Kematian Tidak Pernah Sedingin Ini

cemetry

Sudah beberapa kali aku merasakan kematian.

Puno, anjing yang menjadi hadiah ulang tahunku yang ke-9 mati tiga hari setelah aku berumur sepuluh tahun. Kata bapak ia terkena penyakit paru-paru akut. Mayatnya dibakar, tidak dikubur. Dokter hewan yang menanganinya bilang lebih baik dibakar, agar penyakitnya tidak mewabah. Tidak sampai setahun sejak menjadi bagian dari keluarga kami, Puno berubah menjadi abu.

Aku menangis saat mereka memasukkan Puno ke tempat kremasi.

Kevin, teman sekelas yang menjadi sahabat pertamaku di SMP meninggal sesaat sebelum aku membuka pengumuman penerimaan SMA di kertas koran. Ibuku bilang ia tertabrak kereta ketika hendak menyebrangi rel dengan motor R-X King-nya. Padahal baru saja aku merasa senang akan menggunakan seragam putih abu-abu bersama Kevin. Janji pertemanan sehidup-semati terkubur bersama dengan tubuh Kevin yang tidak berbentuk lagi.

Aku menangis saat mereka menjahit sisa-sisa badan Kevin yang tercecer.

Steven, sahabat sebangku SMA selama tiga tahunku meninggal saat kami akan berangkat untuk mengikuti ujian penerimaan universitas negeri di Jakarta. Pagi itu aku bangun kesiangan. Pesawat yang seharusnya membawaku pergi itu tidak pernah sampai ke Jakarta. Steven dan dua ratus orang di pesawat tersebut tidak pernah sampai ke Jakarta. Yang sampai hanya puluhan berita dengan judul Duka di Jakarta.

Aku menangis saat menonton laporan investigasi penyebab jatuhnya pesawat itu.

Miranda, pacar sembilan tahunku sejak kuliah meninggal saat kami sedang membeli cincin pernikahan. Miranda ada di tempat yang benar di waktu yang salah. Kebetulan lima ekstrimis agama itu memutuskan untuk memporakporandakan sebuah pusat perbelanjaan di waktu yang sama dengan jadwal membeli cincin kami. Miranda meninggal terkena ledakan pelaku bom bunuh diri yang hanya berjarak tiga meter darinya. Beruntung aku sedang membeli hadiah kejutan untuk pernikahan kita nanti.

Aku menangis setiap menatap ukulele berwarna putih yang kubeli untuknya.

Hari ini aku bertemu dengan Puno, Kevin, Steven, dan Miranda. Hari yang kutunggu-tunggu selama tujuh puluh tahun akhirnya datang. Terasa tidak seperti yang orang-orang bicarakan. Rasanya tidak seperti pulang ke rumah atau terhempas angin. Aku tidak merasakan apa-apa selain rasa dingin yang menjalar ke seluruh badan.

Mereka menangis seraya mengantarku ke liang lahat.

Advertisements

Surat Cinta: Untuk Dia yang Tidak Pernah Sadar

surat

 

Halo, namaku Boy.

Kamu tahu Sheila on 7? Lagu pemuja rahasianya tepat sekali dalam mendeskripsikan keadaanku sekarang. Bedanya, aku bukan Adul. Aku juga tidak berteman dengan rapper. Tunggu-tunggu, aku juga tidak memakai topi bolong. Tunggu, intinya aku selalu mengawali hariku dengan mendoakanmu agar kau sehat dan bahagia di sana.

Pertama-tama, agar kamu tidak terkejut membaca surat ini, aku akan menjelaskan alasan kenapa aku jatuh cinta padamu. Namun sebelum itu, DOR!!!! Kaget ga? Hmmm, mungkin trik ini akan bekerja jika kita sedang berbicara secara langsung. Tunggu saja.

Aku jatuh cinta padamu karena jatuh cinta padamu begitu mudah. Semudah kamu menjawab pertanyaan dosen filsafat tentang bagaimana kepastian hukum itu bekerja. Sebaliknya, begitu sulit untuk jatuh cinta padaku. Sesulit membuat kalimat “Hukum saja ada kepastian, trus hubungan kita kapan?” tidak terdengar seperti gombalan abang-abang tukang ojek.

Aku jatuh cinta padamu karena jatuh cinta padamu tidak seperti kotak surat telepon genggam. Kamu hadir sejak nada panggil pertama. Tidak pernah dingin dalam menjawab. “Tunggu setelah nada berikut.”

