Ungkapan Setelah Menonton Drama

20151119_151522
Teater Merah FHUI

Seperti menaiki roller coaster. Itu rangkaian kata yang pertama kali keluar dari mulut saya setelah menonton drama berjudul “Sigit” yang disutradarai oleh Laluna Sidabutar. Teater Merah amat lihai memainkan emosi penonton. Diawali dengan pendekatan komedi, penonton diajak tertawa dengan  guyonan santai khas rumahan. Kemudian penonton dipaksa untuk khawatir dengan pertengkaran bathin tokoh utama. Lalu penonton marah dan mulai mengutuk keadaan yang tidak adil. Tanpa sadar penonton telah masuk ke dalam dunia milik Sigit.

Sigit bukan hanya sekedar drama. Ini merupakan sebuah kritik terhadap perilaku masyarakat. Pada umumnya seorang individu selalu mencari kambing hitam atas kesalahan yang dilakukannya. Padahal sebagai individu merdeka setiap orang harus mampu mempertanggungjawabkan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan. Terdapat beberapa adegan yang menampar diri saya. Karena saya, sebagai individu, masih sering mengutuki keadaan atas kesalahan yang berasal dari diri saya sendiri.

Kritik tersebut juga disampaikan pada mahasiswa. Mereka berkuliah hanya karena paksaan orang tua atau terjebak ilusi atas kharisma pekerjaan orang tua. Tidak hanya mahasiswa, peran sebagai orang tua juga dikritik. Orang tua seharusnya tidak menjadi pendikte masa depan anak. Sebagai individu merdeka seorang anak pantas menentukan jalannya sendiri. Agar pada akhirnya tidak ada yang menjadi kambing hitam.

Teriakan-teriakan kegelisahan jadi semakin sakral karena ditemani oleh alunan musik yang pilu. Perpaduan antara ketukan cajon dan melodi keyboard menghasilkan harmoni yang sempurna dalam mengiringi adegan drama penuh emosi. Jujur, saya berkali-kali dibawa terbang oleh musik pengiring drama.

20151119_145414
Adegan pilu tentang kekecewaan seorang istri

Namun rahasia keindahan drama ini justru terletak di peran pembantunya. Penonton lebih memahami kegelisahan dari tokoh utama karena digiring oleh peran pembantu. Dari perpindahan emosi masa kecil yang indah sampai perang bathin saat puncak konflik, semua transisi terasa halus karena digiring oleh peran pembantu. Ada dua peran pembantu yang menarik perhatian saya, seorang ibu yang penuh kasih sayang yang membuat saya kangen dengan suasana rumah dan seorang istri yang penuh kekecewaan yang membuat saya mawas diri dalam mengambil keputusan penting kelak nanti.

Tulisan ini bukan ditulis oleh orang yang mengerti seni teater. Tulisan ini datang dari orang yang bangga atas karya fakultasnya. Tulisan ini bukanlah bentuk dari pujian manis, bukan juga gombalan peluluh hati. Tulisan ini adalah suatu bentuk kejujuran. Mengutip salah satu alumni Universitas Indonesia yang saya kagumi, Soe Hok Gie, beliau pernah menulis, “Tetapi apa yang lebih romantis selain bicara tentang kebenaran?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s