Mencari Buku Baru

Processed with VSCO with b5 preset

Buku yang  biasa aku tulis sudah lama habis. Setiap minggu aku menulis tiga sampai empat halaman. Tidak aneh jika lembaran bukuku cepat habis. Aku mulai mencari buku baru agar bisa tetap menulis.

Mencari buku tidak semudah yang dibayangkan orang-orang lain. Bagiku mencari buku adalah sebuah  ritual yang sakral. Paduan pribadi yang perfeksionis dan keadaan traumatis masa lalu tentang pilihan buku yang salah membuatku sangat hati-hati dalam mencari buku.

Aku sangat teliti dalam memilih buku. Sampul depannya harus bagus. Tidak perlu indah, yang penting enak dipandang. Karena aku percaya bahwa walau orang pintar tidak menilai buku dari sampulnya, banyak sekali orang tidak pintar di sekitarku. Yah, jujur saja, kadang aku pun tidak selalu pintar.

Lembaran di dalamnya juga tidak kalah penting dibanding dengan sampul depan. Bicara buku yang baik adalah bicara isi yang baik pula. Percuma jika kemasaannya indah tetapi isinya amburadul. Setiap halaman harus bertekstur halus, walaupun akan banyak berintraksi dengan permukaan ujung pensil atau pena yang kasar, dia harus lembut agar karbon pensil atau tinta pena tidak tercecer kemudian mengotori halamannya saat ditulis.

Terlepas dari dua kategori tersebut, bagiku hal paling penting yang harus diperhatikan dalam memilih buku adalah harganya. Jika harus memilih aku bukan pecinta buku murah, tetapi keadaan memaksaku untuk membeli buku dengan harga terjangkau. Jangan  salah, aku adalah laki-laki dengan kemauan yang  tinggi! Aku akan menabung mati-matian untuk mendapat buku yang aku sukai, walau harganya mahal sekalipun. Namun sekarang aku lebih berhati-hati, karena buku dengan harga mahal yang terakhir kukejar tidak bagus-bagus amat. Hanya bagus di awal saja. Setiap lembar yang kutulis seolah terus mengingatkanku bahwa buku ini penuh kebohongan.

Januari lalu aku menemukan buku yang sekiranya cocok untukku ketika berbelanja di salah satu mall di Jakarta. Mayoritas kriteria terpenuhi, beberapa yang lain setidaknya masih bisa dikompromikan. Namun sayang sekali kisah pencarian buku  yang sempurna memang tidak sesederhana itu. Kedua orangtuaku tidak setuju pilihan bukuku.

Ibu dan Ayahku adalah orang yang konservatif dan fanatik terhadap salah satu merk buku. Mereka percaya bahwa buku yang  bagus hanya buku merk Islebec saja. Sejak lahir mereka sudah menggunakan buku ini. Ayah, kakek, kakeknya kakek, sampai ujung pohon keluarga mereka menggunakan buku merk Iselebec. Konon katanya merk Islebec asal Arab ini memproduksi buku sempurna dalam segala aspek, setidaknya itu yang diceritakan turun-temurun di keluarga mereka.

Aku pribadi tidak percaya akan narasi tersebut. Keterbukaan akses informasi dan luasnya pergaulan membuatku banyak mendapat banyak refrensi merk-merk buku yang baik. Aku pun sudah banyak menemukan buku dengan merk selain Islebec yang tidak kalah baik kualitasnya. Aku berkesimpulan bahwa tidak peduli apapun merknya, sebuah buku harus dinilai dengan objektif. Karena kualitas dan merk sering kali tidak representatif.

Namun apa daya aku hidup di keluarga konservatif. Di mana doktrin orangtua adalah yang paling benar, terlebih lagi dalam hal sakral pemilihan buku.

Aku harus mencari buku baru agar kedua orangtuaku setuju. Aku ingin mereka terharu dengan pilihan bukuku. Mereka senang adalah kesenangan juga bagiku. Aku bukan Malin Kundang yang dikutuk jadi batu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s