Aku jatuh cinta padamu karena padamu cinta aku jatuh. Seperti paradoks kata yang saling membenarkan satu sama lain. Sederhananya, kamu adalah manifesto dari ia pintar karena selalu benar dan ia selalu benar karena ia pintar. Rasionalisasi sirkuler, terus berputar-putar. Berputar-putar terus, aku mau.

Aku jatuh cinta padamu karena jatuh cinta padamu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Aku laki-laki. Kamu perempuan. Aku kupu-kupu. Kamu bunga. Aku lebah. Kamu Madu. Aku mau. Kamu malu. Melihat kamu malu, aku jadi malu-maluin. Semoga setelah melihat aku mau, kamu jadi mau-mauin. Tunggu, sepertinya aku terlalu banyak bergaul dengan tukang ojek.

Aku jatuh cinta padamu karena bagiku kamu adalah primadona. Bukan bagi prima donatku. Kamu bukan donat untuk dibagi bersama Prima. Bukan juga donat milikku yang bernama Bagi Prima. Kamu primadonaku seperti kata ‘tunggu’ di setiap paragraf bilangan prima sebelum paragraf ini. Ada di awal kalimat terakhir. Mengawali setiap akhir diriku.

Aku jatuh cinta padamu karena aku kehabisan alasan untuk tidak mencintaimu. Seberapa aku berargumen untuk tidak lagi jatuh. Seberapa aku membidas pembenaran untuk jatuh. Seberapa pun lagu Seberapa Pantas aku putar. Seberapa itu pula aku gagal dan terus jatuh pada konklusi bahwa jatuh cinta padamu adalah jatuh yang pantas.

Aku jatuh cinta padamu karena aku sudah lelah jatuh cinta pada orang yang salah. Entah itu melepas kata sayang pertama pada perempuan yang tidak tahu di mana rimbanya. Atau melepas ciuman pertama pada perempuan yang tidak malu mencium di belakang. Kamu bukan mereka. Kamu orang yang benar.

Aku jatuh cinta padamu karena aku ingin menjadi lebih dari sekadar penikmat senyumanmu. Jujur, aku ingin menjadi pemilik senyum itu. Lebih jujur lagi, Aku ingin menjadi penyebab senyum itu.

Aku jatuh cinta padamu karena sebuah misteri, yang kata Gie, tidak satu setan pun tahu.

Aku jatuh cinta padamu karena asaku putus untuk berharap. Bahwa kelak di masa depan, pada waktu tertentu, kamu sadar akan hadirku.

Aku jatuh cinta padamu karena kamu satu-satunya orang yang sadar bahwa sama seperti surat ini, aku adalah orang yang humoris di awal jumpa tetapi perlahan melankolis di akhir pisah.

Aku harap semua karena yang aku berikan dalam surat ini dapat menjelaskan betapa cinta aku padamu. Karena jika sebelas kata karena tidak mampu menyadarkan jiwa yang keblinger, mau tidak mau, senjata harus berbicara satu bahasa yang lebih tinggi.

Aku mohon jika kamu sudah sadar, entah dari anggur merah, jamur ajaib, atau zat-zat nakal terlarang lainnya, balas surat ini, ya?

 

 

Salam hangat,

 

Boy.

 

 

25 Puisi Untuk Twitter

21 puisi untuk twitter

 

Seperti janji saya tanggal 20 Januari lalu, berikut saya tuliskan puisi untuk masing-masing orang yang memberikan like pada cuitan saya tempo hari.

Screenshot_2018-01-24-15-09-55

Saya hanya menuliskan 25 puisi, ini lebih banyak dari janji saya yang hanya ingin menulis 20 saja. Bukan bermaksud memilih kasih, tetapi kesungguhan menulis puisi tidak bisa dipaksakan hanya untuk sekadar memenuhi permintaan pasar.

@almiraghaisani, @rifqiu, @avisena9620, @tietoikhsan, @berliaanisa, @mandelashi, @fakhriyanugrah, @graciograce, @nabilareysa, @rayshasitompul, @_aldynov, @edwardketaren, @saputrantara, @I_agung, @jethrojulian, @stevenidries, @danabstr, @rdtyario, @aldrinoo, @kkpanjaitan, @simplyraka, puisi-puisi ini untuk kalian. Silakan nikmati sembari mencari mana milik kalian masing-masing (smile).

