Doa

doa

 

 

Kepada Tuhan,

 

 

yang namanya selalu menempel di dahi. Hamba sudah bosan berada di sini. Tolong pisahkan raga dan jiwa ini. Pindahkan hamba ke tempat dengan segala arti. Tempat dengan berbagai puja-puji. Bukan tempat hamba terus diuji.

Hamba bersujud setiap hari. Tengah malam hingga pagi. Terus-merus, lagi dan lagi. Namun apa yang engkau beri? Nestapa benci bibit busuknya hati. Sampai kapan hamba harus berdiri? Hanya ada untuk menerima caci dan maki.

Mereka bilang engkau maha segala. Zat paling kuat dengan penuh kuasa. Coba alirkan racun paling berbisa. Agar hilang semua duka. Hingga tersisa sedikit cita. Setidaknya dapat menjadi cerita untuk mereka yang terus menerka-nerka tentang alasan kita semua ada.

Jika engkau mendengar doa hamba. Bawa pergi hamba dengan seketika. Tidak masalah mau surga atau neraka. Asal hamba tidak berada di dunia.

 

 

Dengan sedikit mengancam,

 

Hamba-Mu yang paling taat.

Advertisements

Artificial Interaction

cell-phone-cartoon-illustration-hand-drawn-animation-transparent-background-51556420

 

 

 

At 1:00 a.m. he grabs his phone and start typing.

 

Do you have a band-aid?

Hmm, I don’t think so
Why?

Because I scraped my knee when I fell for you
*wink*

Hahaha
I got alcohol tho
They said it cures any kind of wounds

My father said that alcohol is not the answer to my problems
But at least it makes me forget the question

Hahaha I really have to agree with your father
So tell me Boy what do you do?

I breathe awesomely through this vain world
And sometimes rule the kings landing as if I’m protecting the realm

Deep

That word usually followed by “and it feels good”
What about you, Mel? What do you do?

Hahaha, I see someone’s not just good with his mouth, huh?
Oh, me? Just the usual. I wake up and go on with my life as the gift that I am to everyone around me
I’m also secretly wonder woman but just keep that one down low shall we?

I can do much with my mouth tho
There are so many things human mouth can do. Why waste it on talking?
Your secret safe with me

I know right
Like eating for example

And licking
I mean, licking an ice cream

And sucking
Like sucking a lollipop of course

You know what sucks?
Vacuum cleaner
and life, of course

Oh that one without a doubt

So tell me
What you really do?
Besides being a wonder woman by night

By night? Please, I’m on wonder woman mode 24/7 ok
Hahahaha, kidding
I’m an SEO

Oh, I’m so sorry

What about you?

I’m just a typical law student
Nothing special
I wish I was Bruce Wayne tho
A multimillionaire by day, badass vigilante by night

Well, if you were actually Batman then I don’t think you’d tell me would ya?

Oh, honey, I’m no Batman
I’m just another side-kick
Read my name. Boy
As if I were a superhero, the name would be Super Boy
Not a fucking Super Man

Riiiiight
How did I even miss that one?

Random thought
I always love Anderson’s colour palette
Heartwarming

Yes
It’s also beautifully synchronized

And his symmetrical signature
That’s how movie maker should put an effort in every shot
Because you know, every shot is a painting

Wes Anderson’s movies are all individual work of art
Anyone who disagrees with me can fight me

It’s all so chaotically reposeful
I wanna fight with you
But I don’t wanna disagree

Well, we could find something else we disagree on and fight about it cause you seem like you’re fun to fight with

Be careful with your words, Mel
I bite
I have one fight in mind that may please us both
*wink*

Who said anything about not liking bites?
Hahaha really, do I wanna know the answer?

Whoaa, someone is naughty
One word. Three letters. First is S and last is X
Take a guess
You have one shot

Ughh, this is so hard
Hmmm, idk, sux???
Cause I mean, life sux but Melissa sux better

“Ughh, this is so hard”
That has many interpretations
Hahaha, good one. But I’d prefer vacuum cleaner over you

Whoa, who said anything about me wanting to replace your vacuum cleaner, Mr?

I’m sorry, my mistake
Wait a second. where were we?
Oh, we can fight over something with S and X
It’s sax

Ah, damn it! I knew it was gonna be a sax

Hahaha, you should’ve said that
Anyway, let’s sleep

I know, my bad
Ok, on whose bed?

Who said anything about sleeping together?
But if you insist, I’d prefer your bed. I don’t wanna ruin mine

Hahaha us together? no one boo

But seriously, I’m going to sleep
And don’t forget to get your room clean, Melissa. We’ll do it in your bed tomorrow

Yeah, either way, I’m still pretty confident that I can use my mouth better than you do
Of course, to talk
Don’t worry, my bed and I are like Wes Anderson movies; chaotically reposeful
Good night, Boy


Next morning, with his head full of hazy memories, he read all the conversation. He smirked as if nothing happened.

