Senja: Sebuah Pembuktian Bahwa Mahasiswa Hukum Tidak Sekaku Itu

1465111479690.jpg

 

Bermula dari janji yang pernah saya ucapkan kepada salah seorang sahabat saya, Acus, tahun lalu. Saat itu saya tidak bisa menonton ketika ia menjadi salah satu aktor dalam pementasan teater. Sebagai gantinya, saya berjanji saat ia menjabat nanti, saya akan menonton pementasan teater selanjutnya. Saya pikir tidak ada ruginya untuk menonton ini, saya juga bisa memberikan dukungan moral padanya dan dua staff saya, Andreas dan Kimmy, yang juga menjadi bermain dalam teater ini.

Saya masuk ruangan dengan ekspetasi yang sangat kecil. Pementasan teater yang dilakukan mahasiswa Fakultas Hukum tidak mungkin sebegitu hebohnya, bukan? Begitu pikirku.

20160604_211107.jpg
Salah satu adegan yang penuh dengan emosi

Pikiran itu tidak singgah lama di kepalaku. Selama satu jam lebih saya terus-menerus tercenggang dengan penampilan luar biasa oleh masing-masing performer. Mulai dari tarian dengan kreografi yang unik, sampai lagu-lagu orisinil yang sengaja dibuat untuk memainkan emosi dari penonton. Tentu melihat dari gerak tarian kontemporer yang dibawakan, pasti Dirayati Turner berada di belakang semua ini. Selain itu juga saya bisa merasakan sebagian jiwa dari Marlin Agustina dalam musik yang mengiringi pelayaran emosi selama pementasan ini berlangsung.

20160604_212718.jpg
Tim yang bertanggungjawab atas banyaknya tetesan air mata penonton

Bagian favorit saya secara personal adalah komedi dengan budaya. Sebagai pemerhati komedi saya paham betul betapa sulitnya membuat pembicaraan sehari-hari menjadi bahan komedi untuk ditertawakan. Namun tidak untuk tim penyusun cerita Senja, Teater Merah, ia dengan lihai membuat pembicaraan orang jawa, tiongkok, dan batak yang biasanya kaku menjadi menarik dan jenaka sehingga para penonton bisa tertawa bersama mereka.

2016-06-05 02.19.17 1.jpg
Suasana akan berubah khidmat ketika ia datang

Terlepas dari komedi, tarian, dan musik, Senja juga menawarkan cerita yang kaya akan makna dan pesan moral. Senja bercerita bahwa kebahagiaan itu datangnya dari dalam diri sendiri. Bukan dari berapa banyak uang yang dapat bisa dihasilkan seorang suami tetapi dari kebesaran hati seorang istri untuk merasa puas dengan apa yang dimiliki. Selain itu Senja juga mengajarkan bahwa cinta adalah pedang bermata dua bagi manusia. Cinta bisa membuat seorang pria tetap semangat walaupun harinya dipenuhi dengan pekerjaan yang melelahkan. Cinta juga bisa membuat perempuan khilaf dan menyebar fitnah pada pria yang menyelamatkan hidupnya.

20160604_205714.jpg
Bahagia itu bisa berbagi nasi uduk berdua bersama orang yang disayang

Buku, film, dan pementasan teater yang  bagus dapat merubah sekaligus memberikan pandangan baru bagi mereka yang menyaksikannya. Saya merasa menjadi individu yang baru setelah menonton Senja. Saya berusaha untuk tetap menjadi orang baik. Walaupun orang baik tidak selalu menerima perlakuan baik dari sekitarnya, tetapi setidaknya mereka dapat menjadi tauladan bagi yang dekat dengannya.

20160604_212801.jpg
Penonton-penonton yang puas

Mahasiswa hukum dekat sekali dengan stereotype yang kaku, selalu serius, dan bukan tipikal mahasiswa yang bisa menikmati seni. Stereotype yang didapat dari tebalnya kitab perundang-undangan, hafalan mati setiap teori, dan prospek kerja yang kaku. Senja membuktikan bahwa mahasiswa hukum tidak hanya dapat menikmati seni, mereka juga bisa membuat seni. Selain bermain dengan argumentasi mereka juga dapat bermain dengan emosi yang dituangkan dengan perubahan mimik wajah, petikan gitar, suara piano, dan gerakan tubuh. Seni ada di jiwa mereka hingga senja memanggil pulang.

20160604_213301.jpg
Manusia yang ada di depan dan di belakang panggung

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s