Surat Cinta: Untuk Dia yang Tidak Pernah Sadar

surat

 

Halo, namaku Boy.

Kamu tahu Sheila on 7? Lagu pemuja rahasianya tepat sekali dalam mendeskripsikan keadaanku sekarang. Bedanya, aku bukan Adul. Aku juga tidak berteman dengan rapper. Tunggu-tunggu, aku juga tidak memakai topi bolong. Tunggu, intinya aku selalu mengawali hariku dengan mendoakanmu agar kau sehat dan bahagia di sana.

Pertama-tama, agar kamu tidak terkejut membaca surat ini, aku akan menjelaskan alasan kenapa aku jatuh cinta padamu. Namun sebelum itu, DOR!!!! Kaget ga? Hmmm, mungkin trik ini akan bekerja jika kita sedang berbicara secara langsung. Tunggu saja.

Aku jatuh cinta padamu karena jatuh cinta padamu begitu mudah. Semudah kamu menjawab pertanyaan dosen filsafat tentang bagaimana kepastian hukum itu bekerja. Sebaliknya, begitu sulit untuk jatuh cinta padaku. Sesulit membuat kalimat “Hukum saja ada kepastian, trus hubungan kita kapan?” tidak terdengar seperti gombalan abang-abang tukang ojek.

Aku jatuh cinta padamu karena jatuh cinta padamu tidak seperti kotak surat telepon genggam. Kamu hadir sejak nada panggil pertama. Tidak pernah dingin dalam menjawab. “Tunggu setelah nada berikut.”

Aku jatuh cinta padamu karena padamu cinta aku jatuh. Seperti paradoks kata yang saling membenarkan satu sama lain. Sederhananya, kamu adalah manifesto dari ia pintar karena selalu benar dan ia selalu benar karena ia pintar. Rasionalisasi sirkuler, terus berputar-putar. Berputar-putar terus, aku mau.

Aku jatuh cinta padamu karena jatuh cinta padamu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Aku laki-laki. Kamu perempuan. Aku kupu-kupu. Kamu bunga. Aku lebah. Kamu Madu. Aku mau. Kamu malu. Melihat kamu malu, aku jadi malu-maluin. Semoga setelah melihat aku mau, kamu jadi mau-mauin. Tunggu, sepertinya aku terlalu banyak bergaul dengan tukang ojek.

Aku jatuh cinta padamu karena bagiku kamu adalah primadona. Bukan bagi prima donatku. Kamu bukan donat untuk dibagi bersama Prima. Bukan juga donat milikku yang bernama Bagi Prima. Kamu primadonaku seperti kata ‘tunggu’ di setiap paragraf bilangan prima sebelum paragraf ini. Ada di awal kalimat terakhir. Mengawali setiap akhir diriku.

Aku jatuh cinta padamu karena aku kehabisan alasan untuk tidak mencintaimu. Seberapa aku berargumen untuk tidak lagi jatuh. Seberapa aku membidas pembenaran untuk jatuh. Seberapa pun lagu Seberapa Pantas aku putar. Seberapa itu pula aku gagal dan terus jatuh pada konklusi bahwa jatuh cinta padamu adalah jatuh yang pantas.

Aku jatuh cinta padamu karena aku sudah lelah jatuh cinta pada orang yang salah. Entah itu melepas kata sayang pertama pada perempuan yang tidak tahu di mana rimbanya. Atau melepas ciuman pertama pada perempuan yang tidak malu mencium di belakang. Kamu bukan mereka. Kamu orang yang benar.

Aku jatuh cinta padamu karena aku ingin menjadi lebih dari sekadar penikmat senyumanmu. Jujur, aku ingin menjadi pemilik senyum itu. Lebih jujur lagi, Aku ingin menjadi penyebab senyum itu.

Aku jatuh cinta padamu karena sebuah misteri, yang kata Gie, tidak satu setan pun tahu.

Aku jatuh cinta padamu karena asaku putus untuk berharap. Bahwa kelak di masa depan, pada waktu tertentu, kamu sadar akan hadirku.

Aku jatuh cinta padamu karena kamu satu-satunya orang yang sadar bahwa sama seperti surat ini, aku adalah orang yang humoris di awal jumpa tetapi perlahan melankolis di akhir pisah.

Aku harap semua karena yang aku berikan dalam surat ini dapat menjelaskan betapa cinta aku padamu. Karena jika sebelas kata karena tidak mampu menyadarkan jiwa yang keblinger, mau tidak mau, senjata harus berbicara satu bahasa yang lebih tinggi.

Aku mohon jika kamu sudah sadar, entah dari anggur merah, jamur ajaib, atau zat-zat nakal terlarang lainnya, balas surat ini, ya?

 

 

Salam hangat,

 

Boy.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s