Tiga Puisi Untuk Memelukmu Malam Ini

moon-hi

 

 

Dia

perempuan yang membuatku
ingin percaya lagi

ketika puisi tidak lagi berima
ketika lagu tidak lagi bersuara
ketika musik tidak lagi bernada

lagi-lagi aku melihat
tiga lagi tidak lagi tidak

 

Kapan Bertemu

Tidak masalah mau salah besar atau salah kecil.
Selama itu membuatku menjadi salah satu di antara salah banyak yang kamu ingat.

Tidak peduli mau bicara sinar matahari atau arah mata angin.
Selama mata kita berdua saling beradu saat kita saling melempar kata.

Selama selam-menyelam kita belum sampai pada dasar palung pikiran
Selama itu pula aku rela menunggu selama-lamanya.

 

Di Kasur, Lewat Tengah Malam

Mari kita coba berlogika
Menimbang-nimbang

Sampai kita berakhir pada kalimat berita
yang diikuti oleh sebuah kalimat tanya
Aku tidak punya apa-apa.
Apakah itu apa-apa bagimu?

Aku ingin memelukmu
Namun aku tidak punya lengan
Aku ingin bernyanyi untukmu
Namun aku tidak punya suara

Aku ingin kamu mencintaiku
Namun kamu tidak punya hati

Biarkan Saja Wu Kang menyelamatkan Chang E!

wpid-img_20140910_153235

 

“Dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir. Walau deritanya hilang, ingatan hal yang menyakitkan dan mengerikan tidak pernah hilang.”

Bagi anak SD dengan kebiasaan menonton TV sore-sore ketika lapangan bermain di komplek sedang sepi, kalimat tersebut terasa sangat dalam. Terlebih lagi, kalimat tersebut keluar dari Chu Pat Kay, seorang siluman babi yang bahkan tidak memiliki kharisma seseorang yang pantas berbicara tentang cinta. Di mana pada saat itu, cinta seakan menjadi hal eksklusif bagi mereka berparas rupawan.

Sedikit bercerita tentang latar belakang penderitaan cinta Pat Kay dan penderitaan cintanya. Sebelum ia menjadi siluman babi, Pat Kay adalah seorang panglima perang dengan paras rupawan. Ia memiliki segala yang diimpikan oleh prajurit kerajaan khayangan. Ketenaran, kekuasaan, dan kemewahan tinggal di langit ketujuh.

Namun dengan semua yang ia miliki, ia tidak memiliki cinta yang selama ini ia inginkan. Cintanya berada jauh di belahan dimensi lain. Ia mencintai Chang E, dewi khayangan yang tinggal di bulan. Namun tidak pernah ada kesempatan baginya untuk bertegur sapa dengan Chang E.

Sayangnya, kesempatan yang selalu ditunggunya siang dan malam datang di saat yang tidak tepat.

Chang E terjatuh dari bulan di depan mata Pat Kay. Sesaat sebelum Pat Kay melompat untuk menyelamatkannya, tiba-tiba Wu Kang, prajurit perang dari divisi lain, terlebih dahulu menyelamatkannya. Sekejap saja, kesempatan yang selama ini ditunggu Pat Kay hilang begitu saja.

Dengan rasa kesal dalam dada dan tekad untuk berkenalan dengan pujaan hatinya, Pat Kay bergegas ke ruang roda waktu khayangan. Berharap dapat memutar kembali waktu dan menciptakan kesempatan yang hilang sebelumnya.

Alih-alih mendapat kesempatan berkenalan, Pat Kay malah mendapat hukuman karena telah merusak pola waktu dunia.

Dimulailah kutukan penderitaan cinta reinkarnasi Pat Kay.

Kita semua pernah menjadi Pat Kay. Melakukan hal bodoh untuk bisa bersama orang yang dicintai. Melempar kesempatan untuk belajar SBMPTN untuk bisa menghabiskan waktu berdua dengan pacar. Membuang waktu mengerjakan tugas dengan mengobrol lewat telpon dengan orang  yang ingin dikenal. Menurunkan harga diri sendiri agar bisa menjadi orang kedua dalam hati orang yang bahkan belum tentu mencintai sebagaimana kita mencintainya.

Kita semua pernah ada pada titik di mana seakan tanggungjawab dan beban lain tidak berarti jika dibandingkan dengan urusan hati. Karena dalam keadaan vakum, kita pikir kesempatan menjadi individu yang lebih baik akan percuma tanpa keberadaan orang yang tepat untuk diajak berbagi. Persis seperti Pat Kay yang berpikir bahwa menjadi panglima perang dengan segala kekuasaan, tidak terasa nikmat tanpa kehadiran Chang E.

