Kehilangan Benda Berharga

kemeja pink

Berbicara benda berharga tidak melulu harus berkaitan pada benda bernilai materiil tinggi. Seperti pendefinisian harga pada umumnya, selain nilai materiil terdapat pula nilai immateriil. Berbeda dengan nilai materiil yang harus selalu diukur dengan nilai konkret mata uang, nilai immateriil dapat ditaksir dengan hal-hal yang tidak berhubungan dengan uang.

Bagi saya, nilai immateriil suatu benda berhubungan dengan sejarah dan kenangan.

Minggu lalu saya kehilangan kemeja lengan panjang berwarna merah muda saya. Kemeja tersebut rusak karena dicuci di penatu. Terdapat noda biru tua di sekitar kerah, lengan, dan sekitar kancing. Melihat pola noda yang terbentuk, saya berasumsi bahwa petugas penatu mencampur kemeja saya dengan jeans berwarna biru sehingga lunturan jeans tertinggal di kemeja saya.

Kemeja saya bukanlah kemeja dengan merk mewah, apalagi memiliki harga yang tinggi. Tidak memiliki nilai materiil yang pantas untuk digelisahkan jika kehilangan. Namun bagi saya kemeja itu memiliki nilai immateriil yang tinggi. Saya mendapat itu sebagai hadiah dari teman-teman saya pada ulang tahun saya yang ke-22. Saking berharganya kemeja itu, selama hampir dua tahun, saya baru empat kali mengenakan kemeja tersebut.

Pertama kali saat wisuda SMA seorang perempuan yang pada bulan April 2016 masih menjadi pacar saya. Kedua saat lebaran di Juni 2017. Ketiga saat menghadiri pernikahan anak dari sahabat Ibu di September 2017. Terakhir, saat sidang Praktik Hukum Tata Usaha Negara di November 2017. Selebihnya kemeja itu hanya terlipat rapih di lemari pakaian.

Momen-momen saya mengenakan kemeja itu menjadi momen yang terpatri dalam ingatan saya. Setiap melihat kemeja itu saya melihat wajah bahagia teman-teman saya saat pertama kali saya ajak makan bersama di rumah saya semester empat lalu. Wajah itu mungkin akan jarang terlihat setelah semester tujuh ini selesai. Kemudian terbayang juga wajah gembira perempuan yang tidak sabar ingin masuk kuliah. Atau susana pernikahan adat yang begitu kekeluargaan. Lalu yang paling saya suka, momen terakhir saya dan teman-teman mengambil mata kuliah praktek hukum bersama.

Kehilangan membuat saya sadar bahwa tidak ada yang abadi. Kemeja yang dijaga dengan hati-hati bisa saja rusak. Teman yang dulu ada tiap hari pada nantinya akan sulit dicari. Pacar yang dicintai setengah mati mungkin saja akan pergi. Momen keluarga saat lebaran dapat lekang oleh kematian. Kebahagiaan pernikahan dapat hilang oleh perceraian. Kemudian yang pasti, birunya seragam hakim sidang TUN akan pudar oleh harunya suasana setelah sidang skripsi.

Kenangan adalah kenangan ketika itu hanya ada di angan. Sejarah adalah sejarah ketika itu sudah menjadi setelah. Mungkin setelah rusak dan hanya ada di angan, nilai kemeja itu semakin saya rasa tinggi.

Mungkin.

Advertisements

Bahasa Emosi

imageedit_4_2599264319

 

Bahasa yang biasa kita pahami adalah huruf  yang dirangkai menjadi suku kata. Kemudian kumpulan suku kata membentuk kata. Lalu terakhir, menjadi sebuah kalimat. Kalimat ini menjadi hal yang kita pelajari sebagai bahasa. Terdapat kalimat berita yang diakhiri dengan tanda titik. Ada juga kalimat tanya yang diakhiri dengan tanda tanya. Yang terakhir sedikit lucu, walaupun diakhiri dengan tanda seru, kalimat itu bukanlah kalimat yang seru. Kita menyebutnya sebagai kalimat perintah.