 

Trrrrrrrrrrrrr

Bukan sulap bukan sihir
Bukan nenek dengan tongkat
yang menyebar buhul-buhul
Aku seorang yang bekerja
membuat sesuatu abadi

 

Aku Bukan Kalian

Ayat suciku hanya milikku
Aku tidak memaksa kalian percaya
Sana seperti kalian tidak memaksaku

Intrepertasiku memang berbeda
Tidak butuh persetujuan kalian
Sama seperti seperti aku tidak setuju
dengan tataan intrepertasimu

Dinding pembatas kita biar terus ada
Sebagai tanda bawa aku bukan kalian

 

Merdeka Atau Mati

Merdeka ialah hak segala bangsa
Bangsa melayu, cina keturunan, dan kulit hitam
Senjata laras panajang bukan penghalang
Seragam loreng-loreng tidak mengintimidasi kami
Simpan saja jabatan, buaian, semua tawaran kalian
Bangsa yang gandrung kemerdekaan
tidak takut tidak terbeli

 

Perangku Semalam

Bukan angkat senjata
tetapi hanya tetikus di atas meja
Bukan demi nama bangsa
tetapi hanya ingin nilai A
Perangku bukan perangmu
Namun bukan berarti tidak lebih penting

 

Penjara

Garis tipis cahaya masuk dari jeruji kamarku
makanan yang berbeda dari orang kebanyakan
Senyuman tidak hadir setiap saat
Sama seperti kunjungan tidak datang
pada setiap hari minggu

Daripada terlalu sibuk untuk
membangun citra yang bijak
Aku lebih memilih pergi dari
ladang tempat orang menjual mimpi

 

Jam Empat di Kantor

Kopi empat puluh ribu temanku
Layar empat belas inci pemandanganku
Baju empat lapis selimutku
Mana sempat aku berpikir
Bahwa tempat ini kuburanku

 

Utopia

Pemerintah menjadi tukang perintah
Bukan hanya Kristus, Presiden pun dikultuskan
Badan menerjang, timah bersarang
Bagimu distopia, bagiku utopia

 

Keadilan

Bicara adil tidak semudah bicara timbangan
Berapa banyak dosa, kata , khilaf, dan hikmah
Adil adalah konsep abstrak milik semesta
yang kerap diterjemahkan salah oleh manusia

Ibadah pagi, siang, sore, malam, shubuh
tidak serta-merta membuat orang suci
jika ia mati di rumah bordil
kata manusia

Zinah, khamr, musryik sejak lahir
tidak begitu saja membuat orang hina
jika ia mati di jalan kemuliaan
sabda Tuhan

Seribu maaf tidak akan menghapus satu dosamu
ujar dewi keadilan

 

Lotere Kelahiran

Hitam, putih, kuning, coklat
ada sejak tangis pertama
Bukan maksud melawan takdir
tetapi apakah salah jika yang putih
ingin hidup bertingkah sebagai hitam?

 

Kata Si Miskin

Angka harapan hidup kecil, katanya
Si pembunuh masal hidup sampai melihat cicit
Pendapatan kecil, katanya
Puluhan juta habis di botol sampanye
Negara miskin, katanya
Kata siapa?

 

Payung Hitam

Ada di pemakaman
Ada di pengasingan
Ada di jalan tempat
orang menuntut keadilan

 

Batas Kosong

Dimulai dari sini

 

 

 

lalu

Berakhir di sini.

 

Interaksi

“Roti coklat isi keju satu”
“Sembilan ribu”
“Ini sepuluh ribu, tidak usah kembali”
“Terima kasih”
“Kembali kasih.”, besok kita kencan lagi, ya?

 

Asas Praduga Bersalah

Sebelah mata tertutup malu
berlayar di sungai dengan perahu
maju, maju, sampai tahu-tahu
aku tenggelam sebelum diketuk palu

 

Lebih Dari Agama

Kepak-kepak punggungmu
Walau milikmu tidak bersayap

Sepak-sepak kakimu
Walau punyamu hanya sebelah

Sorak-sorak suaramu
Walau gelegarnya tidak terdengar

Arak-arak jagoanmu
Walau dia tanpa piala

 

Senggama

Dosa seorang ibu adalah melahirkan
anak haus seks
tanpa memikirkan cinta.

Lebih dosa lagi adalah anak
terlahir untuk menjadi haus
cinta namun tidak memikirkan seks.

Terlebih lagi jika mereka
saling bersetubuh.

 

Budak-budak

Wajah ke bawah
Mata sayu hitam
Sebelah tangan menggenggam
Kotak layar hitam

 

Menikah

Sah?
Sah!

