Paradoks

paradoksJalan menuju rumahku melewati sebuah terowongan panjang
Dindingnya terdapat racauan orang pinggir yang tidak tersuarakan
Setiap pulang aku mendengar teriakan itu menusuk telingaku
Ibu bilang aku harus belajar dari orang seperti itu
Agar ketika dewasa nanti perutku tidak penuh dengan hak orang lain
.
Jalan menuju kantorku melewati sebuah terowongan panjang
Setiap marka jalan tersebar koin yang kupungut dengan pasti
Saat berangkat kerja kuperhatikan agar tidak ada koin yang tertinggal
Atasanku bilang aku harus menjadi orang yang efisien
Agar di hari tuaku kelak aku tidak hidup dalam belenggu kesengkarutan
..
Jalan menuju kuburku melewati sebuah terowongan panjang
Melati yang tertanam mengikuti tiap jengkal langkah kerandaku
Derap langkah keluarga bersaing dengan teriakan penyesalanku
Tuhan bilang bahwa aku adalah apa yang aku lakukan
Sehingga aku bisa terlahir menjadi manusia yang lebih baik

Jalan menuju kelahiranku melewati sebuah terowongan panjang
Tidak berujung
Tanpa batas
Hingga
Saat
Itu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s