Rumus Matematika

metatrons_cube

 

Waktu saya duduk di sekolah dasar, saya benci matematika. Bukan karena ada kata mati dalam matematika. Namun saya hanya tidak bisa terlalu lama berkutat dengan angka. Rangkaian huruf lebih menarik bagi saya. Sampai suatu saat saya belajar geometri.

Geometri adalah ilmu yang membelajari tentang ruang. Akar ilmu ini berawal dari sebuah titik. Kemudian dua titik yang dihubungkan dapat menjadi sebuah garis. Lalu garis yang dirangkai menjadi akan bidang datar. Konstruksi dari beberapa bidang datar menghasilkan bangun ruang. Sebuah filosofi yang hebat bukan? Untuk membangun sesuatu yang besar, kita semua harus mulai dari sebuah titik.

Titik saya dimulai dari lima November 2012. Saat itu umur saya masih 17 tahun dan sedang menjalani  tahun terakhir di SMA. Kemudian saya menemukan titik lain. Seorang perempuan yang saya kagumi. Mulai dari cara pikirnya, cara dia tersenyum, dan juga cara ia tertawa. Ah, itu selalu membuat saya jatuh ke dalam paling lesung di pipinya.

Bersamanya saya membuat garis. Garis yang seiring berjalannya waktu berubah menjadi bangun ruang. Kami hidup dari konstruksi ruang kami berdua. Tentu tidak mudah membangun ruang seperti itu dari sebuah titik. Ruang kami adalah hasil dari kompromi terhadap prinsip, pengertian atas kesalahpahaman, dan senyum setelah pertengkaran. Ruang kami mungkin bukan ruang yang sempurna. Namun ruang kami adalah ruang yang nyaman, setidaknya untuk kami berdua.

2parallel-lines

Kemarin saya diingatkan kembali tentang rumus matematika yang saya pelajari waktu SD. Bahwa sebenarnya garis yang identik tingkat kemiringannya tidak akan bertemu walaupun ditarik sejauh manapun juga. Kedua garis itu hanya akan membentuk rangkaian paralel, berdampingan tanpa ada titik temu. Sedangkan garis yang memiliki kemiringan berbeda, sekecil apapun perbedaan itu, pada akhirnya akan bertemu. Kemudian saling menjauh saat semakin ditarik.

Intersectinglines1.gif

Saya dan dia jelas memiliki tingkat kemiringan yang berbeda. Jika kami sama, tentu kita tidak akan bertemu. Sialnya, menurut rumus matematika, ketika ada pertemuan pasti ada perpisahan. Perpisahan tersebut mentiadakan titik, garis, bidang datar, dan bangun ruang yang sudah dibangun bersama-sama. Semua terbuang begitu saja. Ugh, ini alasan saya benci matematika. Salah langkah sedikit, hancur semua perkara.

Pertemuan itu opsional tetapi perpisahan itu absolut. Buat apa garis itu bertemu, jika mereka sama-sama sadar akan berpisah? Begitu pikirku hari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s