 

Beda Kasta

Namanya Joko seorang dengan kemampuan
merubah imajinasi jadi nyata
Namaku Steven, orang yang
kenyataannya terasa seperti imajinasi

 

Bulan November

Dahan ada untuk menjaga daun
agar tidak terhempas helai angin
Saling berpegang erat sampai
kemarau datang. Daun lepas
agar pohon tetap hidup

 

Rintihan

Oo Aa Ee
aA iI uU eE oO
Orang-orang aku asuh. Eh, enakan
anjing-anjing ini. Ia utusan untuk
Emansipasi elitis. Oh, oala.

 

 

Pusaran Moshing Malam Jumat

Processed with VSCO with b5 preset

 

“Menyatu dengan seorang/sekelompok musisi adalah ketika seseorang merasa bahwa ia/mereka menciptakan dan memainkan lagu untuk dan hanya untuk dirinya sendiri”,

Alexander Edward Ketaren

 

Waktu SMP, dengan kemeja putih berlengan pendek ditemani celena biru tua yang juga pendek, saya sering bermain musik. Bersama tiga teman satu sekolah, saya membuat band dengan nama Suicide by Shotgun. Band tersebut dipengaruhi dengan punk rock, punk melodic, dan sedikit pop punk. Kiblatnya adalah Greenday dan Superman Is Dead.

Ironisnya, walaupun tiga tahun menyembah dua band tersebut, kami berempat belum sama sekali pernah untuk datang dan menyaksikan baik Greenday maupun SID.

Nuansa nostalgia masa SMP muncul ketika Edo berkicau di Twitter. Ia mengutarakan rasa kangennya mendengarkan lagu SID setiap hari. Kemudian Aryo menyaut dengan memberikan ajakan untuk menonton konsernya. Melihat kesempatan untuk menonton band yang kebetulan jadi pengaruh besar di aliran band saya saat SMP, saya ikut menyaut dalam pembicaraan itu. Akhirnya dari saut-sautan kicauan di Twitter, kamis kemarin saya Aryo dan Edo berangkat nonton SID di Jiexpo Kemayoran.

Sebelum masuk ke dalam venue, kami bertiga mengobrol di parkiran sembari ditemani dengan sebotor anggur. Saat itu saya merasa benar-benar merasa seperti anak punk. Mengobrol ngalor-ngidul, merokok ngemper di pinggir jalan, dan tentu tidak lupa dengan kehadiran anggur merah bersedotan dua di dalam plastik kresek hitam.

Panggung di dalam tidak begitu kecil. Menurut saya cukup besar untuk tiket masuk yang hanya berharga tiga puluh ribu rupiah saja. Luasnya dapat membuat performer di atas melakukan aksi panggung jalan ke sana ke mari. Lengkap juga dengan lampu sorot warna-warni yang menambah kesan megah panggung tersebut.

Kami bertiga datang terlalu cepat. Masih lebih dari satu jam kemudian SID naik ke atas panggung. “Ah, nonton band sebelum SID dulu aja deh, daripada nanti susah maju ke depan”, begitu pikirku.

Kami bertiga menonton Endank Soekamti. Nama band ini familiar sekali di telinga saya. Namun jujur, saya belum pernah mendengar lagu-lagu mereka dengan seksama. Berkat nasehat teman saya yang sudah mendapat gelar Haji dalam urusan pentas musik, saya berdiri di tengah untuk mendengarkan band ini. Karena sesungguhnya, urusan belakangan tahu lagunya atau tidak. Dengar di konser dulu, baru tahu kemudian.

Processed with VSCO with  preset
Siraman air dari selang Damkar tidak mampu menjinakkan liarnya penonton

Rasa-rasanya budaya jogja amat kental saat vokalisnya naik ke atas panggung. Saling menyapa ke penonton, interaksi yang tidak terasa dibuat-buat. Persis seperti saat saya menonton Sheila on 7 waktu SMA dulu. Mungkin itu juga yang membuat penonton-penonton mereka yang jauh datang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan tentu Yogyakarta totalitas dalam menikmati lagu-lagu yang mereka bawakan.

 

Waktu berlalu tanpa pernah menunggu / Gunakan dia dengan bijaksana / Waktu yang hilang tak kan pernah terulang / Janganlah terbuang sia-sia //

Waktu – Endank Soekamti

Karena menonton dari barisan tengah, saya dapat melihat mosh pit saat lagu neraka dimainkan. Belasan orang saling berpegang tangan membentuk lingkkaran lalu berputar searah jarum jam. Di tengah pusaran itu belasan orang lainnya saling berdansa membenturkan badan masing-masing ke badan lainnya. Kontak fisik seolah memberikan mereka energi untuk tetap bergerak. Mungkin konsepnya sama dengan pergerakan partikel benda padat saat diberi energi panas.