Namun saya beranggapan bahasa tidak hanya dapat diekspresikan melalui kalimat.

Baru-baru ini saya menemukan bentuk lain dari bahasa. Obrolan tiba-tiba saya dengan seorang perempuan di kantin fakultas saya menyadarkan saya dengan suatu bahasa baru, bahasa kasih. Tenang, saya tidak akan menulis jauh-jauh dari judul. Bahasa kasih akan saya bahas di tulisan saya selanjutnya. Mari untuk sekarang kita bahas bahasa yang sesuai judul, bahasa yang sejak SMA saya gunakan, bahasa emosi.

Membahas bahasa emosi tidak sesingkat dan sesederhana lagu bahas bahasa milik Barasuara. Namun saya akan coba membuat ini sesederhana mungkin, walau tidak menjadi lebih sederhana.

Bahasa emosi adalah bahasa yang dikeluarkan dari luapan emosi dalam diri. Menjadi paham akan maksud sesuatu adalah tujuan dari bahasa. Bahasa emosi dapat membuat orang paham akan maksud sesuatu. Ada pesan yang dirasa. Ada pesan yang disampaikan. Ada pesan yang diterima. Seperti halnya dengan bahasa dalam teori komunikasi pada umumnya. Berbicara tentang apa yang ingin disampaikan, bagaimana menyampaikannya, dan bagaimana orang menerimanya.

Saat angka satu masih mengawali angka pada umur saya, bahasa emosi yang paling saya suka adalah bahasa marah. Semua orang paham akan maksud marah. Semua sepakat marah identik dengan ketidaksepahaman, permusuhan, atau kebencian. Walaupun datang dengan kata yang berbeda-beda, semua mengerucut pada satu tujuan, yaitu penolakan. Saya suka bentuk bahasa emosi ini karena bentuk ini adalah bentuk paling efektif. Tidak perlu tebak-tebakan buah manggis, semua tersampaikan secara konkret. Hemat dan tepat makna.

Mari kita bandingkan dengan lawan kutub dari bahasa marah, bahasa ramah. Walaupun ejaannya memiliki kemiripan, terjemahan dari ramah berbeda sekali dengan terjemahan marah. Marah bersifat absolut sedangkan ramah bersifat relatif. Saat orang marah, baik dia maupun lawan bicaranya, sama-sama paham bahwa marahnya berarti penolakan. Namun belum tentu ketika orang ramah, baik dia maupun lawan bicaranya, sepakat bahwa ramahnya berarti penerimaan.

Memang benar kata Joko Pinurbo, kelewat paham bisa berakibat hampa.

Karena hampa yang saya rasa baru-baru ini, saya menemukan bahasa emosi baru, bahasa sedih. Bentuk ini adalah bentuk yang unik. Berbeda dengan bahasa pada umumnya, bahasa sedih tidak bertujuan untuk membuat orang lain paham. Satu-satunya orang yang harus paham apa yang disampaikan oleh bahasa ini adalah diri sendiri. Pesan yang dirasa diri sendiri disampaikan memalui kesedihan ke diri sendiri juga. Proses komunikasi ini melahirkan pemahaman atas diri sendiri.

Saya rasa bahasa emosi paling cocok untuk saya adalah bahasa sedih. Sebuah bahasa yang hanya saya yang mengerti. Jika memang tujuan bahasa adalah menyampaikan pesan, maka orang saya ingin ajak bicara adalah diri saya sendiri. Tidak perlu bahasa ini membuat orang lain paham. Toh, kelewat paham juga akan membuat hampa. Tidak ada yang jelek dari bahasa ramah dan marah. Hanya saja saya tidak ingin orang lain ikut berbahasa dalam bahasan yang ingin saya bahas sekarang ini.

Karena buat apa mengerti orang lain, jika mengerti diri sendiri aja belum mampu?

