anak sekolah dasar yang bercita-cita

ayah, aku ingin menjadi tukang sayur. menjadi tukang sayur idola ibu-ibu. aku melihatnya setiap hari, dicari dan dikejar para ibu-ibu di komplek. aku ingin menjadi idola, dikejar, dicari. tukang sayur membawa kebahagiaan bagi setiap ibu yang datang. senyum sumringah seakan mendapat tumpukan emas. kelak nanti, setiap pagi hari sebelum ayam mulai bernyanyi, ibu membawa pulang sayur daganganku. lengkap dengan tempe buatanku, untuk sarapan setiap keluarga di komplek. bukankah indah hidup dengan berdagang senyuman.

ayah, aku ingin menjadi dokter. menjadi pria berpakaian putih dikelilingi suster cantik. sepertinya pekerjaan ini lebih baik dibanding harus memotong ayam, aku tidak tega melihat ayam kesakitan. aku ingin menjadi penyembuh penyakit! bukan menjadi orang yang menyakiti. aku ingin menjadi penyembuh. penyakit yang membelenggu selalu membuat hidup makin sulit dijalani. penyakit yang meradang kadang membuat perasaan tidak nyaman, menghambat senyum sumringah semua orang. aku tidak ingin orang lain hidup tanpa senyuman, ayah.

ayah, aku ingin menjadi penyanyi rock. menjadi pria jantan yang membawa semangat bagi muda-mudi. sepertinya pekerjaan ini lebih baik dibanding harus memeras uang orang yang kesakitan. aku tidak tega menjadi lintah darat. aku ingin menjadi pembawa semangat hidup! bukan menjadi penghisap nafsu hidup. aku ingin menjadi pembakar semangat. untuk, hidup di dunia yang sudah gila ini kita memang harus memiliki semangat yang terbakar. semangat untuk menepis kesialan yang menimpa, terlebih setelah kita terjatuh dari tangga.

ayah, aku ingin menjadi seperti ayah. menjadi pemberi senyum, penyembuh penyakit, dan pembakar semangat. sepertinya tukang sayur yang menyakiti ayam, dokter yang merangkap lintah darat, dan penyanyi rock yang memancing aksi anarkis tidak cocok untukku. aku ingin seperti ayah! pria yang ketika pulang membawa segenggam harapan, kemudian membuncah menjadi senyuman. pria yang pelukannya membunuh kuman penyakit. kuman yang katanya tidak bisa musnah walaupun dicuci dengan sabun. pria yang berbicara saat makan malam bicaranya seperti jenderal, membakar semangat sampai ke ujung rambut. aku lupa nama jenderal itu, besok akan kutanyakan ke ibu guru ketika pelajaran sejarah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s