Kita semua pun pernah terjatuh pada lubang reinkarnasi penderitaan cinta Pat Kay. Mungkin tidak seribu tahun lamanya, tetapi cukup lama untuk mengutuki betapa bodohnya tindakan melempar kesempatan, membuang waktu, dan menurunkan harga diri di masa lalu. Kita semua pernah menyesal akan apa yang telah dilakukan untuk sebuah alasan yang semu. Atau dalam beberapa kejadian, untuk seseorang yang semu.

Namun kita, yang sering melakukan hal bodoh atas nama cinta, mungkin tidak akan pernah ikhlas dengan semua yang terjadi. Mungkin ketika ditanya, jawaban kita tidak akan sejujur Pat Kay ketika ditanya oleh Sun Go Kong terkait perjalanan cintanya.

“Cintaku pada Chang E yang mendorongku untuk berbuat demikian, Kakak. Sampai saat ini aku tidak menyesali mencintai Chang E, walaupun cintaku bertepuk sebelah tangan. Sebab dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir.”

Seharusnya, dengan segala kemiripan kita dengan Pat Kay. Kita juga memiliki hati yang besar untuk ikhlas dengan apa konsekuensi dari tindakan bodoh kita. Kita harus punya cinta setulus Pat Kay jika ingin berbuat hal bodoh seperti dirinya.

Jika tidak, lebih baik biarkan saja Chang E kalian diselamatkan Wu Kang!

Reasons Why I Hate Nightclubs

maxresdefault

 

A friend of mine invited me to get wasted on a nightclub event. “Goodbye UN, Rob. Banyak cewe SMA.”, he said. I replied it with straight no. “Mager ah.”, I said. I took the invitation ticket for the sake of a good manner as a friend.

I’m not Nabi that opposes every practice which doesn’t in line with religious values. I drink alcohol. Do things that God forbids. I’m a sinner.

When it comes to alcohol, I prefer drinking it on a bar. All boys, getting wasted, full of laughter. Sometimes with good live music where all boys trying to follow the melody with their unsynchronized voice.

Alcohol and nightclub aren’t the perfect matches for me.

Spending the night wasting money just to hear noisy bass-drop music that even has no lyrics or if it has, the lyric just some people say same repetitive shits, is just not my kind of forte. Moreover, that kind of music usually comes with people who dance like they’re under influence of a substance or something. They don’t know what they’re doing.

Ok, enough of my ranting. Now let’s get into the real argument.

If some of you have the privilege of never been to a nightclub, I’ll give you some pictures of it. Nightclubs are often filled with two types of people. They who usually come to it and they who usually don’t. People who usually come to nightclubs are mostly horny men. On contrary, people who don’t are mostly innocent women who have no idea what men can do to her. Both will get drunk and do things. Things I hate. Things I despise. Kissing in public as if kissing just invented yesterday.

Now with those pictures, imagine few conditions below.

Take a closer look at the idea of nightclubs itself. They make policy that gives some advantages to women. If you’re a woman and you want to come early like two hours before midnight, you’ll get a free pass and often free drinks too. Amazing right? It’s a good place for women to hang out!

But here’s the tricky part.

Nightclubs offer them free drinks because they need some spenders. They need some horny men to waste their money on expensive alcohol that its price has been rigged. These horny men only want to spend if there are women around him. I don’t know if it has something to do with their broken masculinity or it’s just an act of ‘proving I can afford it and you can’t’ but that’s what they do.

I hate nightclubs because they use women as a tool to lure men to spend money on drinks. I don’t oppose physical interaction like kissing, making out, or grabbing each other genitals as long as it’s consensual, both parties enjoy and want it. But the thing is, alcohol prevents people from making rational decisions. In many cases, it even prevents people from doing rejections.

Imagining women get caught into a condition where they’re forced to do something against their will is the image I can’t bear. I’ve heard enough of stories where men put moves to make women passed out and do things to her. All of it involves alcohol. Some of it involves drugs. Those stories come from my friends, my colleagues, and my exes.

This fucked up massive scheme ends with guys telling their buddy what happened in a nightclub. To validate their stories, these little bastards often show some pictures when they’re doing it. I repeat. Pictures when they’re doing it. The more they have pictures, the more they will get famous and labeled as a womanizer among their friends.

I don’t want to participate nor contribute to that fucked up massive scheme. I decline to be in the same boat with those bastards. I don’t want to be associated with them.

For me, those type of bastards isn’t a womanizer. Womanizer has manners. They have balls to ask a girl politely and have the dignity to accept rejection. They don’t need mind-altering substance to make girls like them. Full guards on, state of rational thinking, and straight mind doesn’t prevent womanizer to approach girls.

But if being a womanizer means I should go to nightclubs and do all the drills above, I’d rather be an otaku who madly in love with anime character.

Mencintai Seharusnya Tidak Sesulit Itu

n1655901

 

“I told you. I told you that you don’t know this girl well enough. What if you show it to her and she doesn’t like it?”