Tentang Kedewasaan

hukum

 

Menjadi mahasiswa hukum mengajarkan saya mendefinisikan kedewasaan bukanlah perkara mudah. Jika dikaji secara yuridis, tolak ukur menjadi dewasa tidaklah mudah. Perlu bermacam-macam peraturan perundang-undangan untuk sekadar mensistesiskan definisi dari kedewasaan.

Mengacu pada pasal 330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dewasa adalah mereka yang sudah berumur 21 tahun atau sudah menikah. Sedangkan jika dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan, usia dewasa untuk menikah adalah 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan. Lantas timbul pertanyaan, definisi mana yang digunakan? Iya, saya tahu ini membingungkan. Saya pun bingung ketika pertama kali mendapat penjelasan tentang usia dewasa ini di kelas Pengantar Hukum Indonesia tiga tahun lalu.

Kebingungan belum berhenti di situ. Karena menurut hukum adat usia dewasa adalah saat ketika seseorang sudah kuat gawe (bekerja). Berbeda dari dua definisi sebelumnya, hukum adat mendalilkan bahwa kedewasaan tidak ditentukan dari umur. Namun dari seberapa mampu seseorang untuk berkontribusi dan menghasilkan sesuatu. Bagi mereka yang sudah bisa menunjukkan nilai guna dirinya dengan cara bekerja, dapat diartikan orang itu sudah masuk kategori dewasa. Benar-benar konsep yang abstrak dan bertentangan dengan ilmu hukum yang konkret. Sulit dimengerti!

Saat ini kita baru membahas definisi kedewasaan dari tiga sudut pandang hukum yang berbeda. Saya belum membedah tentang bagaimana undang-undang lain melihat kedewasaan. Bagaimana cara Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan, Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, atau bahkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia jauh lebih kompleks dibanding tiga sudut pandang yang pertama saya paparkan.

Sungguhpun benar kedewasaan bukanlah perkara mudah.

Di tahun ketiga saya menjadi mahasiswa hukum, saya tidak lagi merasa bingung dengan pendefinisian dewasa ini. Pola berpikir yuridis saya sudah terbentuk oleh tugas kuliah, penjelasan dosen di kelas, dan diskusi kopi cantik di warung dekat kampus. Merasa di atas angin saya pikir saya adalah seorang ahli dalam menentukan aspek kedewasaan.

Namun saya lupa bahwa memiliki kemampuan berpikir yuridis saja tidak cukup. Saya juga harus dapat berpikir sebagai seorang manusia. Berpikir bebas dan tidak terkungkung oleh peraturan perundang-undangan semata. Menganalisis dari berbagai aspek dan bukan sekadar pasal-pasal saja. Menyimpulkan berdasarkan pengamatan dan bukan mengutip penjelasan di belakang undang-undang kita.

Jika berpikir seperti seorang manusia, pribadi kodrati, yang punya akal dan hati. Saya merasa menjadi dewasa adalah ketika saya bisa menerima apa yang dapat diterima. Kemudian bisa menjalani apa yang dapat dijalani. Bersyukur akan apa yang dipunya bukan malah menggerutu atas apa yang tidak. Mengkesampingkan egoisme diri untuk dapat mengerti orang lain. Terus-menerus belajar untuk menerima apa yang diluar kendali diri. Termasuk segala nilai-nilai luhur yang tidak ada satu pun dapat kita temukan dalam peraturan perundang-undangan.

Ah, sekarang saya mengerti dalil yang coba dijelaskan oleh hukum adat.

Remember Remember The Fifth of November

 

“Voilà! In view, a humble vaudevillian veteran, cast vicariously as both victim and villain by the vicissitudes of Fate. This visage, no mere veneer of vanity, is a vestige of the vox populi, now vacant, vanished. However, this valorous visitation of a by-gone vexation, stands vivified and has vowed to vanquish these venal and virulent vermin vanguarding vice and vouchsafing the violently vicious and voracious violation of volition. The only verdict is vengeance; a vendetta, held as a votive, not in vain, for the value and veracity of such shall one day vindicate the vigilant and the virtuous. Verily, this vichyssoise of verbiage veers most verbose, so let me simply add that it’s my very good honor to meet you and you may call me V.”