Dan tak ada air mata yang tersisa semua sirna / Semoga kau di neraka bersamanya / Semua harus kurelakan untuk apa kusesalkan / Putus tiga cintaku tumbuh sejuta //

Semoga Kau Di Neraka – Endank Soekamti

Kami bertiga tetap menjaga jarak dengan pusaran itu. Selain ingin menyimpan tenaga untuk SID, saya pribadi takut dengan crowd seperti itu. Rawan sekali dengan tindak kejahatan. Terlebih sebelumnya saya menyaksikan pencopet yang tertangkap dilempar melewati barikade untuk kemudian diamankan.

Begitu Endank Soekamti selesai bermain dan kerumuman depan panggung sudah berkurang, kami bertiga langsung bergegas menyusup masuk ke depan. Saya dan Aryo kalah cepat dengan Edo. Ia dapat tempat bagus tepat di barikade depan. Sementara kami berada tepat di belakang dia.

IMG_20180107_144610
Bonus yang didapat Edo karena menonton di barisan paling depan

Saat yang ditunggu datang. Stage kosong dan lampu dibuat redup tanda SID akan naik ke atas panggung. Sayup-sayup terdengar suara piano awal lagu Ketika Senja. Penonton berteriak menyambut penampilan yang mereka nanti. Jerinx masuk ke panggung dengan sepeda. Sesaat setelah ia duduk di belakang drum, Eka Rock dan Bobby Kool ikut masuk ke panggung.

Bulan dan Ksatria dikumandangkan setelah lagu Ketika senja selesai. Penonton mulai menunjukkan aksi-aksi mereka. Berdansa, bernyanyi, bermandikan keringat mengikuti tempo cepat hentakan snare drum. Saya terdorong makin ke depan karena orang-orang di belakang merenggangkan barisan untuk membuat mosh pit. Saya memilih berteriak di depan sembari merangkul orang di kiri dan kanan saya. Masih terlalu dini untuk bergabung ke dalam pusaran itu.

 

Tinggi menjulang, menembus peradaban / Melewati waktu melawan pembenaran / Dan kini Bulan menantikan gemilang / Tangis, air matanya tlah hilang //

Bulan dan Ksatria – SID

Lagu demi lagu terus berkumandang. Penonton-penonton di belakang saya seakan tidak merasa lelah terus melakukan gerakan mengikuti irama tempo yang cepat. Malam itu kami dihajar habis-habisan dengan lagu-lagu yang bersemangat.

Petugas pemadam kebakaran terus menembakkan air ke langit, agar tidak ada orang yang pingsan karena kehabisan oksigen. Rambut, baju, celana, dan bahkan isi kantung yang basah sama sekali tidak menjadi alasan untuk memadamkan api semangat kami. Kami muda dan berbahaya!

Selain membawakan lagu-lagu tempo cepat, malam itu SID juga membawakan lagu dengan tempo lambat. Lagu Jadilah Legenda dibuka dengan teriakan barisan belakang penonton yang memerintahkan barisan depan untuk duduk. Memang lagu ini ini lebih khidmat dan khusyuk jika semua penonton duduk. Dilanjutkan dengan lagu Sunset di Tanah Anarki yang masih dengan posisi duduk yang sama. Suara perempuan di lagu itu diisi oleh Endah Widiastuti. Beberapa penonton yang jahil berteriak untuk menyanyikan lagu Liburan Indie. Tentu saja Endah tidak menggubris teriakan tersebut. Malam itu adalah malam milik SID.

Desing peluru tak bertuan / hari-hari yang tak benderang / Setiap detik nyawa ini kupertahankan untukmu / Alasanku ada di sini / dan parasmu yang kurindukan / Di neraka kan kumenangkan / hariku bersamamu //

Sunset di Tanah Anarki – SID

Pusaran moshing malam itu ditutup dengan lagu jika kami bersama. Saya sudah hilang kendali. Bertelanjang dada saya ikut moshing dengan orang-orang di barisan belakang. Seperti terhipnotis oleh musik yang kencang, badan saya bergerak dengan sendirinya. Saya perhatikan orang-orang melakukan body surf tanpa keraguan. Sempat saya terjekut melihat perempuan berhijab ikut melakukan body surf. Ternyata pembungkus di kepala bukan alasan untuk tidak menikmati musik punk.

