konspirasi kemakmuran

seminggu belakangan ini media begitu ramai dengan aksi vicky prasetyo. mulai dari twitter, infotainment, sampai berita di televisi terus menerus memberitakan kasus vicky ini. seperti yang kita sama-sama tahu, vicky prasetyo adalah tersangka kasus penipuan dan pemalsuan surat berharga. yang menjadi titik perhatian adalah catchphrase yang dia gunakan ketika berbicara di depan kamera.

vicky menggunakan pemilihan kata yang berat tetapi tidak masuk kepada konteks yang dibicarakan. tujuannya adalah agar terlihat intelek. namun ini menjadi kontra produktif karena memakai kata yang berlebihan justru akan membuat yang bersangkutan terlihat bodoh. seperti yang dikutip dari wawancara setelah pertunangannya dengan penyanyi dangdut di sebuah hotel mewah

“di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi, karena basically aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya.”

“Kita belajar, apa ya, harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita enggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan.”

“Dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi, kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga…”

awalnya ini menjadi hiburan yang sangat fresh bagi saya. menertawakan kebodohan orang yang sok pintar, norak, dan tidak memiliki rasa malu karena kebodohannya. tapi kemudian saya berpikir. saya bertanya kepada diri saya sendiri. “emang lu lebih pintar dari dia?”. iya, sulit dipungkiri bahwa kadang saya bertingkah sok tau terhadap sesuatu, kadang juga saya menggunakan bahasa yang kurang pas dengan konteks kalimat. bedanya, porsi kebodohan yang saya keluarkan tidak sebanyak viky. namun bagaimana orang yang kepintarannya jauh di atas saya ketika melihat saya berbicara? pasti saya hanya akan menjadi bahan oloknya.

kejadian ini memaksa saya untuk bercermin. kemudian saya sadar akan sebuah fakta yang menggelitik. saya belum cukur kumis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s