalam membaca. Lebih cepat bagi seseorang untuk melempar komentar dibanding mencaritahu kebenaran suatu topik. Manusia memang hanya mencari mana yang paling mudah saja. Semoga tujuh paragraf yang saya tulis ini tidak membuat saya terlalu banyak biacara.

Cerita Dari Negeri Dongeng

Di negeri dongeng nun jauh di sana terdapat kisah tentang orang yang dibungkam bukan karena berbicara dusta, tetapi kebenaran. Mulutnya bukan hanya sekadar ditutup dengan selotip hitam, tetapi wajahnya juga dimandikan dengan air keras. Ada yang bernasib cukup baik dengan hanya masuk penjara. Setidaknya di dalam sana senjata digunakan untuk melindungi, bukan menyakiti.

Namun bukankah kebenaran hanya sebuah kesepakatan mayoritas?

Doktrin yang banyak adalah yang benar bukan sebuah isapan jempol. Ini terbukti dari konsep demokrasi yang menunjukkan bahwa pemimpin yang dipilih dengan suara terbanyak adalah yang pantas menjabat. Tidak peduli kapasitas si calon, selama berhasil merebut hati pemilih, dia lah yang akan menjabat. Debat tiga putaran yang ditujukan untuk mencari pemimpin kompeten juga hanya berakhir dengan masing-masing calon menjual rayuan yang nyatanya sulit untuk dipertanggungjawabkan. Selama mayoritas sepakat dia memimpin, maka jadilah ia pemimpin.

Mencari Buku Baru

Processed with VSCO with b5 preset

Buku yang  biasa aku tulis sudah lama habis. Setiap minggu aku menulis tiga sampai empat halaman. Tidak aneh jika lembaran bukuku cepat habis. Aku mulai mencari buku baru agar bisa tetap menulis.

Mencari buku tidak semudah yang dibayangkan orang-orang lain. Bagiku mencari buku adalah sebuah  ritual yang sakral. Paduan pribadi yang perfeksionis dan keadaan traumatis masa lalu tentang pilihan buku yang salah membuatku sangat hati-hati dalam mencari buku.

Aku sangat teliti dalam memilih buku. Sampul depannya harus bagus. Tidak perlu indah, yang penting enak dipandang. Karena aku percaya bahwa walau orang pintar tidak menilai buku dari sampulnya, banyak sekali orang tidak pintar di sekitarku. Yah, jujur saja, kadang aku pun tidak selalu pintar.

Lembaran di dalamnya juga tidak kalah penting dibanding dengan sampul depan. Bicara buku yang baik adalah bicara isi yang baik pula. Percuma jika kemasaannya indah tetapi isinya amburadul. Setiap halaman harus bertekstur halus, walaupun akan banyak berintraksi dengan permukaan ujung pensil atau pena yang kasar, dia harus lembut agar karbon pensil atau tinta pena tidak tercecer kemudian mengotori halamannya saat ditulis.

Terlepas dari dua kategori tersebut, bagiku hal paling penting yang harus diperhatikan dalam memilih buku adalah harganya. Jika harus memilih aku bukan pecinta buku murah, tetapi keadaan memaksaku untuk membeli buku dengan harga terjangkau. Jangan  salah, aku adalah laki-laki dengan kemauan yang  tinggi! Aku akan menabung mati-matian untuk mendapat buku yang aku sukai, walau harganya mahal sekalipun. Namun sekarang aku lebih berhati-hati, karena buku dengan harga mahal yang terakhir kukejar tidak bagus-bagus amat. Hanya bagus di awal saja. Setiap lembar yang kutulis seolah terus mengingatkanku bahwa buku ini penuh kebohongan.

Januari lalu aku menemukan buku yang sekiranya cocok untukku ketika berbelanja di salah satu mall di Jakarta. Mayoritas kriteria terpenuhi, beberapa yang lain setidaknya masih bisa dikompromikan. Namun sayang sekali kisah pencarian buku  yang sempurna memang tidak sesederhana itu. Kedua orangtuaku tidak setuju pilihan bukuku.

Ibu dan Ayahku adalah orang yang konservatif dan fanatik terhadap salah satu merk buku. Mereka percaya bahwa buku yang  bagus hanya buku merk Islebec saja. Sejak lahir mereka sudah menggunakan buku ini. Ayah, kakek, kakeknya kakek, sampai ujung pohon keluarga mereka menggunakan buku merk Iselebec. Konon katanya merk Islebec asal Arab ini memproduksi buku sempurna dalam segala aspek, setidaknya itu yang diceritakan turun-temurun di keluarga mereka.

Aku pribadi tidak percaya akan narasi tersebut. Keterbukaan akses informasi dan luasnya pergaulan membuatku banyak mendapat banyak refrensi merk-merk buku yang baik. Aku pun sudah banyak menemukan buku dengan merk selain Islebec yang tidak kalah baik kualitasnya. Aku berkesimpulan bahwa tidak peduli apapun merknya, sebuah buku harus dinilai dengan objektif. Karena kualitas dan merk sering kali tidak representatif.

Namun apa daya aku hidup di keluarga konservatif. Di mana doktrin orangtua adalah yang paling benar, terlebih lagi dalam hal sakral pemilihan buku.

Aku harus mencari buku baru agar kedua orangtuaku setuju. Aku ingin mereka terharu dengan pilihan bukuku. Mereka senang adalah kesenangan juga bagiku. Aku bukan Malin Kundang yang dikutuk jadi batu.