Jatuh Cinta Adalah Jatuh Yang Paling Tidak Enak

Snoopyimage

 

Jatuh dari kursi adalah hal yang biasa. Terpelanting akibat salah duduk atau akibat kaki-kaki kursi yang tidak kokoh sering kali terjadi. Namun bagaimana dengan jatuh cinta?

Tidak semua orang bisa merasakan jatuh cinta. Orang-orang beruntung ini tidak akan merasakan perut mulas saat bertemu orang yang disayang, mata berkunang-kunang ketika melihat dia dari keramaian, atau bibir kelu kaku saat berbicara tatap muka dengan orang spesial.

Sebagian orang yang cukup sial untuk merasakan jatuh cinta bernasib lain. Mereka akan dirundung kecemasan setiap harinya. Mencoba menyelesaikan tebak-tebakan buah manggis tentang perasaan satu sama lain. Berusaha menerjemahkan sandi-sandi rahasia dari ucapan masing-masing pasangan. Serta yang paling sulit, secara konsisten mengerti dan menempatkan diri di posisi lawan argumen.

Waktu kecil aku merasa jatuh dari sepeda cukup membuatku menderita. Luka lecet di lutut menuntutku untuk berjalan dengan pelan agar tidak menimbulkan rasa sakit. Satu minggu terasa seperti satu bulan lamanya. Setelah sembuh, aku berjanji pada diriku sendiri agar tidak lagi kurang berhati-hati dalam bersepeda.

Setelah bertambah umur aku belajar bahwa jatuh cinta jauh lebih perih dibanding jatuh dari sepeda. Jangankan berjalan pelan, untuk bangun dari kasur pun enggan jika suasana hati tidak nyaman. Terlebih lagi, satu hari terasa seperti satu minggu jika menunggu waktu bertemu. Tidak pula hati menjadi lebih berhati-hati.

Terlepas dari semua perih yang aku dapat, entah mengapa, jika disuruh memilih jatuh mana yang paling aku mau.

Aku memilih jatuh cinta denganmu di setiap saat.

Panggung Sandiwara

Comedy_and_tragedy_masks_without_background.svg

 

Erving Goffman dalam teorinya yang bernama dramaturgi mengibaratkan kehidupan tidak lebih dari sebuah panggung sandiwara. Terdapat konsep-konsep pentas drama yang berkaitan erat dengan cara manusia bertingkah laku. Konsep paling relevan untuk dikaitkan dengan cara manusia berinteraksi dengan manusia lain adalah konsep pembagian daerah panggung.

Pemain sandiwara menampilkan apa yang ingin penonton lihat di depan panggung. Sama seperti manusia bertingkah seolah-olah ia adalah seorang pribadi yang ia ingin orang lain pikirkan tentangnya. Manusia akan memiliki tendensius untuk bermain peran yang berkepribadian ideal di depan orang lain. Sama seperti pemain sandiwara mendalami karakter yang bukan dirinya di hadapan penonton.

Namun pemain sandiwara tetap menunjukkan karakter aslinya di belakang panggung. Di mana orang-orang yang di sana bukanlah penonton. Orang tersebut adalah individu yang memang mengenal watak asli si pemain. Sama halnya dengan manusia yang berperilaku berbeda kepada orang yang tidak ingin mereka tanamkan pesan. Segelintir orang yang tidak perlu lagi dibuat kagum dengan kepribadian ideal. Dalam praktik dunia nyata, biasanya orang-orang ini adalah teman dekat atau keluarga. Tergantung dari proses sosialisasi yang lebih banyak.

Dewasa ini, dunia tempat kita tinggal perlahan menjelma menjadi sebuah panggung sandiwara. Di mana setiap orang adalah aktor dalam pentasnya masing-masing. Mereka bermain peran untuk membuat orang lain terkesima.

Mungkin itu cukup menjelaskan kenapa masing-masing dari kita hidup dalam kepalsuan perilaku yang dibuat.