“Dude, it’s just a movie.”

Marshall and Ted in How I Met Your Mother.

Saat itu Ted sedang berpacaran dengan Stella. Namun ketika mereka berdua sedang merencanakan pernikahan, Ted baru mengetahui bahwa Stella belum pernah menonton Star Wars, film yang mengubah hidup Ted, teman Ted saat titik terendah hidupnya. Percakapan di atas muncul saat Marshall, sahabat Ted, mencoba meyakinkan ted bahwa Stella bukan orang yang tepat.

Beberapa kali, dalam berbagai kesempatan, saya juga pernah hadir dalam pembicaraan yang membahas bahasan seperti yang Marshall dan Ted bahas. Entah dalam posisi Ted, Marshall, atau bahkan Stella.

Perkara hal trivial yang kemudian menjadi besar dengan mengatasnamakan kecocokan menjadi pasangan ini menjadi makin sering saya temui di sekitar saya.

“Dia gasuka baca buku, trus nanti gua mau ngomong apa sama dia?”

“Aduh, selera musik dia basic banget. Cuma ikut-ikutan temennya pula”

“Wah, mahal banget doi gayanya. Kayak trying too hard aja gitu”

Kemudian pertanyaan berselimut pernyataan dengan konotasi merendahkan lainnya.

Jika mengingat kembali cerita masa lalu, baik milik sendiri maupun orang lain. Saya melihat bahwa perkara film, buku, dan musik seharusnya bukan menjadi perkara serius. Terlepas dari seberapa menariknya berdiskusi dan saling berbagi refrensi terkait hal yang disuka, dalam menjalin hubungan emosional tidak melulu harus berbicara sebagai kaum intelektual. Meskipun memang begitu adanya.

Memang indah membuka obrolan dengan hujan pertanyaan tentang buku apa saja yang telah dilahap. Apalagi jika terdapat irisan buku-buku yang disuka. Saling bertukar pendapat tentang paragraf mana yang paling berkesan. Atau bagaimana interpretasi masing-masing terkait semiotika penulisan cerita. Namun apakah setiap hari seorang dengan hubungan kasih sayang akan berbicara tentang itu?

Kita akan berbicara tentang hari masing-masing. Bukan paragraf, tetapi kejadian apa yang paling berkesan. Bukan analisis semiotika penulisan, tetapi interpretasi tentang orang sekitar. Kita akan berinteraksi selayaknya manusia dengan hati.

Memang indah menukarkan refrensi musik-musik dengan genre sejenis. Saling sahut-menyahut bernyanyi saat lagu diputar. Pergi ke konser dengan jajaran pemusik yang sama-sama disuka. Ditutup dengan obrolan perkembangan skena musik band indie Indonesia.

Namun bukankah lebih indah jika kita dapat saling sahut-menyahut tentang kegelisahan masing-masing? Datang ke konser dengan nama musisi yang bahkan sama sekali belum pernah didengar. Mencoba paham musik dengan spektrum yang berbeda. Sebagaimana kita mencoba memahami pribadi selain diri sendiri.

Manusia dibagi dan terdefinisi oleh pikiran dan hati. Pikiran tercermin dari bagaimana seorang manusia terpapar ideologi, informasi, dan karya seni. Sedangkan pribadi tercermin dari bagaimana seorang dapat merasakan simpati, empati, dan belas kasih.

Obrolan penuh nuansa intelek didominasi oleh pikiran seorang manusia. Literatur yang dibaca mempengaruhi bagaimana seseorang merespon topik yang disajikan padanya. Komunikasi terjalin dengan saling melempar pendapat.

Afeksi dan ketulusan didominasi oleh pribadi manusia. Ini karunia pencipta yang ada pada setiap hati manusia. Mereka yang terus menjaga hatinya dapat merasakan apa yang orang lain rasakan. Dapat tulus mendengarkan apa yang disampaikan.

Dalam hubungan, apa yang terjadi tidak terlepas dari pikiran dan hati. Mereka yang beruntung, dapat mendapat pasangan yang memiliki keduanya sama besar.

Jika tidak dapat keduanya sama besar, saya pikir, lebih baik obrolan saya tidak berpikiran dibanding tidak berhati. Saya ingin berbagi kasih dan sayang dengan manusia, bukan dengan mesin logika. Seperti Billy Joel, saya tidak butuh pembicaraan penuh pengetahuan, saya tidak mau kita berusaha sekeras itu.

Mencintai seharusnya sesederhana puisi-puisi Pak Sapardi. Tidak butuh bahasa tinggi untuk membuat pembacanya melayang. Mencintai seharusnya semudah berbuka puasa setelah adzan maghrib. Tidak butuh macam-macam untuk melepas dahaga.

Mencintai seharusnya tidak sesulit itu.