Processed with VSCO with  preset
Penonton menjelma tanaman yang disiram-siram

Setelah menonton pentas musik saya mampir ke Lucy in The Sky untuk hadir di acara Bayu. Kontras sekali musik di sana, telinga saya sakit dibuatnya. Gerah dengan electronic dance music, saya turun ke bawah. Seraya menunggu Bayu selesai dengan acaranya, saya membunuh waktu dengan merencanakan gigs-gigs musik selanjutnya.

Bagimu kebebasanmu dan bagiku kebebasanku

chain-2027199_960_720

Kemarin siang linimasa Twitter saya dipenuhi oleh caci maki ke sebuah toko coklat daring bernama Chocolicious. Toko tersebut menolak untuk mengirimkan coklat dengan ucapan selamat hari natal di dalamnya. Padahal banyak calon pembeli yang ingin mengirimkan ucapan natal lewat coklat yang dijual di toko tersebut.

Sebuah gambar diunggah ke dalam akun Instagram Chocolicious untuk menjelaskan bahwa mengucapkan natal bertolak belakang dengan kepercayaan agama yang mereka anut. Dengan itikad baik, toko itu menawarkan alternatif berupa kartu ucapan yang akan terlampir di dalam paket. Sehingga konsumen dapat menuliskan sendiri ucapan natal yang ingin mereka kirim.

Pada saat itu, respon dari warganet begitu keras. Hinaan, kecaman, dan bahkan pemboikotan digadang-gadangkan guna memberi sanksi sosial pada Chocolicious. Semua satu suara bahwa tindakan toko tersebut adalah bentuk dari diskriminasi agama, dalam hal ini adalah umat kristiani yang sedang merayakan hari raya natal.

Beberapa orang yang saya ikuti di Twitter mempunyai pendapat lain.

Salah seorang senior saya di FH UI berpendapat bahwa boleh-boleh saja menolak melakukan sesuatu berdasarkan suatu kepercayaan yang dalam hal ini adalah agama. Kebebasan mengekspresikan agama juga menjadi kebebasan yang harus dilindungi dan tidak boleh dikecam jika dijalankan. Orang lain yang saya ikuti berpendapat senada dengan senior saya. Baginya toko tersebut bebas untuk menolak pesanan, sebagaimana konsumen bebas untuk tidak membeli coklat dari toko itu.

Sebagai pengamat, saya perpendapat titik masalah utama dari kejadian ini adalah  kurangnya pemahaman tentang sejauh mana kebebasan dapat bekerja.

Sampai mana orang atau institusi memiliki kebebasan untuk bertindak dan berekspresi? Apakah seseorang boleh bebas menolak untuk melakukan sesuatu jika bertentangan dengan kepercayaan yang ia anut? Apakah seseorang boleh bebas meminta perlakukan yang sama dengan apa yang diterima oleh orang lain? Jika kedua kebebasan itu saling bertemu, kebebasan mana yang terlebih dahulu harus dipenuhi?

Berbicara tentang kebebasan mari kita cari kasus-kasus sejenis yang juga menyinggung masalah kebebasan.

Dalam eksperimen Seattle, peneliti mencoba memetakan bagaimana pengemudi Uber di Seattle melakukan seleksi profil penumpang berdasarkan ras. Pengemudi melakukan pembatalan pesanan jika melihat calon penumpangnya orang kulit hitam. Seleksi ini dilakukan pengemudi berdasarkan nama atau foto calon penumpang. Ini berakibat pada waktu tunggu untuk mendapat pengemudi Uber yang lebih lama bagi orang kulit hitam ketimbang orang kulit putih.

Terdapat dua kebebasan bertabrakan. Kebebasan pengemudi untuk mendapat perasaan aman untuk melayani penumpang yang mereka anggap memberikan rasa aman bagi mereka dan kebebasan orang kulit hitam untuk mendapat perlakukan sama dengan orang kulit putih.

Craig dan Mullins adalah pasangan sejenis yang menikah di Colorado. Mereka memesan kue pernikahan di toko bernama Masterpiece Cakeshop. Namun ketika pemilik toko mengetahui bahwa pemesanan kue dilakukan untuk pernikahan sejenis, pesanan langsung ditolak. Masterpiece Cakeshop beralasan bahwa membuat kue pernikahan untuk pasangan sejenis berarti ikut merayakan pernikahan sesama jenis. Mereka menolak untuk ikut merayakan sesuatu yang bertentangan dengan nilai yang mereka percayai.

Lagi-lagi dua kebebasan bertabrakan. Kebebasan toko kue untuk memilih pelanggan berdasarkan prinip yang dianut dan kebebasan pasangan homoseksual untuk mendapat perlakuan sama dengan pasangan heteroseksual dalam hal pembuatan kue pernikahan.

