Berlari

images (2)

Berlari dapat membakar kalori, katanya. Alih-alih kalori yang terbakar yang kudapat hanya tubuh hangus ini. Tubuh hangus ini adalah sisa dari diriku yang terbakar, terlebih melihatmu berlari bersamanya. Hangus sampai di tetes darah terakhir, semakin haus aku dibuatnya. Haus aku karena ingin perhatianmu. Haus sehingga ingin kuambil dengan serakah perhatianmu. Namun siapalah diriku ini? Dia yang kau pilih untuk berlari bersama. Disini aku berlari, akibatnya dehidrasiku ingin air perhatianmu. Seperti kata penyair kegemaranmu, aku berlari hingga hilang pedih perih.

Aku terus hangus terbakar. Kobaran api menari-nari di atas tubuhku yang menderita. Bahkan angin yang sejak tadi diam ikut menghujat. Dengan tiupan sepoy-sepoy ia memprovokasi api agar terus menari. Perlahan ia menyentuh tarian api yang menjilat setiap jengkal tubuhku. Hitam legam aku dibuatnya. Perlahan, setiap sentuhan api semakin besar karena sepoy angina, mengubah tubuh hangus ini menjadi abu. Wajahku tersenyum kecut melihat keadaanku, keadaanmu, dan keberadaan dia. Penderitaan ini aku bawa terus berlari hingga angin meniupkan abu terakhirku.

Kamu masih berlari bersamanya, kulihat dari kejauhan. Siluetmu dan dia berlari hilang dari pandanganku. Bayang-bayang kalian kontras dengan sinar yang datang dari arah berlawanan, ditelan garis horison senja di kejauhan. Haruskan aku teruskan lari ini? Apa memang harus kuhadapi kenyataaan ini? Pertanyaan itu lalu perlahan hilang, bersama tiupan angin yang menyapu abu terakhir tubuhku.

Aku benci berlari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s