Menurut saya kebebasan orang atau institusi dalam bertindak dan berekspresi berbatas pada pelanggaran kebebasan orang lain. Setiap orang bebas melakukan apa saja selama kebebasannya tidak mengganggu kebebasan orang lain.

Kebebasan pengemudi Uber dalam memilih calon penumpang berbatas pada kebebasan orang kulit hitam dalam mendapat perlakuan sama dengan orang kulit putih. Pengkategorian orang pemberi rasa aman tidak seharusnya didasari oleh warna kulit. Karena terlepas dari warna kulitnya, semua orang bisa menjadi orang jahat dan memerikan perasaan tidak aman.

Kebebasan Masterpiece Cakeshop dalam memilih pelanggan berbatas pada kebebasan pasangan homoseksual untuk mendapat perlakuan yang sama dengan pasangan heteroseksual. Membuat kue untuk pernikahan sejenis tidak serta merta berarti ikut merayakan pernikahan tersebut. Yang ikut merayakan adalah orang-orang yang ada di pernikahan itu.

Kebebasan Chocolicious dalam mengekspresikan kepercayaan agamanya berbatas pada kebebasan umat kristiani untuk mendapat perlakuan yang sama dengan umat agama lain. Chocolicious tidak memberikan ucapan natal apa-apa. Karena sesungguhnya yang memesan coklat lah yang mengucapkan natal. Sama seperti kue permintaan maaf yang diberikan pria pada wanita. Bukan berarti si penjual kue yang meminta maaf.

Berhenti membeli coklat di Chocolicious bukanlah solusi. Karena berhenti membeli berarti membiarkan. Pembiaran atas ketidaksetaraan adalah sebuah dosa. Pembiaran secara terus-menerus adalah pembiasaan. Perilaku diskriminatif tidak boleh dibiasakan. Karena ketika itu menjadi kebiasaan, kita semua akan sampai pada kebinasaan.

Ada Apa Dengan Semester Tujuh?

fhui

 

Terdapat tujuh hari dalam satu minggu. Dalam geografi, terdapat tujuh benua di bumi ini. Ada tujuh dosa mematikan di penjelasan Alkitab. Dalam Islam ada tingkatan neraka, surga, dan langit juga ada tujuh. Lalu ada tujuh nada berbeda dalam satu oktaf nada. Dalam pengetahuan alam, terdapat tujuh benda langit yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Menimbang banyak sekali hal-hal tentang angka tujuh yang belum saya tahu, timbul sebuah pertanyaan di benak saya. Ada apa dengan semester tujuh?

Siang tadi FH UI 2014 melakukan foto angkatan. Mengingat banyak mahasiswa yang akan lulus di akhir semester ini, harus ada sebuah momen yang mengabadikan kebersamaan angkatan secara utuh. Setidaknya ada percobaan untuk mengulang kejadian seluruh angkatan berkumpul seperti saat menjadi mahasiswa baru dulu. Walaupun baik saat menjadi mahasiswa tingkat tahun pertama, maupun terakhir, berkumpul lengkap satu angkatan hanyalah isapan jempol belaka.

Saya tidak ikut berfoto bersama angkatan saya. Ketika foto diambil saya sedang berada di kamar mandi untuk berganti kemeja putih. Pada awalnya saya kesal, tetapi ketika sadar bahwa tidak ada orang yang akan sebegitu memperhatikan foto di atas untuk mencari wajah saya, rasa kesal itu tiba-tiba saja hilang. Lagi pula siapa yang akan mencari wajah orang yang bukan wajahnya sendiri? Satu-satunya wajah yang dicari saat melihat foto ramai-ramai adalah wajah sendiri bukan? Manusia memang makhluk yang egois.

Tanpa mengurangi semagat rasa perpisahan di semester tujuh ini, saya ingin merangkum apa saja yang terjadi di semester yang katanya menjadi semester penuh buku, pesta dan cinta.

Ada Praktek Pengadilan Tata Usaha Negara (Praptun) di semester tujuh. Ini mata kuliah praktek terakhir dari serangkaian mata kuliah praktek hukum di fakultas hukum UI tercinta ini. Mata kuliah di mana setiap orang direpotkan dengan latihan setiap hari yang memakan waktu berjam-jam. Pun waktu terasa lebih habis untuk melakukan perdebatan perkara siapa yang benar dan siapa yang salah, bukan apa yang benar dan apa yang salah. Terlepas dari problematika dan segala racun di dalamnya, saya amat bersyukur atas pengalaman untuk menjalankan simulasi sidang TUN bersama kelompok Praptun saya.

20171126_171213_0259
Kelompok yang lebih banyak dinamika ketimbang subtansi hukum

Ada rutinitas baru di semester tujuh. Selama semester tujuh, setiap hari, sore atau malam, saya berolahraga. Kebiasan ini saya mulai saat liburan semester genap ke ganjil. Saat itu saya hanya mengambil tiga mata kuliah di semester pendek. Merasa bosan dengan keseharian yang monoton karena hanya kelas dua hari dalam seminggu, saya mencari kegiatan yang menyibukkan saya. Awalnya hanya lari pagi setiap hari. Kemudian berkembang menjadi olahraga berat badan tubuh di taman kota dekat rumah saya. Lalu di semester tujuh ini, menjadi olahraga beban di pusat kebugaran dekat indekos saya.

6913494621070
Dibutuhkan percobaan berkali-kali untuk menciptakan foto dengan wajah tidak lelah seperti ini

Ada cinta di semester tujuh. Selama ini cinta menghiasi semester-semester saya sebelumnya. Namun cinta itu hanya sebatas cinta terhadap ibu-bapak, teman, dan orangtua. Semester tujuh ini memiliki kisah cinta yang berbeda. Sebuah pertemuan yang bahkan tidak satu setan pun tahu akan terjadi. Semesta seperti punya rencana tersendiri untuk menggerakkan keajaiban kosmos sehingga mempertemukan dua orang yang seharusnya tidak bertemu. Kedua orang itu bernama Kristin dan Dewa. Berawal dari saling tatap semester lalu di kantin indekos saya dan Ilman. Kemudian bertemu kembali saat konser musik. Lalu mengobrol secara rutin. Akhirnya selama hampir dua tahun saling tahu keberadaan masing-masing, Kristin memberikan warna baru dalam hidup Dewa.

2017-11-05 11.43.47 1
Si baju merah dan belang-belang saat menghadiri 14th Justice Art Music on Stage November lalu

Ada musik di semester tujuh. Sejak semester satu saya ingin sekali punya grup musik. Terakhir saya memiliki grup musik saat masih duduk di kelas dua SMP. Grup musik saya menganut aliran yang memang menjadi aliran populis di kalangan siswa SMP seumuran saya pada tahun 2008, punk. Saat itu saya menjadi pemain gitar. Terlepas dari cara bermain gitar dan suara yang minim, masih teringat jelas perasaan bahagia saya ketika berteriak di atas panggung diiringi ritme punk yang keras. Kebahagiaan ini terulang kembali. Mahasiswa tahun terakhir FH membentuk grup musik untuk tampil saat inaugurasi mahasiswa baru. Masiu dengan cara bermain gitar yang minim, saya merasakan kebahagiaan naik panggung yang sudah sembilan tahun tidak saya rasakan.

DSC00130
Penonton paling partisipatif seantero FH UI yang dipimpin oleh Boeng Edward Ketaren

Ada teman baru di semester tujuh. Berawal dari makan di Sasari karena rasa lapar malam hari setelah olahraga. Saya mengobrol dengan orang-orang yang sebelumnya tidak saya pikir dapat terkoneksi secara intelektual pada saya. Akhirnya mengobrol di Sasari menjadi rutinitas saya bersama mereka. Sebelumnya ini hanya rutinitas saya, Ilman, dan Dewa saja. Perlahan tapi pasti, jumlah anggota obrolan malam di Sasari makin banyak. Sebuah diskusi lintas angkatan yang dilaksanakan lewat jam tengah malam. Semester dua dulu, karena didominasi obrolan kelam kehidupan malam, Ilman mengistilahkan obrolan Sasari sebagai ngedeps (nge-depresi). Sekarang karena obrolan telah menyerempet topik kebahagiaan, Ilman mengganti istilah ngedeps menjadi diskotik (diskusi kopi cantik). Memang dalam hidup harus ada perkembangan.

1507091933668
Foto ini bagus karena diambil oleh Ilman dengan kamera analognya

Menutup buku semester tujuh ini harus disertai dengan doa agar buku semester delapan menghadirkan cerita yang tidak kalah menarik dari buku semester tujuh. Setiap pesta yang ada dapat dijadikan memori baik atau nasehat saat nanti kita sepuh. Lalu setiap cinta yang tercipta bisa menjadi kisah indah pengingat bahwa kita pernah muda.

20171213_171214_0006
Doakan agar abang-abang kantin atas ini jarang terlihat di kampus lagi ya #AKAR